Satu Foto Sejuta Cerita

Good Friends, Good Food, Good Times

“The fondest memories are made gathered around the table.”

Saat saya berpikir tentang apa yang akan saya tulis tentang tantangan minggu ini, saya tersadar bahwa tugas-tugas kunjungan ke luar daerah berhasil mengubah selera makan saya. Tadinya saya sangat pemilih dalam hal makan : hanya berkutat pada ayam, telur, dan beberapa jenis sayuran. Saya agak malas kalau harus makan sea food, daging, apalagi yang namanya jeroan. Makanan-makanan eksotis? Hmm. Jangan harap, membayangkannya saja saya udah eneg duluan.

Semua berubah karena sebuah prinsip yang ditanamkan ketika saya memulai tugas ini sekitar empat tahun lalu : jangan menyusahkan orang di daerah. Secara saya udah numpang tidur, dianter sana-sini, dikasih makan, dan diperhatikan jangan sampai saya kekurangan apapun. So, salah satu cara untuk meringankan beban mereka adalah dengan menjadi pemakan segala. Diajak makan ini hayoo.. makan itu marii.. Walaupun untuk beberapa kasus, saya terpaksa tahan napas untuk menelannya, atau kalau sudah tak sanggup lagi (dan gak punya teman untuk mengoper makanan itu), saya mengendap-endap untuk membuangnya. *maaaffff.. *

Ternyata juga, momen makan ini bisa mengakrabkan suasana. Saya bukan orang yang mudah beradaptasi dengan orang-orang baru, tapi saya merasa makan bersama adalah suatu momen yang bisa dibilang sangat magis. Saya membayangkan bahwa saat kita makan, ada tangan-tangan tak terlihat yang mengikatkan tali-tali transparan dari hati yang satu ke hati yang lain; dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain. Itulah sebabnya setelah usai makan, muncul perasaan lebih dekat satu sama lain.

Foto ini adalah secuplik cerita ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Tanjung Redeb, Kalimantan Timur, 17 Maret 2017. Malam itu setelah selesai ibadat jalan salib (yang sangat panjang dan lama dan melelahkan), saya diajak makan sup ikan di Sari Indah Sea Food, Berau. Seumur-umur, saya gak pernah membayangkan bentuk sup ikan. Buat saya ikan itu kalau gak dibakar, ya digoreng. Ikan disup? Wew.. kayaknya bakalan aneh nih. Belum lagi pasti bau-bau amis begitu, plus kerjaan tambahan karena tulang-tulangnya. Duh.. Ntar saya kelihatan begonya dah.. Semoga saja saya gak perlu tahan napas untuk menelannya.

Tapi.. setelah saya mencicipinya, beuhhhh maknyuuussss.. enaaaak banget.. gak ada amis-amisnya karena dilengkapi berbagai macam bumbu dan kuah yang asam. Semangkuk sup ikan pun tandas berpindah ke perut saya. Lupa sudah saya dengan yang namanya jaim karena kami berlima sama-sama semangat memisahkan daging ikan yang lembut itu dari tulangnya. Dan karena sudah lupa dengan yang namanya jaim, ada banyak cerita yang mengalir malam itu hingga kami lupa waktu.

Tau gak? Sampe sekarang saya belum menemukan penjual sup ikan Berau di Bogor. Padahal saya udah kangeeen bangeeet. Saya dikasih resepnya sih, tapi ternyata tak ada yang lebih nikmat daripada memakan apa yang sudah tersedia di meja tanpa perlu menyiapkannya. πŸ˜‚πŸ˜‚

Satu tahun berikutnya, 26 Mei 2018, dalam kunjungan saya ke Tarakan, saya diajak makan kerang kappah di tepi Pantai AMAL usai keliling Tarakan bersama kawan-kawan baru saya (kecuali satu orang..hihihi).

Ah.. Entah kapan terakhir saya makan kerang. Saya malas berurusan dengan kulitnya, belum lagi membayangkan bahwa yang saya makan adalah seluruh bagian tubuh kerang tanpa pengecualian. Jadi yaaa.. rada-rada jijay gitu deh. Hihihi..

Tapiiii.. kerang ini bikin ketagihan… hahahaha.. Apalagi kalau dicocol dengan sambal khas Tarakan. Duhh.. rasanya pengen nambah lagi dan lagi. Sayang waktu itu saya baru sembuh typhus, jadi nggak bisa kalap makan sambel.. hahaha..

Walaupun tangan kami sibuk melepas si kappah dari cangkangnya dan membuka kulit udang, tapi tetap saja tak menghentikan cela-celaan dan jahil-jahilan kami. Sayang waktu kami terbatas jadi kami tak bisa berlama-lama dan menambah kappah di atas meja.

Ternyata.. Di Bogor kagak ada kerang model begini. huhuhuhuhu.. 😒😒😒


Tulisan ini dibuat menjelang tugas kunjungan ke-3 ke area Kalimantan Timur dan Utara pekan depan. Mungkin tak akan berjumpa dengan kalian semua kali ini, dan mungkin juga akan jadi kunjungan resmi saya yang terakhir kesana. Tapi semoga ada kunjungan-kunjungan non resmi berikutnya.


Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-17 bertemakan Makanan, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Advertisements

4 thoughts on “Good Friends, Good Food, Good Times”

      1. Hahaha.. iya Mba… kalau udah dicurigai “amis”, ada jeroan, nggak mateng, atau berasal dari hewan2 tertentu, aku biasanya dah mundur duluan Mba..
        *kecuali waktu di Ponti, penasaran juga makan ular.. πŸ˜„πŸ˜„

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s