My Journey..., Uncategorized

Serpihan Kisah dari Berau – Hari Pertama

Aku melirik sekilas kaca spion mobil ini. Kosong tanpa gantungan apapun disana. Ah.. Teringat kembali kalung ubur-ubur yang pernah tergantung disana dan suatu pagi ketika kalung ubur-ubur itu dikalungkan ke leherku. Tak terasa.. Dua tahun sudah kalung itu resmi menjadi milikku.

Aku mengulurkan tangan kananku sambil memperkenalkan diri pada pria yang mengendarai mobil ini. Andai Suster Ben sebelumnya tak berkata bahwa pria ini adalah pastor Marianus, tentu aku sudah melakukan kesalahan yang sama seperti dua tahun lalu : menganggap beliau sebagai umat biasa.


Lima belas menit sebelumnya.

Pesawat yang kutumpangi mendarat cukup keras di Bandara Kalimarau, entah mengapa, padahal cuaca begitu cerah. Lantunan irama sape menyambutku ketika memasuki ke area kedatangan. Tak seperti dua tahun lalu, kali ini butuh waktu lumayan lama untuk bisa mengambil bagasi. Aku mengambil handphoneku, tergoda untuk bertanya siapa gerangan yang akan menjemputku kali ini. Tapi kuurungkan niat itu. Biarlah terjadi apa adanya. Kalau ada yang menjemput tentu sangat baik bagiku, namun jika tidak, itupun bukan masalah. Aku sudah punya tujuan kemana harus melangkah, meskipun tak tahu harus naik apa.

IMG-20190525-WA0005.jpgSenandung lagu “Leleng” dari petikan sape membuat tubuhku bergetar. Muncul kesadaran bahwa mungkin ini adalah kunjungan terakhirku ke tempat ini. Sudahkah aku siap untuk melepaskan semuanya? Siapkah aku untuk mengakhirinya?

Setelah berhasil menarik ransel dan kardus dari conveyor bagasi, aku mencoba menyemangati diriku sendiri dengan bayangan rencana-rencana perjalananku. Sekali lagi aku memohon agar bisa membawa semangat dan suka cita bagi setiap orang yang aku jumpai. Jangan sampai aku malah membawa awan mendung bagi mereka.

Perasaan ini sungguh berbeda dengan apa yang kurasakan dua tahun dan setahun yang lalu. Kali ini hatiku terasa begitu mello. Mungkin karena kata “terakhir” yang selalu muncul di benakku akhir-akhir ini.


Beberapa meter sebelum mencapai pintu keluar bandara, aku melihat Suster Ben berdiri di depan sana. Kulambaikan tanganku namun tampaknya ia belum sadar. Aku mencoba dan berupaya sekuat tenaga untuk bisa seceria mungkin dihadapan Suster Ben. Bahkan saking terlalu ceria, aku sampai dicegat oleh petugas bandara yang hendak meminta label bagasiku. Mungkin karena wajahku yang sangat excited, para petugas ini tak lama-lama menahanku. Aku bahkan tak perlu melepaskan ransel dari punggung karena kebaikan hati mereka yang langsung mengecek dan melepaskan label itu dari ranselku.

IMG-20190511-WA0005.jpgKupeluk Suster Ben dengan erat. Pelukan beliau seperti pelukan seorang ibu yang menenangkan. Rasanya menyenangkan mengetahui beliau yang menjumpaiku disini, karena bagiku beliau bukan sosok yang asing. Beliau itu seperti ibu bagi para legioner di Berau, jadi aku otomatis menganggap beliau seperti ibuku juga.


Kami bertiga meluncur melalui jalanan Berau yang kini banyak lampu merahnya. Rencananya kami akan singgah di rumah salah satu umat supaya aku bisa beristirahat. Tapi ternyata penjaga rumah itu sedang mandi sehingga tak ada yang membukakan pintu. Jadilah kami bergegas ke gereja yang jaraknya hanya sekitar 1 km dari rumah itu.

IMG-20190525-WA0001.jpg

Aku berdiri di halaman gereja, memandang gereja lama berwarna merah dan gereja baru yang begitu cantik. Dua tahun lalu gereja ini masih jauh dari rampung. Syukurlah gereja tua itu masih berdiri tegak disana. Gereja itu seperti sebuah monumen pribadiku, tugu peringatan atas pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Benua Etam. Ah.. gereja itu.. Meski aku baru dua kali bertandang kesini, namun ternyata ada banyak kenangan-kenangan yang muncul kala aku menatapnya.


“Mba, ini Pastor Agus mau bicara.”, Suster Ben menyodorkan hapenya padaku.

“Nana, maaf ya Pastor tak jadi kesana, ini Pastor baru saja sampai dari Tanjung Selor dan nanti sore harus pimpin misa pernikahan. Tak keburu kalau harus mampir kesana.”

“Yaaah.. Besok juga tak bisa ya Pastor?”

“Apalagi besok, Na. Besok kan Minggu, misanya full disini. Nantilah kapan-kapan kita ketemu yah.”

Air mataku hampir jatuh saat mengembalikan hape itu ke tangan Suster Ben. Setengah jam sebelumnya aku mendapat pesan serupa dari Pater Anggras. Kami tak bisa berjumpa karena beliau ada acara kebersamaan ke Malaysia bersama rekan-rekan imam yang lain. Ada sedikit rasa tak terima dan aku protes pada Tuhan : Inikan perjalananku yang terakhir, tapi aku malah tak bisa berjumpa dengan mereka, orang-orang yang selama dua tahun ini selalu menjadi supporter, mentor, juga “abang jarak jauh” bagiku.

Aku mensugesti diriku untuk tidak sedih. Akan ada banyak orang baru yang aku temui dan inilah saat untuk menjalin relasi yang baru. Akan ada banyak orang yang membutuhkan suka citaku, jadi aku tak boleh sedih. Dan karena ini mungkin akan jadi yang terakhir, aku harus berbuat yang terbaik, membuat kenangan yang indah sebanyak-banyaknya, dan menikmati setiap momen yang diberikan kepadaku.

Kata-kata St. Ignatius Loyola yang kubaca dalam buku Just Call Me Lopez melintas dalam pikiranku :

“I care so deeply for those I leave behind – although I know that wherever I go, I will find others, and genuine caring will develop into friendship. I guess this is God’s lesson too : Learning to let go and to move on.”


“Mba, besok boleh foto bareng Mba yaa..”, salah satu gadis di depanku membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum menatap mereka berdua yang begitu tekun merangkai bunga untuk dekorasi. Dua gadis ini asli NTT yang bersekolah di Berau, yang satu kelas 3 SMP, sedangkan yang satunya lagi baru saja kelas 1. Jauh sekali mereka harus bersekolah. Betapa hebatnya gadis-gadis ini yang sudah bisa lepas dari orang tua mereka di usia semuda ini.

“Kalian keren!”, aku mengacungkan jempolku pada mereka berdua. Mereka tersenyum malu-malu.

Harusnya aku yang minta berfoto bersama kalian, karena kalian sungguh jauhhhh lebih hebat dariku.


Segelas air hangat dan sepiring pisang goreng khas Berau menemani kami berdua di ruang makan pastoran. Aku terpaku menyimak setiap kisah yang diutarakan oleh Suster Ben tentang pengalamannya bertugas di Ambon kala kerusuhan tahun 1999. Suster mengalami rasanya menjadi pengungsi dan hidup dalam ketakutan yang mencekam. Puncaknya adalah ketika biara mereka dibakar pada kerusuhan ketiga. Aku tak menyangka bisa mendengar langsung kisah ini dari seseorang yang menyaksikan langsung peristiwa mengerikan itu, dan aku menyadari betapa kuatnya wanita di depanku ini.

Selama ini aku tak pernah tahu banyak tentang kerusuhan Ambon ini. Kala itu aku masih duduk di bangku SMP dan tak pernah mau tahu dengan apa yang terjadi di luar sana. Bahkan sampai hari ini. Tapi siang ini, cerita Suster Ben itu bagai menegur ketidakpedulianku itu. Betapa hal-hal yang kupikir begitu jauh dan tak berdampak pada kehidupanku, sesungguhnya sangat dekat dan dialami oleh orang-orang di dekatku.

Inilah salah satu hal yang sangat aku syukuri dari kehidupanku beberapa tahun terakhir, sejak aku mendapat kesempatan untuk berkunjung ke tempat-tempat yang jauh dari rumah dan berjumpa dengan begitu banyak orang dengan latar belakang dan kisah hidup yang beragam.  Aku mendengarkan. Aku membuka hati. Aku mencerna. Aku menjadi kaya inspirasi. Aku punya banyak keluarga. Aku lebih peduli. Aku penuh dengan cerita. Aku bisa melihat dunia dengan sudut pandang yang baru.

Dan aku bersyukur. 


Sore pun tiba. Aku dijemput menuju ke gereja. Disana sudah banyak legioner yang berkumpul, baik dari Berau dan sekitarnya, Tanjung Selor, dan Tarakan. Inilah momen reuni akbar bagi mereka dan bagiku juga. Mereka semua selalu memberikan pancaran energi positif yang membuatku merasa nyaman. Tak pernah aku merasa rugi harus kehilangan beberapa hari cuti demi untuk bersama mereka, bahkan aku selalu merindukan kesempatan dan perjumpaan ini, karena kebersamaan ini tak pernah bisa tergantikan oleh apapun.

IMG-20190511-WA0047.jpgIMG-20190525-WA0002.jpg

Meski mungkin tahun depan rindu ini hanya akan menjadi rindu yang tanpa batas…


Tidur siangku yang hanya sekejap ternyata berhasil mereset suasana hatiku dari yang tadinya mello menjadi bersemangat lagi. Ini adalah waktu untuk bergembira bersama mereka, biarlah aku sisihkan sejenak hal-hal yang membuat hatiku menjadi terbebani. Tak lama kemudian hadir pula Bapa Uskup, Pastor Steph dan Bruder Sigit. Sungguh beruntung aku masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan beliau bertiga ini kala yang lain tak bisa kutemui. Mereka inilah yang selalu memberikanku “bekal” dengan kisah-kisah inspiratif mereka. Sungguh aku selalu merasa terberkati bersama mereka.

IMG-20190511-WA0050.jpg


Setelah segala kesibukan di gereja usai, aku menghabiskan malam itu di ruang makan rumah yang aku singgahi, bersama dengan ibu pemilik rumah, Frater Ferry, dan Suster Melan. Meski baru saja berkenalan dengan mereka, namun kehangatan mereka membuatku merasa diterima. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuatku menutup hari dengan sebuah senyuman. Aku tahu aku mulai betah di tempat ini ketika aku mulai merasa tak rela atas waktu yang begitu cepat berlalu.

There are no strangers, only friends who haven’t met.


IMG-20190525-WA0003.jpg

Meskipun kali ini tak ada sop ikan, soto banjar, dan saraba.

Meskipun kali ini tak ada kalian di kota ini.

Meskipun tak ada lagi yang mengajakku menyeberang Sungai Segah dengan ketinting.

Meskipun tak bisa lagi menjelajahi Berau di kala malam, namun aku percaya akan ada banyak kegembiraan dalam bentuk yang berbeda.

Selamat malam, Berau.. Terima kasih untuk pelajaran hari ini.

 

Advertisements

4 thoughts on “Serpihan Kisah dari Berau – Hari Pertama”

  1. It’s a nice post Na.
    Sebuah cerita indah yang jelas banget dihamparkan di depan kita, bahwa kita mungkin tidak mendapatkan apa yang kita harapkan, tetapi kita diberikan sesuatu yang berbeda, yang tidak kalah seru dan begitu mind-blowing, hal-hal baru yang mungkin memang diberikan saat itu agar kita tersadarkan, bahwa begitu banyak yang patut kita syukuri dan begitu banyak kisah/pembelajaran yang patut kita ketahui. Sungguh Na, post ini keren banget…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s