Satu Foto Sejuta Cerita, Uncategorized

Semua Berawal Dari Mimpi

Sekian tahun yang lalu saya menggantungkan sebuah mimpi : pengen ke luar negeri. Hahaha.. Terdengar begitu simple namun buat saya itu adalah hal yang membutuhkan proses panjang dan lama. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat passport gara-gara sahabat saya membawa begitu banyak cerita indah dari Singapura. Bulan November 2011 saya resmi memegang passport pertama saya yang kosong melompong. Saat itu saya nggak punya planning mau kemana dan dengan siapa.

Semesta sepertinya punya skenario yang rapi. Tak lama setelah itu, teman SMA saya mengajak pergi ke Singapura untuk mengunjungi pacarnya. Singkat cerita, dengan segala hal yang telah diatur oleh teman saya, pada Februari 2012 saya berhasil mendapatkan cap pertama di passport, juga mendapatkan pengalaman terbang pertama kali yang begitu excited. Sebuah momentum yang rasanya sudah berhasil mewujudkan impian saya.

Happy? Tentu! Tapi rasanya kok nggak puas ya? Akhirnya saya menggali kembali dan menyadari bahwa saya punya impian yang lebih spesifik : mengunjungi sebuah negeri bernama Kamboja. Iye.. iyee.. pasti kaget deh.. Emang ada apaan di Kamboja? Kagak ada negara lain yang lebih keren apa? Tapi saya bodo amat, saya maju terus pantang mundur untuk bisa mewujudkan mimpi yang aneh itu. Saya nggak sendirian, tapi bersama dengan bokap yang akan jadi partner perjalanan saya (waktu itu belum dapat izin untuk jalan sendiri, dan kagak berani juga sih..).

Waktu itu, tahun 2012, rasanya begitu banyak ketidakmungkinan untuk mencapai mimpi itu. Gimana caranya beli tiket? Trus bayarnya gimana? Saya nggak punya kartu kredit (dulu saya cuma tahu kalau bayar tiket itu hanya bisa dengan kartu kredit). Trus harus pakai flight apa untuk mencapai Kamboja? Nggak ada direct flight kesana lho.. (bahkan sampe sekarang..). Disana harus ikut grup tour nggak ya? Duh.. kalau pakai tour mahal banget dah.. terus duitnya dari mana? Trus disana harus pakai Bahasa Inggris ya? Waduhh.. gimana ini… waktu di Singapura aja saya cuma diem-diem baee.. Bisa gak ya? Nggak bisa ya? Ya bisa nggak?

Hari ini, saat saya menuliskan posting ini, saya nyengir sendiri mengingat kegilaan saya waktu itu. Ketika semua terlihat nggak mungkin, saya malah “ditegur” dengan halus oleh sebuah kalender. Ceritanya waktu itu saya sedang numpang ngetik di ruangan senior saya di pabrik. Entah gimana saya nggak sengaja melirik kalender di atas komputernya, dan langsung merasa jleb. Di kalender itu tertulis “Jika kamu punya impian yang luar biasa, maka lakukanlah hal-hal yang luar biasa pula untuk meraihnya.” (Kata-katanya nggak persis kayak gitu sih, tapi garis besarnya begitu deh..)

Dan terjadilah hal-hal luar biasa itu. Dan satu demi satu keraguan pun sirna.

Alkisah, saya pernah direkomendasikan oleh seorang manager untuk bisa punya kartu kredit di Citibank. Entah gimana, saya ditolak mentah-mentah.. hahaha.. Nah, karena untuk beli tiket ini saya butuh kartu kredit, jadilah saya putar otak gimana caranya supaya bisa punya. Saya nekad minta direkomendasikan oleh tante saya yang kerja di BCA, tapi sepertinya suram dan nggak ada sinyal-sinyal positif. Lalu saya melakukan hal yang lebih nekad lagi, saya mengisi formulir aplikasi kartu kredit BNI yang saya temukan di ATM, lalu saya kirim pakai pos. (Asli lah.. kok bisa-bisanya ya…). Setelah penantian yang rasanya tak berujung, akhirnya pada September 2012 saya punya kartu kredit. Gak cuma satu, tapi dua. Iyaaa.. nyebelin banget kan, kedua bank itu menyetujui aplikasi saya pada waktu yang bersamaan.

Beberapa bulan sebelum itu, saya juga niat-niatin datang ke bank untuk buka tabungan baru. Simple sih, supaya setiap bulannya saya bisa menyisihkan sebagian gaji saya buat membiayai perjalanan impian saya itu. Secara kalau uang itu ada di tabungan regular saya, wes dah pasti habis tak bersisa di akhir bulan.

Setelah punya kartu kredit, saya lalu mulai browsing websitenya Air Asia, soalnya cuma tahu maskapai itu doang yang low fare dan bisa order via website (ah.. betapa katronya diriku saat itu…). Nah, sekarang mulailah bingung harus pilih rute mana. Saya nggak punya bayangan dengan definisi “transit”. Jadilah dengan polosnya saya menelepon customer centrenya Air Asia, menanyakan saya harus pilih flight yang mana kalau mau ke Kamboja (dan sekarang saya merasa maluuuu… ). Mas-mas yang menjawab telepon saya menjelaskan dengan sabar dan memberikan tiga opsi : via Kuala Lumpur, Bangkok, atau Ho Chi Minh City. Setelah diskusi dengan bokap, ahirnya kami memilih jalur Vietnam karena bokap tergila-gila sama sejarah Perang Vietnam.

Dan sampai hari ini masih teringat rasa deg-degan ketika untuk pertama kalinya booking tiket lewat websitenya Air Asia. Takut ada yang salah input euy..

Saya lalu mulai browsing berbagai jasa travel disana, memberanikan diri untuk bertanya pada orang-orang asli Kamboja yang saya temui di facebook dengan modal Bahasa Inggris yang di bawah pas-pasan. Ada banyak informasi yang saya dapatkan dari mereka, tapi saya masih ragu, apakah memungkinkan (dan aman) bagi kami berdua untuk travelling ala backpackeran tanpa ikut tour? Entah bagaimana ceritanya (saya lupa… ) akhirnya kami putuskan untuk nekad jalan sendiri dengan itinerary nyontek sana-sini.

Hingga akhirnya.. Pada 19 Januari 2013 saya dan bokap berhasil mencapai Vietnam , dan pada 22 Januari 2013 kami tiba di Kamboja.

Impian jadi kenyataan? Tentu saja. Meski saya masih harus bersabar dengan Vietnam. Meski saya merasa kurang enjoy saat keliling Angkor. Saya malah merasa lelah lahir batin, sampai akhirnya saya baru merasa sungguh-sungguh excited dan merasa bahwa impian saya sungguh terwujud ketika mencapai tempat ini :

Aneh? Iya.. saya juga merasa aneh.. Ketika ada begitu banyak orang mencintai Kamboja karena Angkor Wat, saya jatuh cinta pada Kamboja karena tempat sehorror itu.

Seperti yang banyak orang katakan bahwa “Travelling itu candu”, hari ini saya juga berani berkata bahwa :

“Kamboja itu candu”

Karena setiap pulang dari sana, saya selalu menggantungkan impian-impian baru yang membuat saya kembali dan kembali lagi.

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-8 bertemakan Impian Menjadi Nyata, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

6 thoughts on “Semua Berawal Dari Mimpi”

  1. astagaaaaaa…. ceritanya luarbiasa banget… dan lucu!!! Kalo orang bener-bener tau foto-fotonya itu, aku bayangkan mereka akan “hah?”, “wheeew…”
    BTW, aku gak mengenali foto diatasnya Angkor, HCMC ya? Secara aku gak pernah ke kotanya wkwkwkwk.. cuma numpang lewat bandaranya doang…

    1. Hahaha.. setelah sekian tahun aku baru merasa waktu itu lucu (dan malu2in) 😂😂😂
      Itu yang di atasnya Angkor, foto Cao Dai Temple Mba.. di pinggiran HCMC, serute dengan Cu Chi Tunnel. Itu tempat ibadah yang memadukan berbagai agama.. hehe

      1. Pengalaman pertama itu memang gak terlupa Na, seruuu dan terlihat ‘bego’nya kita hahaha… karena aku juga begitu Na 😀 😀 😀
        Kelihatannya seru ya Cao Dai Temple itu, dan kebayang juga cu chi tunnelnya, tapi heran niii aku belom ketrigger utk ke HCMC. mungkin hanoi dulu baru hcmc kali… nunggu wangsit turun deh wkkwkwkw…

      2. Haha.. kalau waktu itu ga sama bokap, mungkin aku ga akan nginjek Vietnam mba.. entah kenapa aku juga belum ada cinta setitik pun sama negeri itu, walaupun udah pernah kesana.. hehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s