My Journey...

Di Bawah Langit Biru

Aku terus berlari walaupun rasanya jantung ini sudah menuntut ingin berhenti.

Tiga puluh menit! Harus cukup!

Langit biru di atas kepalaku tak kuindahkan. Aku hanya terus berlari sambil berkata “Excuse me..“ Aku merasakan jembatan apung yang kupijak bergetar keras hingga terpaksa aku mengurangi kecepatan.

Sambil terus berjalan cepat kutatap bangunan abu-abu yang menjulang di hadapanku. Aku berpikir tindakanku ini gila. Sangat gila. Oh ya, plus nekad! Aku tengah dikejar sekaligus ditunggu.

Gerbang pertama sudah kulewati. Lima menara batu itu berdiri kokoh di depan sana. Aku masih harus berlari sejauh mata memandang. Peluhku berjatuhan dan rasanya aku hampir pingsan. Kunaiki tangga-tangga kayu dengan tak sabaran.


Tiga puluh menit sebelumnya.

Aku melihat jam. Menghitung-hitung sisa waktu yang kupunya. Harusnya cukup. Tapi apakah driver tuk-tuk ini mau dinego ya? Tujuanku pagi ini sebetulnya hanya ke Phnom Bakheng dan lanjut ke terminal Larryta Express. Tapi aku begitu tergoda dengan perhitungan waktuku hingga akhirnya aku memberanikan diri bernego dengan driver tuk-tuk.

“Bisakah kita mampir di Angkor Wat? Tiga puluh menit saja.. Saya akan tambahkan ongkosnya.”

Sambil menggumam tak jelas, ia mengangguk.


Terik mentari akhirnya berubah menjadi keteduhan. Panasnya cuaca berganti dengan kesejukan. Aku sudah di bawah naungan Angkor Wat dan aku sudah hampir kehabisan napas. Dengan sisa tenaga yang masih ada, aku bergegas menuju ke sebuah ruangan kecil yang menjadi tujuanku : chamber of echoes. Ruang inilah yang membuatku berlari seperti kesetanan. Aku ngotot menyusup di antara para pengunjung. Syukurlah mereka tak berlama-lama disana.

Saat ruangan itu mulai kosong, aku pun bersandar pada salah satu dindingnya, lalu memukul dadaku tujuh kali. Pukulan yang aslinya pelan itu berubah menjadi gema yang keras, bagaikan tengah berada di dalam sebuah gua besar. Inilah salah satu keajaiban Angkor yang membuatku terobsesi dan memaksa diri untuk singgah sejenak disini sebelum aku pulang.

Sambil memejamkan mata kuucapkan satu permintaan sederhana : aku ingin kembali lagi kesini. Aku merasakan air mata keharuan mengalir di pipiku. Mungkinkah doa itu akan terkabul?

Misi sudah selesai. Aku harus berlari lagi karena waktu yang tersisa hanya 10 menit. Kuharap si driver tuk-tuk bisa memberikan sedikit toleransi karena aku pasti akan terlambat.

Aku sudah tak sanggup berlari, aku hanya bisa mengupayakan agar kakiku terus berjalan secepat yang mereka mampu.

Baru setengah jalan dan aku begitu tergoda menengok ke belakang. Ah, semoga tak akan ada yang mengutukku menjadi tiang garam karena aku begitu berat meninggalkan tempat ini. Dalam takjub aku terdiam memandangi Angkor Wat di bawah langit biru. Tanpa sadar hatiku berucap : ”Tuhan, izinkan aku kembali ke tempat ini.”

Lalu aku pun berlari tanpa berpaling lagi.

Selamat tinggal, Angkor Wat.. Entah kapan akan kembali..

2 thoughts on “Di Bawah Langit Biru”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s