My Journey...

Semalam Di Sebatik

Film yang diputar dalam speed sudah selesai kala saya terjaga. Saya melihat jam, ah sudah hampir jam dua siang, berarti sebentar lagi speed akan merapat di Pelabuhan Sei Nyamuk (Sungai Nyamuk).

Wuihh.. Sebatik.. I am coming…

wp-1560321463694.jpg

Pulau itu sudah nampak di kejauhan, dan saya mulai menimbang-nimbang. Perlu mengontak Pak Jamal yang disebut dalam blognya Mbak Lena nggak ya? Perlu mengontak Suster Sigrid seperti sarannya Pater Anggras gak ya? Pas sinyal mulai on nih. Segala pertimbangan itu akhirnya saya singkirkan. Rasanya nggak enak kalau jadi merepotkan Suster Sigrid, apalagi saya belum pernah sekalipun berjumpa beliau. Dan mungkin karena sedang mengalami adrenaline rush karena dua kali naik speed, saya jadi merasa tertantang untuk menghadapi apapun yang terjadi di Sebatik nanti, termasuk salah satunya adalah mencari tukang ojek yang bersedia mengantar saya keliling pulau ini.

Tepat pukul dua siang speed bersandar di Sei Nyamuk. Sekilas tampak kondisi pelabuhan yang tak terlalu ramai, beda banget dengan Tarakan. Hmm.. jangan-jangan motor-motor yang diparkir di dekat dermaga itu semuanya mau menjemput keluarga atau kerabat mereka ya? Jangan-jangan disini nggak ada tukang ojek kayak di Tarakan ya? Dalam benak saya terpatri seperti ini : siapapun tukang ojek pertama yang bertemu pandang dengan saya dan menawarkan jasanya, maka saya akan langsung bernegoisasi dengan beliau. Kalau nggak ada? Ah, pasti ada lah…

Tak lama setelah speed berhenti, beberapa orang masuk ke dalam speed dan berseru “Haji Kuning.. Haji Kuning” (itu yang saya dengar yaa..). Beberapa penumpang mengiyakan dan mengikuti mereka. Lalu masuk lagi orang-orang yang lain dan berseru “Haji Kuning” lagi, dan saya membatin, banyak sekali ya keluarga Pak Haji Kuning ini. Masuk pula orang yang berseru “Yang Tawau.. Tawau”, wah Tawau Malaysia nih? Bukannya kalau mau ke Tawau harus lewat Nunukan? Orang berikutnya masuk dan berseru “Aji.. Aji..”, dan saya yakin bahwa mereka mau menjemput keluarganya Pak Aji. Jadilah saya naik ke dermaga dan berharap ada tukang ojek yang gak jemput siapapun dan menawarkan jasanya.

Saya baru berjalan beberapa langkah ketika seorang bapak mendekati saya dan berkata, “Ojek?” Nahh.. inilah yang ditunggu-tunggu… Langsung deh saya bernego dengan beliau, walaupun beliau agak-agak kaget ketika saya bilang ingin melihat perbatasan. Sepertinya benar yang dikatakan Pak Ariez, buat mereka yang di Sebatik ini perbatasan itu hanya patok “biasa aja”. Sebetulnya ada tiga tempat yang paling sering dikunjungi di pulau ini : Tugu Garuda Perkasa, patok tiga perbatasan Indonesia – Malaysia, dan pos TNI AL Sungai Pancang.

Bapak Ojek yang akan mengantarkan saya itu bernama Pak Petrus. Dari namanya saya sempat mengira beliau orang Katolik atau Kristen, tapi ups.. ternyata saya salah.. Ihh.. saya sotoy deh ah. Dan karena masih bulan puasa, Pak Petrus juga berpuasa hari itu.

wp-1560321463777.jpg

Saya berkata bahwa jika waktunya cukup saya ingin ke kampung Lourdes. Kampung ini adalah tempat tinggal warga NTT di pulau Sebatik, disini pula ada gereja Stasi Santo Petrus yang menjadi bagian dari paroki Santo Gabriel Nunukan. Sebetulnya saya baru tahu tentang kampung ini saat saya di Tanjung Selor. Semua yang tahu saya akan ke Sebatik langsung berpikir bahwa saya ingin berkunjung ke Lourdes ini, padahal kan saya awalnya hanya ingin lihat perbatasan. Hehehe. Pak Petrus bilang tidak bisa menjanjikan ke Lourdes karena hari sudah sore. Okelah, yang penting kita ke perbatasan ya Pak…

Tujuan kami yang pertama adalah Tugu Garuda Perkasa di Sei Pancang dan saya langsung merinding dibuatnya. Tugu ini terletak di dataran yang cukup tinggi sehingga saya bisa melihat laut dan daratan Tawau – Malaysia di seberang sana. Tapi yang paling bikin saya takjub adalah kalimat “NKRI HARGA MATI”. Tugu Garuda Perkasa ini dibangun pada tahun 2012 dan diresmikan tepat pada hari kemerdekaan Indonesia ke-67. Duh.. Berasa bangga banget jadi orang Indonesia saat berdiri di tapal batas negeri ini. Saya beneran merinding, rasanya baru percaya bahwa saya sungguh telah menginjakkan kaki di Pulau Sebatik yang jadi impian saya sekian lama.

wp-1560210805241..jpg

Pak Petrus tampak asyik berbincang dengan warga yang tinggal di dekat tugu itu. Ia berbaik hati memfotokan saya di depan tugu ini. Dan sayapun bangga dengan diri saya sendiri yang sudah bisa mencapai tempat ini. hehehe..

Motor Pak Petrus melaju lagi di jalanan Sebatik yang tak terlalu ramai. Lalu ia membelokkan motornya ke kanan dan masuk ke perkampungan. Saya mendadak disuruh turun dan mengabadikan pelang perkampungan itu. Ah.. ternyata inilah area perbatasan darat Indonesia – Malaysia yang terkenal itu. Rumah yang berdiri di atas dua negara itu juga ada di tempat ini. Pak Petrus bilang pemiliknya bernama Pak Yanuar, sayang ketika itu kami tak berhasil menemuinya, padahal Pak Petrus nyaris membawa saya masuk ke rumah itu.

wp-1560210805226..jpg

wp-1560210805186..jpg
Rumahnya Pak Yanuar adalah yang bercat hijau itu.

Tepat di depan rumah itu ada pos penjagaan tentara. Disana ada tiga orang tentara (yang keren-keren), salah satunya tengah diwawancarai oleh dua wanita. Pak Petrus memperkenalkan saya kepada mereka dan menyampaikan bahwa saya dari Bogor. Saya menyalami mereka semua di pos itu dan salah seorang wanita cantik itu (saya lupa menanyakan namanya) langsung bertanya, “Mba dari Bogor? Bogornya mana?” Saya lalu bertanya balik apakah dia dari Bogor juga, dan ternyata si mbak ini dari Depok. Sekilas nampak lambang makara di jaket hitam yang dikenakannya, dan langsung saja saya tembak dia : “UI ya mba?” Tembakan saya tepat dong. Hahahaha. Mereka ini dua mahasiswa pasca sarjana Ketahanan Nasional UI (kalo gak salah yo) yang sedang menyusun tesis. Ketika ia tahu bahwa saya alumni UI juga, kami langsung tertawa-tawa kegirangan. Gak nyangka banget ya dua warga UI bisa ketemu disini, ratusan kilometer jauhnya dari kampus kami.

“Mbak.. kok bisa sampai sejauh ini sih?”, tanya adik kelas saya itu.

“Hahaha.. Aku penasaran..”

“Hah, serius penasaran doang?”

“Iya.. Kan gak ada yang bisa ngalahin “The Power of Penasaran..”

wp-1560210805160..jpg

Kami pun berfoto di depan pos dan di tonggak perbatasan yang berbendera Merah Putih. Tak lupa dengan pesan Pastor Agus, saya pun mengajak dua bapak tentara itu berfoto bersama.

“Mbak, nanti kalau fotonya dikirim ke rumah, bisa-bisa ibunya bingung lho yang mana calon mantunya..”

Yaelaah Pak Petrus nih yaaaa…. hahaha

Di dekat posko itu ada sebuah gapura yang dibawahnya terparkir truk yang sedang diloading dengan berbagai macam barang. Kami melangkah ke bawah gapura itu dan saya sempat tak menyadari bahwa lokasi itu sudah masuk wilayah Malaysia. Woww… wowww.. jadi inilah yang dibilang Pastor Steph : ke Malaysia tanpa paspor.. hahaha.. Padahal saya bawa paspor lho..

Di belakang tempat itu mengalir sungai kecil yang dipenuhi oleh speed-speed kecil, konon katanya sungai inilah perbatasan asli Indonesia dan Malaysia, meski entah mengapa kini patoknya malah ada di daratan. Pak Yanuar itupun semula membangun seluruh rumahnya di wilayah Indonesia, malah beliau juga bingung mengapa kini rumahnya terbagi oleh perbatasan negara.

Pak Petrus bilang speed-speed ini berasal dari Tawau, biasanya mengangkut para TKI yang akan kembali ke tempat asalnya. Mereka ini mengambil rute ke Nunukan lalu nyambung dengan kapal besar menuju daerahnya masing-masing.

Saya lalu diajak ke tempat bongkar muat speed. Disana saya melihat tumpukan-tumpukan barang dalam berbagai jenis dan ukuran milik para TKI yang hendak mudik. Dalam perjalanan kami selanjutnya, Pak Petrus berkata bahwa hampir semua bahan pokok di pulau ini berasal dari Malaysia : gas, beras (iya, saya lihat di karungnya tertulis “Malaysia”), minyak, dan lain-lainnya. Tapi ada satu komoditas Indonesia yang laku di Malaysia sana : Indomie. Duh.. entah saya harus bangga atau sedih ya mendengar kenyataan ini.

“Pak, kebun kelapa sawit ini punyanya Indonesia atau Malaysia?”

“Separuh-separuh Mba, tapi nanti hasilnya dikirim ke Malaysia.”

“Pak, kalau warga disini disuruh pilih ikut Malaysia atau Indonesia, kira-kira pada pilih apa Pak?”, tanya saya takut-takut.

“Saya rasa sebagian besar akan pilih ikut Malaysia mba..”

Sesak dada saya mendengar kata-kata itu. Apakah kalimat “Kokohkan Merah Putih di Tapal Batas” seperti yang tertulis di patok tiga itu hanya sekadar slogan?

wp-1560210805174..jpg

Tujuan kami berikutnya adalah pos perbatasan Angkatan Laut Sei Pancang dan melewati lagi Tugu Garuda Perkasa. Dari jetty pos AL ini saya bisa melihat dengan jelas area Tawau di seberang sana. Tampak begitu dekat di mata, meski mungkin jauh di hati.

wp-1560210805080..jpg

Di tempat ini saya ditantang naik ke atas menara penjagaan yang beberapa tahun lalu dinaiki oleh Pak Jokowi. Sayangnya saya hanya berani naik hingga tingkat pertama saja. Anginnya kencang dan saya takut kayunya roboh.. hahaha..

wp-1560210805101..jpg

Saya terpaku melihat pemandangan yang luar biasa ini. Melihat Indonesia di satu sisi dan Malaysia di sisi yang lain. Tampak deretan bukit-bukit di seberang sana dan siluet kota di kakinya. Saya berupaya merekam semua pemandangan ini dalam ingatan saya. Betapa bahagianya saya menginjakkan kaki di gardu yang pernah dinaiki Pak Jokowi ini.

Kami tadinya ingin berjalan terus hingga ujung jetty, kebetulan Pak Petrus kenal dengan para tentara yang berjaga disini (sepertinya ia kenal dengan semua orang di pulau ini deh). Tapi sayangnya saat kami minta izin ke komandan yang berjaga, kami tak diperbolehkan berjalan sampai ujung, karena itu sudah kawasan terbatas, apalagi saat itu sedang ada KRI yang patroli.

Saat kami meninggalkan area posko ini, Pak Petrus menunjuk sebuah patok berbendera Merah Putih di laut yang letaknya hanya beberapa meter dari hutan bakau sisi Indonesia. Ternyata inilah batas laut Indonesia – Malaysia. Jadi kalau ada perang antar dua negara ini (amit-amit jabang bayi…), pasukan Malaysia bisa mendekati Indonesia sampai ke titik itu. Laaaahhh.. itu mah udah tinggal beberapa langkah aja dari Sebatik donk yaaa…. Dalam hati saya berdoa semoga dua negara ini rukun selalu. Amin..

wp-1560210805090..jpg
Coba cari mana patok benderanya..

Tujuan utama saya sudah tercapai sepenuhnya, sedangkan jam baru menjelang pukul 15.30. Saya lalu mencoba menego Pak Petrus untuk mengantar ke Kampung Lourdes. Ia bilang jarak kesana adalah dua kali jarak dari Sei Nyamuk ke Aji Kuning dengan jalan yang menanjak. Setelah adu gombal sambil melas-melas, akhirnya beliau setuju mengantar saya kesana. Yeaaaaayyyy… Makasih ya Pak.. baikkk bangeeeet. Si Bapak tahu bahwa saya pasti ingin berkunjung ke gereja Lourdes. Saya janji deh gak akan lama-lama disana.. hehehe…

Benarlah yang dikatakan Pak Petrus : jalannya menanjak dan lumayan curam. Saya sempat menawarkan diri untuk turun dulu dari motor karena takut kami berdua terjungkal. Tapi si bapak malah ketawa-ketawa. Katanya motor dia masih kuat kok mengangkat saya. Lama kelamaan udaranya semakin sejuk dan banyak pepohonan besar. Ah, itu tandanya kami sudah menanjak lumayan tinggi.

Ternyata hanya perlu waktu 30 menit saja untuk mencapai Kampung Lourdes. Lagi-lagi Pak Petrus langsung bertegur sapa dengan warga disana. Hebat banget deh bapak satu ini.. Saya menyelesaikan tanjakan terakhir yang lumayan curam dengan berjalan kaki (kalau naik motor, kami berdua benar-benar akan terjungkal dah). Menara lonceng di atas sana seolah memanggil saya untuk segera naik.

Dan.. tibalah saya di gereja stasi Santo Petrus Sebatik. Berkali-kali saya menyebut nama Tuhan Yesus dan Bunda Maria di sela-sela napas yang masih megap-megap. Tak lama kemudian, Pak Petrus menyusul saya. Kami tertawa mendapati kenyataan Pak Petrus ada di depan gereja Santo Petrus. Sayang ia tak mau difoto disana.

Ia lalu menunjuk seorang suster yang sepertinya tengah bekerja di halaman sebuah bangunan yang letaknya bersebelahan dengan gereja. Kami tak menyangka bahwa kami akan berpapasan dengan suster itu saat kami hendak meninggalkan gereja. Dan apa yang terjadi kemudian membuat kami bertiga terperangah.

wp-1560210804990..jpg

Suster itu bernama Suster Mikaella, PRR. Ya, beliau ini adalah rekan dari Suster Sigrid yang nomornya diberikan pada saya oleh Pater Anggras. Kala beliau melihat lambang Veksilum Legio Maria di kaos saya, beliau langsung berseru, “Legio Maria ya!” Nah kan.. Ternyata beliau ini sudah lama punya kerinduan untuk membentuk Legio di Sebatik dan mencari-cari siapa yang bisa ia hubungi untuk bisa membantu beliau, khususnya untuk mengirimkan buku pegangan. Lho kok pas banget ya kami bisa ketemuan? Kebetulan kah? Nggak.. Saya percaya ini adalah keajaiban yang sudah Tuhan aturkan buat kami.

Beliau ini dulunya mendampingi Legio Maria saat masih di Kalimantan Selatan, dan kenal juga dengan beberapa teman saya disana. Beneran deh.. Dunia ini sempit.. Semoga saja cita-cita beliau untuk membuka Legio disana dapat menjadi kenyataan.

wp-1560210805004..jpg

Suster berkisah pula bahwa esok hari mereka akan meresmikan TKK Santa Maria Lourdes yang bangunannya di samping gereja. Seharian ini beliau bersama muridnya berkeliling pulau menyebarkan undangan ke dinas pendidikan, umat, dan instansi pemerintah. Kebayang kan beliau ini naik motor di bawah cuaca yang teriknya ampun-ampunan. Di tengah jalan muridnya mengeluh haus. Suster bilang, ini bulan puasa, kita harus menghormati orang yang sedang berpuasa, toh kita nggak akan mati hanya karena nggak makan sehari. Tapi yang namanya anak kecil kan susah ya kalau sudah haus dan lapar, hingga akhirnya suster terpaksa membelikannya minum dan anak itu minum sembunyi-sembunyi.

Suster bercerita betapa hebatnya toleransi di pulau ini. Para suster dan perangkat stasi hadir dalam acara MTQ disana, bahkan menjadi tamu kehormatan. Begitu juga dalam acara-acara keagamaan yang lain, mereka selalu saling mengunjungi satu sama lain.

Kejutan berikutnya saya temui ketika kami turun dari gereja dan hendak pulang. Kami bertemu dengan para suster PRR yang lain, termasuk dengan Suster Sigrid. Hahaha.. jadi ini toh suster yang dimaksud oleh Pater Anggras. Amazing ya.. tanpa janjian kami tetap bisa ketemuan di tempat ini. How great Thou art.

Malam ini saya rencananya akan menginap di Queen Hotel, yang namanya nggak ditemukan di travel agent online manapun. Saya tahu hotel ini dari blognya Mbak Lena dan juga direkomendasikan oleh Frater Ferry. Hotel ini terletak di Sei Nyamuk dan lokasinya cukup strategis, dalam artian dekat dengan supermarket dan tempat-tempat makan.

Dalam perjalanan menuju hotel, Pak Petrus bercerita bahwa ia ini asli dari Madura, namun sejak kecil ikut dengan keluarga tantenya yang menikah dengan orang asing di Tawau. Selama puluhan tahun ini ia baru sekali pulang ke Madura, sedangkan anak-anaknya kini sedang studi di Jakarta. Ia juga berkisah tentang betapa damainya pulau ini. Ada banyak suku yang mendiami pulau ini : Bugis, Bajau, Tidung, Jawa, Ambon, Timor/ Flores, Melayu, dan suku-suku lainnya, namun mereka tak pernah berkonflik. Pak Petrus juga membenarkan cerita Suster Mikaella bahwa toleransi beragama di pulau ini sangat baik. Bahkan Pak Petrus sering main bola dengan pemuda-pemuda gereja dan kenal baik dengan bapak pendeta gereja Kristen.

Andai di seluruh penjuru dunia penduduknya kayak begini ya.. Enak banget hidup di dalamnya.


Setelah check in di Queen Hotel yang ratenya (hanya) Rp. 160.000 semalam untuk single bed (padahal kamarnya gede banget, pakai AC, ranjangnya lebar, dan kamar mandinya di dalam), saya menyempatkan jalan-jalan di sekitaran hotel. Para pedagang sudah mulai bersiap-siap meski waktu buka puasa masih sekitar satu jam lagi. Saya membeli es kelapa dan air mineral ukuran besar asli Indonesia. Ternyata harganya hanya selisih sedikit dengan di Jawa kok. Saya lalu melihat apotek. Nah.. pas banget nih karena sejak di Tanjung Selor saya kena gatal-gatal jadi saya mau membeli salep anti gatal. Harganya juga sama dengan di Jawa lho. Wah.. oke banget nih.. Jadi saya nggak perlu khawatir untuk belanja.

Sambil menunggu bedug magrib, saya ngadem di kamar hotel sambil beberes tas. Rasanya masih nggak percaya bahwa saya sudah mengelilingi sebagian pulau ini. Wih.. keren yaaa.. hihihi. Bahkan sampai saat tulisan ini dibuat, saya masih merasa excited saat mengingat pengalaman di Sebatik itu.

Setelah makan malam nasi ayam geprek di dekat hotel yang harganya juga standar seperti di Jawa, saya mendekam terus di hotel. Gema suara shalat Taraweh terdengar hingga ke kamar, menenangkan hati, meski harus terputus karena dua kali mati lampu. Tadinya sore ini Pak Petrus mau mengajak saya melihat lampu-lampu Tawau dari pelabuhan tapi terpaksa kami batalkan karena sekarang akses-akses menuju pelabuhan ditutup setelah melewati jam kerja resmi. Jadi daripada kami ditangkap gara-gara menerobos pagar, mending gak jadi aja deh.. hehehe..

Saya sempat menanyakan tentang gelap terang sisi Indonesia dan Malaysia. Menurut Pak Petrus, sisi Tawau – Malaysia terlihat terang karena mereka mendirikan kota tepat di tepi laut, sedangkan tepi laut kita dipenuhi oleh perkebunan sawit yang gelap. Namun, mengingat saya hanya mengalami dua kali mati lampu, berarti sudah ada banyak kemajuan dalam hal perlistrikan di Sebatik sini ya..

wp-1560210804905..jpg



“Pater.. Kuingin menangis terharu..”

“Kenapa?”

“Udah sampai Sebatik nih, terus begitu ke Lourdes bisa ketemu suster-suster ini tanpa janjian.”

wp-1560210804947..jpg
Suster Sigrid, PRR yang nomer dua dari kiri.

“Wooww.. Tuhan punya rencana..”


wp-1560210805197..jpg

“Eh.. kamu harus hormat di tapal batas tuh.. Di Sebatik kamu nginap di mana?”

“Waduh.. aku malah selfian.. Nggak sopan amat ya.. Aku nginep di Hotel Queen, Pater.”

“Dimana tuh? Di Sebatik kah? Atau di Nunukan”

“Di Sebatik, Pater..”

“Oh.. ada hotel toh…”


wp-1560210805261..jpg
NKRI Harga Mati!!

“NKRI di dadaku.. Malaysia di perutku..”

“Hahaha.. iya Pater, itu juga yang dibilang sama bapak ojek yang antar aku.. Si bapak bahkan bilang, kalau bisa pilih ikut Malaysia atau Indonesia, saya yakin 80% akan pilih Malaysia. Waduh…”

“Iya lah.. Tinggal nyeberang sudah Malaysia. Hampir semua penduduk Sebatik beli makanan dan cari makanan di Malaysia. The facto mereka Malaysia. Hanya de iure saja mereka Indonesia.”

Hiks.. miris ya…

Tapi saya bersyukur, disana berhasil menemukan “Autan”, “Aqua”, “Herocyn”, “Paseo” yang asli buatan Indonesia dan harganya juga sama dengan di Jawa.

Selamat malam Sebatik. Rasanya masih tak percaya saya sudah ada disini.



Pagi menjelang, seperti biasa alarm pukul lima berbunyi nyaring. Karena saya tak ada rencana kemana-mana, saya pun mlintir-mlintir menikmati kasur yang empuk dan AC yang dingin. Setelah jam menunjukkan pukul 05.30 barulah saya mengintip jendela dan melihat langit sudah mulai bercahaya.

Saya yang terobsesi dengan matahari terbit akhirnya nekad naik hingga ke lantai teratas hotel ini dan menemukan pintu menuju balkon yang tidak terkunci. Langsung deh menyesal, kenapa tadi malam nggak kesini ya, kan bisa lihat lampu-lampu dari atas sini. Huh!

Trus harus balik lagi kesini dong… *modus…

wp-1560321463838.jpg

Pendaran cahaya jingga mulai muncul dari cakrawala. How lucky I am.. Terima kasih Tuhan… Tepat pukul 05.58 WITA matahari seolah muncul dari balik lautan. Dan saya pun segera bergegas untuk mandi karena Pak Petrus akan menjemput pukul 7 nanti.

wp-1560321463811.jpg

Jadi.. ternyata yaa.. ada speed pagi pukul 07.30 dari Sebatik menuju Tarakan dan sebetulnya masih mungkin untuk mengejar flight 12.55 dari Tarakan. Tapi ya.. daripada daripada kan? Sudah lah, memang paling aman booking flight malam, jadinya kan tenang nggak pakai panik ini itu. Nanti di Tarakan juga masih bisa keliling dan cari oleh-oleh.

Tiket speed dijual di sebuah gubuk, beberapa ratus meter dari pelabuhan (aneh yak..). Di gubuk itu saya bertemu dengan seorang polisi dan anaknya. Setelah saya cerita bahwa kami sempat singgah di Lourdes, bapak polisi itu bilang, ”Beberapa tahun lalu, Mbak, sering banget terjadi bisa nyampe ke Lourdes tapi nggak bisa balik lagi.”

Ehhh?

Bapak itu sudah lama bertugas disini dan beberapa tahun lalu ia pernah berjaga di Lourdes. Perginya sih ngga masalah tapi lalu hujan turun dan jalanan yang dulu masih tanah belum beraspal langsung berubah menjadi kubangan lumpur. Alhasil si bapak nggak bisa turun dari Lourdes. Duhh.. untung saja sekarang jalannya sudah aspal. Coba kalau saya masih nyangkut di Lourdes? Gimana coba?

wp-1560321463756.jpg
Sisi Tawau sedang berkabut, kalau sedang cerah katanya bisa melihat mobil-mobil yang melaju di seberang sana.

Di pelabuhan saya bertemu dengan seorang pemuda. Lagi-lagi Pak Petrus kenal dengan orang itu. Pemuda itu bekerja di Sebatik dan hendak mudik ke Bandung. Nah, doi nekad banget mau beli tiket go show di bandara. Prinsipnya dia : kalau dapet syukur, kalau ngga dapet berarti beli tiket yang malam. Kebayang gak sih harga tiketnya kayak apa belinya mendadak begitu?


Dengan agak berat hati saya naik ke speed (dan kali ini speed kami kena inspeksi, jadi harus pakai pelampung deh). Setelah sedikit mello-mello saat speed perlahan meninggalkan Sebatik, saya pun kembali memejamkan mata dan terlelap dengan nyenyak. Hehehehe..

Oh ya, ada satu hal yang baru saya sadari menjelang pulang. Masih ingat dengan “Haji Kuning”? Ternyata yang saya dengar sebagai “Haji Kuning” itu sebetulnya adalah desa “Aji Kuning”. Itu lho lokasinya patok 3 perbatasan Indonesia – Malaysia. Jadi ya, mereka yang nyari-nyari “Haji Kuning” dan “Aji” itu sebetulnya adalah tukang-tukang ojek yang menawarkan jasa untuk penumpang yang ingin ke Aji Kuning. Jiaaaaahhhh.. *tepok jidat keras-keras.

wp-1560321463733.jpg
Bersama Pak Petrus sebelum saya naik speed. Saya titipkan selembar kartu pos padanya agar bisa dikirimkan dari Sebatik, pulau terluar Indonesia.

6 thoughts on “Semalam Di Sebatik”

  1. Waaaaa aku envy banget dengan cerita ini Naaa…. gileee…. luar biasa banget. So lucky and blessed yaaa bisa kesana dan mendapatkan banyak keajaiban… sampe merinding aku bacanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s