Satu Foto Sejuta Cerita

A Spring in My Heart

Sebagai penduduk negara tropis yang cuma kenal musim kemarau, musim hujan, musim buah, dan musim kawin (ups…), konsep tentang “spring” alias musim semi sungguh hanyalah terasa sebagai konsep dan foto-foto indah dari negeri subtropis sana. Negeri-negeri yang jauh dan rasanya tak terjangkau.

Tapi sesungguhnya, jika kita renungkan (ciyeee.. sok bijak), sebetulnya dalam hidup kita ada banyak momen-momen yang menggambarkan musim semi itu. Mungkin tentang sebuah kelahiran, sebuah perubahan yang indah, tahapan baru kehidupan, harapan yang menyemangati, dan masih banyak lagi..

Buat saya, salah satu momen spring itu muncul ketika saya mendaki Phnom Bakheng untuk pertama kalinya dua tahun lalu.

Awalnya saya akan naik kesana pada sore hari, pada saat banyak turis yang naik untuk menanti sunset. Tapi apa daya. Hujan turun dengan deras hingga driver tuk-tuk melarang saya untuk naik. Terlalu berbahaya katanya. Padahal tiga puluh menit kemudian ketika saya tiba di kota Siem Reap, hujan reda berganti langit sore yang indah. Ah.. saya terpaksa menghibur diri dengan membatin : “Belum jodoh..”

Saya yang kaku ini akhirnya berhasil “nekad” untuk mereschedule bookingan bus yang sudah saya buat supaya bisa mampir ke Phnom Bakheng, walaupun bukan untuk melihat sunrise atau sunset, tapi untuk memuaskan rasa penasaran saya pada candi di atas bukit itu. Berkali-kali saya ke Angkor, namun belum sekalipun saya singgah ke Phnom Bakheng.

Sekitar pukul 8 pagi saya bertolak dari Siem Reap bersama seorang driver tuk-tuk. Saya diberhentikan di bawah kaki bukit dan harus berjalan naik sendirian. Baru beberapa langkah saya langsung merasa gentar. Suasana pagi itu sepi sekali, tak ada satu turis pun yang naik bersama saya. Jalan setapak yang tertutup bayangan pohon rimbun membuat saya semakin ragu. Lanjut? Atau turun?

Kalau turun, lantas kapan lagi akan kesini? Kesempatan sudah di depan mata dan saya menguatkan hati, menapaki jalan setapak itu selangkah demi selangkah.

Siapa sangka momen spring itu muncul ketika seekor kupu-kupu terbang setinggi bahu saya. Saya tersenyum melihat kelincahannya. Ia terbang dengan santai seperti ingin memberi pesan : Kamu nggak sendirian.

Ketika saya menyadari pesan itu, mata saya seperti terbuka. Saya melihat keindahan yang sejak tadi tak saya perhatikan karena tertutupi oleh kekhawatiran. Rasanya bongkahan salju ketakutan di hati saya meleleh sedikit demi sedikit dan saya mulai menikmati perjalanan itu.

Perjalanan panjang menuju puncak Phnom Bakheng dan juga perjalanan turunnya saya jalani sendiri, tapi saya tahu semesta mengirim kawan-kawan kecil ini untuk menemani saya.

Saya sendiri. Tapi sesungguhnya semesta tak pernah membiarkan saya sendirian.

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-11 bertemakan Spring, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Advertisements

3 thoughts on “A Spring in My Heart”

  1. Kupu-kupu teman perjalanan… sehingga aku selalu jadi tersenyum jika tiba-tiba ada kupu-kupu terbang menampakkan diri. Kadang lagi muram jadi terperangah dengan di kupu-kupu. Yes, you are not alone..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s