My Journey...

Serpihan Kisah dari Berau – Hari Kedua

“Pastor, jangan ngebut ya”

“Frater, kalau pastor ngebut, tolong dicubit ya..”

Pastor Steph hanya menganggukkan kepala sambil tertawa, sementara Frater Ferry malah menjawab, “Aku tidur dan pasrah aja deh Mba..”

Aku yakin, pasti Pastor bakal ngebut, sengebut-ngebutnya. Karena beliau harus mengejar speed terakhir di Tanjung Selor yang menuju Tarakan. Beliau dan kawan-kawan imam yang lain (termasuk Pastor Anggras) akan mengikuti acara kebersamaan mereka di Malaysia. Karena ada perubahan jadwal, entah jadwal speed atau ferrynya yang dimajukan, maka sore ini juga mereka harus sudah tiba di Tarakan. (Beberapa jam kemudian saat berjumpa dengan Frater Ferry di keuskupan, kecurigaanku terjawab. Mereka berhasil “meringkas” perjalanan yang seharusnya tiga jam menjadi hanya 1 jam 50 menit.)

Padahal tadi waktu misa, aku berdoa supaya bisa pulang bareng Pastor Steph. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, dan ada banyak cerita yang ingin aku dengar dari beliau.

wp-1559104366959..jpg

Ah.. Lagi-lagi doaku tak dikabulkan.


Aku bersyukur karena siang itu ada banyak tawa yang berhasil melarutkanku di dalamnya. Ibu MC yang super gokil dan berhasil membuat kami semua terbahak-bahak, anak-anak yang menyanyi dan menari dengan lincah dan pede. Si kembar yang tahun lalu menari lenso dengan tissue, kali ini sudah dilengkapi dengan selendang. Kata Bapa Uskup, “Ada peningkatan dari tahun lalu..”

Dan karena mayoritas warga Katolik disini berasal dari NTT, tentunya tak lengkap kalau tak menari bersama. Jadilah siang itu kami menari Gawi bersama-sama. Kami bergandengan tangan membentuk lingkaran besar dan mulai bergerak ke kanan, kiri, depan, dan belakang masing-masing sebanyak dua langkah. Aku yang belum paham pola gerakan Gawi ini akhirnya harus belajar kilat dari seorang bapak yang ternyata lolos menjadi angggota legislatif tahun ini. Lumayan meringankan hati meski lama-lama kaki ini mulai terasa pegal dan keringat semakin mengucur deras.


The carnival is over. Semua sukacita ini akhirnya berakhir. Kami harus kembali ke tempat kami masing-masing.

Aku pun berpamitan pada semuanya. Berharap masih ada kesempatan berjumpa kembali, meski entah kapan dan dimana. Aku memeluk suster Ben erat. Aku memberanikan diri untuk minta berkat dari Bapa Uskup. Berkat yang berhasil membuatku jadi kuat dan sangat percaya diri dalam perjalananku selanjutnya.


“Mba Nana, jadi ikut kami ndak?”, Pak Heri dari Tarakan terengah-engah mendekatiku.

“Ndak, Pak.. aku barengan bruder..”

“Oalah.. Padahal dari tadi kami tunggu-tunggu. Ya sudah kami berangkat ya..”

Padahal aku pun belum tahu nanti ke Tanjung Selor akan naik apa. Tapi aku sudah katakan pada salah seorang perwira kuria : “Saya naik apa saja boleh, Pak.. Naik pick up juga gapapa.”

Dan terjadilah. Aku naik pick up bersama rombongan dari Desa Apung. Bruder Sigit yang bertugas menyetir tanpa driver cadangan. Setelah perdebatan sengit mengenai siapa yang akan duduk di bagian depan pick up, karena semuanya ingin duduk di belakang gara-gara takut mabuk, akhirnya aku pun bisa kebagian tempat di belakang bersama tujuh wanita perkasa dan satu balita tangguh. Buatku, duduk di bak mobil pick up ini seperti mimpi yang jadi kenyataan, walaupun tahun lalu pernah mengalami juga dari Keuskupan ke Katedral yang jaraknya hanya 7 km. Selama ini aku selalu penasaran gimana rasanya naik pick up rame-rame selama berjam-jam, dan akhirnya di usia menjelang 34 tahun, rasa penasaran ini pun terjawablah sudah

Walaupun masih pakai dress, walaupun harus setengah merayap saat naik ke atas pick up, walaupun terpaksa pamer paha. Gapapa deh. Kapan lagi bisa begini kan?


Ada banyak kenangan sepanjang jalan poros Berau – Tanjung Selor ini. Dua tahun yang lalu aku bersama Pastor Agus dan para legioner Berau melalui jalan ini juga. Kala itu, niatku untuk tidur langsung kuurungkan karena semuanya kompak memaksaku duduk di depan mendampingi Pastor. Dan aku tidak menyesal. Ada banyak kisah yang Pastor ceritakan dan ada kalung ubur-ubur yang berpindah dari spion mobil ke leherku.

wp-1559104366863..jpg

Kali ini barulah aku tahu bahwa duduk di bak mobil itu cukup menantang. Angin kencang plus debu langsung menabrak wajahku hingga mati rasa. Ketika selendang tak mampu menahan itu semua, akhirnya senjata andalan kukeluarkan : selimut tenun. Selimut itu berhasil menahan angin, dan debu, bahkan berhasil juga menutupi paha yang tak terkendali ini. Tak berapa lama, rekan-rekan seperjuangan mulai selonjoran, bahkan terlelap. Sementara aku? Aku masih mencoba bertahan dengan pose bersila karena sebuah kesadaran bahwa kalau sampai nekad selonjoran, bisa-bisa yang lain terlempar keluar.


“Ale pung nafas, bikin beta hidop.. Ale pung mata, tuntun beta jalang.. Ale pung senyum, sio hibur beta.. Ale pung suara, biking dunia indah nona e..”

Lagu itu terus menggema di kepalaku sepanjang perjalanan. Dua tahun yang lalu Pastor Agus menyetel lagu-lagu berbahasa Ambon sepanjang perjalanan, dan aku minta bantuan beliau menterjemahkan lagu-lagu yang enak itu. Dari sekian banyak, lagu Ale Pung Nafas itulah yang masih tersimpan di memoriku.

Ah, tahun ini tak ada lagi lagu-lagu Ambon itu.

Tak ada pula yang menceritakan tentang tanah berbatu bara dan para petani yang membuka ladang.


Di dekat perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, bruder membelokkan mobil ke warung di tepi jalan (beberapa jam berikutnya Bruder mengaku bahwa ia ngantuk, makanya sampai belok ke tempat ini). Aku menimbang-nimbang, kepingin turun tapi bakal susah naiknya. Nanti paha ini bisa tersebar lagi kemana-mana.

wp-1559104366837..jpg

Akhirnya aku memutuskan untuk tetap duduk sambil mencari celah untuk meluruskan kaki (walaupun hanya bisa sebelah kaki saja). Kupandang warung di seberang jalan. Waktu itu sebagian besar rombongan terkapar di tempat itu karena mabuk perjalanan. Sementara aku dan Etty malah foto-foto di depan jembatan.

wp-1559104366496..jpg
Selamat Tinggal, Kalimantan Timur

Lagi-lagi perasaan kehilangan itu muncul.

Lepaskan.. Let it go.. Let it be a good memory about us.


Setelah mengantar rombongan ke Desa Apung, akhirnya tibalah kami di keuskupan dan berjumpa dengan teman-teman dari Tarakan yang malam itu menginap juga disana. Syukurlah malam ini aku tidak akan kesepian meskipun keuskupan sedang “kosong”. Lebih bahagia lagi ketika Bruder mengajak makan ke tepian Sungai Kayan. Ini adalah tempat favoritku yang tahun lalu malah tak sempat kusinggahi.

Seperti dua tahun lalu, aku memesan ikan bakar, meskipun dulu Pastor Steph bercerita bahwa ikan ini bukan ikan asli Sungai Kayan. Bagiku, ikan ini adalah luapan isi hati atas segala kerinduan yang tak bisa dikeluarkan dan atas berbagai perasaan yang tak bisa diucapkan.

wp-1559104366741..jpg


Malam ini belum usai. Masih ada banyak cerita tentang riam dan jeram, tentang bukit dan lembah, tentang kenangan masa lalu dan rencana masa depan. Tentang kesetiaan dalam perjuangan.

Aku amat bersyukur atas segalanya hari ini, termasuk keajaiban karena sepanjang perjalanan tadi kami tak kehujanan, ditambah bisa terlelap di atas pick up, dan juga mujizat yang kurasakan ketika tubuhku nyaris terlelap malam ini : tak ada sisa-sisa pegal dari tiga jam (plus plus) perjalanan di atas bak pick up.

Selamat malam, Tanjung Selor.

8 thoughts on “Serpihan Kisah dari Berau – Hari Kedua”

      1. Iya Romo.. disana mau tak mau harus naik pick up, karena jalur Berau-Tanjung Selor saja hanya dilayani Bus Damri sekali sehari (pp). Selain itu sebagian besar memilih naik pick up supaya nggak mabuk.. hehehe.. Jadilah pick upnya dimodifikasi dengan atap terpal.

  1. Asik sekali ceritanya 🙂

    Dulu 2015 aku sempat daftar mau ikut Kulah Kerja Nyata di Keuskupan Ketapang, Kalbar. Tapi karena aku nggak sempat datang wawancara, jadi gak lolos deh ke sana. Tapi sempat akhirnya datang ke Ketapang untuk dinas dan mampir ke gereja Katolik di sana. Menyenangkan sekali 🙂

  2. Aku baca cepat cerita ini sampai di lagu ale pung nafas itu, dan aku error… kamu lagi di Kalimantan kan, bukan Ambon kan, kenapa ada lagu Ambon, akhirnya baca lagi dari atas pelan-pelan…
    Memiliki darah Ambon, membaca lirik lagu diatas aku langsung tau itu lagu ambon dan membangkitkan kenangan akan keluarga besar saat nyanyi-nyanyi lagu ambon… rameee…

    Tapi cerita ini bikin gemes deh… sepertinya ada yang disembunyikan dan aku gemas kepo dan gak sabar akhirnya… sampai akhir uuuh, masih disimpan lagi… meskipun begitu, seruuuu banget ceritanya naik pickup pake dress dan bersila. lain kali bawa celana panjang ringan Na atau kain yang bisa dibentuk jadi celana, biar gak ribet duduk 😀 😀 😀

    1. Hehehe.. itu lagu emang antik Mba.. yang ngenalin lagu itu juga unik.. Orang Bugis yang lahir dan besar di Ambon.
      Eh.. tapi pas baca komen Mba, aku langsung deg. Kok dr postingan pertama ngomongin Ambon ya…

      Hahaha. Aku sebetulnya bawa kaos dan celana Mba.. tapi demi ngirit stock baju, jadilah go show pake dress 😅😅

      Mba.. tau aja ih ada yg disembunyiin.. 😣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s