Uncategorized

Pagi Berkabut

Jarum jam menunjukkan pukul enam lebih sedikit saat kami memasuki tol Ciawi. Hujan rintik pagi itu lama kelamaan berganti menjadi kabut yang cukup tebal saat kami melintas tol Bocimi. Hmm.. rasanya seperti bukan di Bogor deeh. (Trus dimana atuh ya?)

Kedua orang tua saya langsung bernostalgia. Sekian puluh tahun yang lalu, kala mereka baru menikah, mereka sempat merasakan tinggal di kawasan Ciawi dan setiap hari bisa menikmati yang namanya kabut.

Saya lalu membuka jendela mobil, ingin menyentuh kabut itu (dan disambut dengan celaan “Dasar norak..” ๐Ÿ˜‚). Tak ada yang dapat disentuh selain rasa dingin yang terasa menampar wajah.

Ah.. entah kapan terakhir kali kita merasakan indahnya pagi berkabut? Seringkali kita malah terpaksa menikmati pagi berasap. Asap rokok lah, asap knalpot, bahkan lebih parah lagi asap bakaran sampah. Trus mendadak pengen pindah rumah ke gunung deh.. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

Kami melaju santai sekali, karena selain tak sedang dikejar waktu, kami juga memperhitungkan jarak pandang yang tak terlalu jauh. Betul saja, tak jauh di depan kami ada sebuah mobil putih yang sedang berhenti. Warnanya tersarukan oleh kabut yang cukup tebal. Wow.. untung saja mereka menyalakan lampu hazard.

Rasanya ingin lebih lama lagi menikmati pagi berkabut di tol Bocimi. Sayangnya ketika kami tiba di ujung tol Cigombong, kabut itu lenyap, bagai tertelan hiruk pikuk kesibukan kota.

Tapi.. saya begitu bersyukur atas sebuah momen singkat yang layak dikenang. Mungkin beberapa tahun lagi, kabut pagi di Bocimi pun hanya akan menjadi kenangan yang hanya bisa dirasakan lewat sebuah cerita.

Pagi berkabut itu ternyata menjadi pembuka sebuah hari yang istimewa. Betul sekali yang dikatakan oleh orang bijak : Hari yang indah diawali dengan pagi yang penuh syukur. Ya. Aku tak bisa berhenti bersyukur atas hari itu : Kota Sukabumi yang membangkitkan banyak kenangan indah, juga untuk segala perjumpaan, pelukan hangat, reuni yang mengharukan, dan yang pasti atas suatu pagi yang berkabut.

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-7 bertemakan Pagi, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekaliโ€ฆ

2 thoughts on “Pagi Berkabut”

  1. Kabut yang sesaat memang menyenangkan yaa… asal jangan sampai jarak pandang menjadi terbatas Na… Semoga pagi hari itu jadi menyenangkan… kayaknya sih iyaaa… dari awalnya yang sudah bikin kenangan hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s