Satu Foto Sejuta Cerita

Pintu Darurat πŸ˜…

Perpaduan antara Museum San Agustin dan hujan menghasilkan suasana yang gloomy. Hmm.. kalau boleh jujur, suasana kala itu bahkan agak mengerikan untuk saya. Apalagi ketika mengingat bahwa di dalam museum ini ada deretan makam di salah satu ruangannya. Juga ketika mengingat bahwa pernah terjadi eksekusi masal yang dilakukan oleh tentara Jepang di tempat ini. Ditambah lagi sore itu pengunjung museum bisa dihitung dengan jari. Haduhhh…

Meskipun museum ini adalah salah satu tujuan saya bertandang ke Manila, namun sore itu saya cukup gentar dibuatnya. Pilar-pilar tinggi dan tembok-tembok yang menjulang membuat saya merasa begitu kecil dan tak berdaya. Saya seperti liliput yang sedang berada di kandang raksasa.

Tapi saya beruntung. Sebelum saya memutuskan untuk segera keluar dari museum ini, saya mendengar suara dari gereja San Agustin yang dindingnya menyatu dengan dinding museum ini. Saya bergegas melangkah mencari pintu-pintu yang menjadi penghubung antara dua bangunan ini, bagaikan mencari sebuah emergency exit.

Pintu pertama yang menuju bagian tengah gereja terkunci, tapi cukup jelas terlihat bahwa di dalam gereja sedang ada misa karena lampunya menyala dan banyak orang disana. Saya melangkah lagi dan menemukan pintu kedua yang juga terkunci, kali ini terlihatlah bagian altar gereja.

Disana ada sepasang pengantin tengah mengikrarkan janji mereka. Aaahh.. so sweet.. Walaupun saya tak mengerti sepatah katapun namun saya bisa merasakan suasana sakral dan bahagia itu, meski harus dari balik pintu besi ini.

Saya pun berupaya mengabadikan dua sejoli itu. Cukup sulit karena terhalang jeruji dari pintu besi. Saya lalu mengeset zoom dan menyelipkan lensa kamera saya di antara besi-besi itu. Berhasil. Dapatlah foto mereka berdua.

Tapi ternyata hasil foto yang terhalang besi malah lebih keren (menurut saya). Besi-besi pagar itu seperti menjadi bingkai ornamen bagi pengantin itu. Betul juga yang dibilang sahabat saya, keberadaan bingkai malah bisa membuat objek foto itu menjadi lebih fokus dan menarik.

Setelah berhasil mengabadikan mereka, saya pun lanjut berkeliling museum dengan “lebih ringan” dan gak terlalu ngeri seperti semula. Entah apakah ini karena aura kebahagiaan yang dipancarkan kedua pengantin itu? Atau, jangan-jangan karena saya tahu bahwa di gereja sedang banyak orang, jadi kalau ada “apa-apa”, bakalan ada banyak orang yang bisa nolongin saya.. hahaha.. πŸ˜…πŸ˜…

Pos ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-20 bertemakan Frame, agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

Advertisements

4 thoughts on “Pintu Darurat πŸ˜…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s