Satu Foto Sejuta Cerita

Untuk Kalian..

Catatan : foto-foto dalam postingan ini bukan seluruhnya hasil jepretan saya Terima kasih kepada : Br. Albertus Sigit, MSF, Pastor Stephanus Sumardi, Diakon Febry Laleno, OSC, Pastor Deddy Budiawan, dan Pastor Anggras Prijatno, MSF atas kiriman foto-foto dan videonya.


Menjadi seorang misionaris berarti siap diutus kemanapun Gereja membutuhkan, bisa jadi ke tempat yang sangat jauh, mungkin yang tak tercantum dalam peta dan tak dikenal oleh media. Dalam perjalanan hidup, sudah beberapa kali saya berjumpa dengan mereka yang menghayati panggilan hidup mereka untuk menjadi misionaris. Buat saya yang kaku dan enggan pindah, konsep hidup mereka sungguh selalu membuat saya kagum. Bagaimana tidak? Mereka bisa melepaskan segala ikatan kenyamanan yang otomatis akan terbentuk ketika kita tinggal di suatu tempat dalam waktu yang lama. Inilah sebagian kisah yang saya dapat dari mereka.


Sr. Sensa, OSU

Saya bertemu Sr. Sensa ketika mengikuti misa sore di Phnom Penh. Kami saling mengenggam tangan dan bersorak girang ketika diperkenalkan oleh seorang umat Katolik Indonesia disana. Kala itu Sr. Sensa sedang belajar Bahasa Khmer di Phnom Penh sebelum ditugaskan ke pedalaman Battambang. Ia tinggal bersama komunitas suster Daughter of Christ (DC) yang sebagian besar berasal dari Filipina.

Bahasa Khmer bisa dibilang adalah salah satu bahasa tersulit di dunia, belum lagi prospek mengenai pedalaman Battambang yang kayaknya masih angker banget. Duh.. membayangkannya saja sudah merinding.

Tapi.. Ia menerima perutusan itu dengan penuh semangat. Ia belajar dengan sabar. Beberapa bulan lalu saya melihat fotonya di laman facebook seorang pastor di Battambang. She looks so happy. And I am happy for her.


Para Misionaris di Kalimantan Utara

Perjumpaan saya dengan mereka berawal dari kunjungan saya ke Tanjung Redeb pada tahun 2017. Disana saya berjumpa dengan Pastor Agus, MSC dan Pastor Anggras, MSF di paroki St. Eugenius de Mazenod – Berau. Lalu saya juga berjumpa dengan Pastor Steph, dan Pastor Alex, MSC di Tanjung Selor. Beberapa hari kemudian saya berjumpa dengan Pastor Domi, OMI di Tarakan dan Pastor Wempy, MSF di Juata. Dan tak sampai sebulan kemudian saya bertemu Br. Sigit, MSF di Jakarta.

Dari mereka saya mendengar begitu banyak kisah yang membuat saya ternganga. Keluar masuk hutan dengan berjalan kaki atau dengan motor, membelah sungai dan lautan dengan speed, bertemu ular dan babi hutan, menerjang banjir, bertemu orang-orang yang berbeda kultur sehingga sering sekali terjadi miskomunikasi. Ditambah lagi daerah-daerah yang masih terbelakang dengan jalanan berbatu, berlumpur, dan sinyal yang nyaris nihil.

Disana mereka tak hanya menjadi seorang Pastor atau biarawan yang bertugas di altar. Mereka juga harus berperan sebagai ayah, guru, mentor, sopir, pendamping, pembimbing dan sebagainya. Tak jarang mereka harus menjadi inisiator dalam banyak hal. Singkatnya, disana Pastor harus bertanggung jawab mulai dari roti anggur (urusan Gereja) hingga garam dapur (urusan rumah tangga).

Para Pastor Misionaris Keluarga Kudus yang bersiap turne ke Long Yin, enam jam perjalanan darat dan air dari Tanjung Selor.

Lihat cerita perjalanan mereka disini.

Pastor Anggras kadang berbagi cerita tentang kerinduannya menyantap kerupuk udang, abon, dan nasi uduk. Disini kita mungkin sudah bosan dengan makanan-makanan itu. Tapi buat mereka disana, itu semua bagaikan barang langka.

Pastor Steph bersama umat di perbatasan Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Ia harus berjalan kaki sejauh 7 km dari jalan poros untuk bisa mencapai umatnya ini.

Kisah yang paling menarik datang dari Pastor Steph. Beliau lahir di Lampung, menjalani pendidikan di Palembang dan Yogyakarta, lalu memutuskan untuk menjadi imam Keuskupan Tanjung Selor. Ketika saya tanya mengapa beliau memilih Tanjung Selor, beliau menjawab : “Mereka ini bagai umat tanpa gembala, dan saya terpanggil untuk melayani mereka.” Beliau juga memberikan rahasia untuk bertahan menjadi misionaris : Bertumbuh di tempat kau ditanam. Kalau hati kita tak berada di tempat kita berada, maka pasti akan terasa melelahkan.

Beliau selalu punya banyak cerita seru yang justru membuat saya ngeri : ditodong preman (dan akhirnya beliau yang balik menodong preman.. Hidup Pastor Steph!), jatuh di jalanan hingga tulang beliau bermasalah hingga kini, jalan kaki menembus tanah merah yang licin, bekerja tanpa listrik, bertemu umat yang nyebelin, tersesat di hutan, dan baaaanyaaak lagi. Tapi hebatnya beliau selalu berkata : “Lelahku hilang saat melihat umat yang penuh sukacita.”

Tak semua tempat disana bisa ditempuh dengan jalan darat. Kebanyakan harus lewat jalan air (sungai), dan ada pula tempat yang hanya bisa ditempuh dengan jalur udara, seperti ke kawasan Apo Kayan. Pesawat yang digunakan pun hanyalah pesawat perintis dengan kapasitas sekian belas orang dan penerbangannya tak setiap hari.

Dalam periode waktu tertentu, mereka akan mendapat penugasan baru, alias akan mengalami siklus “pindah” lagi. Dua tahun lalu, Pastor Anggras yang pindah ke Sekatak yang termasuk area susah sinyal. Meski awalnya berat untuk pindah, namun beliau tak henti-henti menyemangati dirinya untuk melakukan yang terbaik bagi para umat disana. Tahun lalu ketika Pastor Agus, MSC dipindah ke Segah yang juga nihil sinyal, beliau bilang begini pada saya : “Semua ini demi umat, kita mengupayakan yang terbaik bagi mereka.”

Mereka inilah yang selalu menjadi sumber semangat saya. Mereka inilah yang membuat saya merasa bahwa kesulitan yang saya alami tak ada apa-apanya.


Pastor Agustinus Deddy Budiawan

“Romo (Pastor), kenapa menjawab “ya” ketika diminta untuk membantu di Ketapang?”

“Bagi saya, di tempatkan dimana pun masih bersyukur, karena mungkin sudah saatnya saya pindah. Mumpung masih muda. Mungkin di sana lebih membutuhkan saya, karena saat itu uskup berkata pada saya bahwa beliau minta tolong ke saya untuk tugas misi. Lalu diberikan juga surat permohonan dari uskup Ketapang ke uskup Bogor, di situ sebelum tanda tangan uskup Ketapang, ada tertulis : Menyeberanglah kesini dan tolonglah kami! Disana juga daerah pedalaman, inilah kesempatan bagi saya untuk berkoordinasi bagi gereja universal. Mungkin meninggalkan sedikit kenyamanan di Jawa ini.”

Jleb.

Meskipun beberapa kali beliau ragu karena belum pernah naik pesawat dan belum pernah mengenal Kalimantan, namun beliau “menyeberang” dengan semangat, mencurahkan segalanya untuk memberdayakan umat disana dengan segala keterbatasannya.

Romo Deddy mengendarai motor untuk mengunjungi umat di salah satu stasi pedalaman.

Sementara saya disini masih suka ngedumel soal hal yang receh-receh… Kadang suka ngerepotin beliau dengan curhat yang gak penting.


Diakon Febry Laleno, OSC

Ketika ia berkata bahwa ia ditugaskan di Papua, radar khawatir saya langsung naik. Kala itu wabah campak tengah merajalela disana dan berita anak-anak gizi buruk masih menjadi headline di media masa. Belum lagi setiap berangkat ke stasi-stasi ia harus naik speed boat. Tak sedikit berita buruk tentang speed boat yang celaka atau hilang di sungai-sungai Papua, bahkan sekian puluh tahun yang lalu seniornya pun pernah menjadi korban disana. Apalagi dia dulu pernah mengaku tak bisa berenang.

Tapi ia dengan santai hanya berkata, “Jangan lupa doakan saja ya..” Dan setiap ditanya apa kabar dan kenapa semakin hitam, selalu saja dia menjawab, “Aku happy kok.. Aku sekarang harus item biar merakyat.”

Ia bersama para suster disana memberikan perhatian khusus pada anak-anak lewat Taman Baca milik keuskupan. Mereka mengajarkan anak-anak membaca, membuat keterampilan, bahkan memasak untuk mereka.

Di tengah banyak kabar mengerikan dari Papua, dia inilah yang membawa harapan baik dari sana.

“Pengalaman disini menarik dan tak terlupakan.”, itu yang selalu ia sampaikan jika saya memintanya bercerita.


Masih banyak kisah tentang para misionaris yang ingin kukisahkan. Tapi rasanya, cukuplah dulu untuk kali ini.

Terima kasih para misionaris. Terima kasih atas karya, kerja keras, dan persembahan hidup kalian.

Terima kasih untuk selalu menginspirasiku.


Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-12 bertemakan Berpindah, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Advertisements

2 thoughts on “Untuk Kalian..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s