Uncategorized

Dua Kota

Langit sudah gelap dan hujan rintik turun perlahan. Saya berdiri gamang, seolah baru saja turun dari mesin waktunya Doraemon. Rasanya tak percaya bahwa dalam waktu kurang dari sepertiga hari, saya berada di dua kota yang begitu kontras bagai ada di dua dimensi waktu yang berbeda.

Siang

Mentari yang terik menyambut kami di Singapura, negara kota yang katanya termasuk dalam kategori paling bahagia sedunia. Seolah dia memiliki segalanya yang kita butuhkan. Gedung-gedung tinggi menjulang, fasilitas modern tersedia, sarana dan prasarana tertata rapi. Seolah negeri ini diciptakan sebelum penduduknya ada.

Telinga ini masih menangkap suara-suara dalam bahasa ibu dan bahasa-bahasa lain, yang meskipun asing, namun masih dapat dipahami. Mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa disini saya tak merasa jadi orang asing. Itu pula mungkin penyebab mengapa saya selalu merasa aman dan hampir tak pernah tersesat di kota ini.

Malam

Kota Yangon menyambut kami yang kebingungan dengan hujan rintiknya. Lampu kota yang remang-remang mengiringi perjalanan kami yang tersendat disana-sini. Waktu baru saja menjelang pukul 20.00 ketika kami tiba di depan hostel dan mendapati semua toko di dekatnya sudah tutup, padahal kami sangat kelaparan.

Kota ini terasa begitu muram padahal sekian tahun lalu ia pernah menjadi ibu kota negara. Bangunan-bangunan bertingkat model lama dengan cat yang suram mendominasi pemandangan, ditambah dengan cahaya yang berpendar dari kuil-kuil. Hanya kuil dan tempat makan emperan yang masih dikunjungi orang saat malam mulai semakin pekat.

Para pria dan wanita berjalan dengan memakai longyi (sarung). Atasan yang mereka pakai juga seperti gaya berpakaian tahun 80an, ditambah lagi ada beberapa wanita yang pipinya dipulas oleh thanaka. Sungguh, kami seperti baru turun dari mesin waktu.

“Ini seperti suasana Bogor sekian puluh tahun yang lalu. Sepi dan tenang”, ujar ayah saya. Awalnya saya merasa tak nyaman di kota ini. Kota yang membuat kemampuan Bahasa Inggris saya menjadi semakin terpuruk, bingung, dan tersesat. Seiring perjalanan waktu, akhirnya kota yang sederhana inilah yang berhasil merebut hati saya.

Dua kota ini memberikan pemahaman baru tentang proses kehidupan, bahwa ada kalanya dalam waktu yang singkat saya harus mengalami perubahan yang disebut sebagai “pindah”. Buat saya yang kaku dan sulit beradaptasi, momen pindah selalu menjadi pengalaman yang berat karena saya bukan tipe orang yang mudah beradaptasi.

Tapi Yangon telah berhasil mengajarkan pada saya bahwa

“Tak selamanya, pindah itu kelabu..”

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-12 bertemakan Berpindah, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Advertisements

2 thoughts on “Dua Kota”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s