My Journey...

Akhirnya Tiba di Bunyu

Sesaat setelah speed bertolak dari Pelabuhan Sei Nyamuk – Sebatik, saya berkirim kabar pada orang tua di rumah mumpung sinyal masih penuh.

“Hari ini kamu mau kemana?”

“Aku mau keliling Tarakan, mam..”

“Oke.. hati-hati ya..”

Dan karena sinyal masih ada, saya browsing tempat-tempat wisata dan bersejarah di Tarakan. Ini adalah browsing kesekian kalinya sejak dua tahun lalu, dan saya baru sadar bahwa setelah dua kali ke Tarakan ternyata saya “sudah kemana-mana”. Hehehe..

Hutan mangrove : pernah dengan Pak Heri. Pantai Amal : pernah dengan Romo Har dan teman-teman fotografernya. Baloy Adat Tidung : pernah juga dengan Romo Har dkk. Rumah Bundar : sudah pernah walau hanya luarnya saja. Penangkaran buaya : belum pernah dan nggak berani. Islamic Center : pernah foto-foto di depannya bersama Pak Heri. Hmm, berarti yang belum adalah ke Tugu Perabuan Jepang, Tugu Australia, bunker, pilboks, dan situs Peningki Lama (tapi kayaknya jauh). Hmm.. Tempat wisata utamanya sih udah pernah semua ya. Sebetulnya pengen sih ke tempat-tempat bersejarah itu, tapi kok kayaknya belum dipublish untuk kunjungan umum ya?

Hmm.. Terus dari jam 9 sampai jam 5 sore nanti ngapain aja ya di Tarakan? Ah.. Udah lah, mikirnya ntar aja, mending tidur dulu.


IMG-20190613-WA0006.jpg

Kala saya terjaga, saya melihat siluet sebuah pulau di kejauhan sana. Penasaran saya mencoba mengecek di google maps (dan sinyal pun sudah on kembali). Ah, ternyata itu Pulau Bunyu.

Eh.. Bunyu? Ahaaa.. kenapa nggak sekalian mampir aja di Bunyu ya? Kan lumayan bisa dapat satu pulau lagi, apalagi sebetulnya dulu kan sempat pingin banget kesini. Saya mengecek jadwal speed Tarakan – Bunyu. Hmm.. ada yang jam 10 sih, tapi speed dari Sebatik ini baru akan sandar jam 10. Keburu nggak ya? Kalau ga kekejar yang jam 10, berarti harus naik yang jam 12 dari Tarakan. Trus jadwal speed baliknya baru ada jam 15.00.. Wah, kemepetan nggak ya? Saya kan masih mau cari oleh-oleh di Tarakan dan kalau bisa mampir sejenak di gereja. Perjalanan Tarakan – Bunyu sih katanya kurang dari satu jam.

Akhirnya saya putuskan, kalau memang ngga bisa dapat speed jam 10, berarti saya cari oleh-oleh saja dulu di Tarakan dan kembali lagi ke pelabuhan menjelang jam 12. Oke, deal!

Bunyu.. I am coming…

Ketika speed yang saya tumpangi merapat di Pelabuhan Tengkayu – Tarakan tepat pukul 10.00, saya kembali bertemu para agen tiket yang meneriakkan berbagai tujuan. Ada yang berteriak Bunyu.. Bunyu.. Saya langsung tanyakan, ini speed Bunyu yang berangkat jam berapa?

Ternyata oh ternyata, tiket yang mereka tawarkan itu adalah tiket speed pukul 10, dan sebelum saya berpikir panjang, saya sudah “dipaksa” beli tiket dan langsung disuruh lompat ke dalam speed yang sudah hampir bertolak. Bahkan pertanyaan saya tentang jadwal speed dari Bunyu saja belum ada yang menjawab. Halaahhh.. Tiba-tiba saya sudah duduk manis di dalam speed menuju Bunyu sambil cengar-cengir melongo.

Saya akhirnya mendapat info jadwal speed balik dari Bunyu dari awak speed yang mengecek tiket. Abang itu bilang ada jadwal jam 14.00. Ah.. syukurlah kalau begitu, berarti secara perhitungan waktu pasti akan cukup dan masih keburu untuk beli oleh-oleh di Tarakan. Aroma solar yang masuk ke dalam kabin membuat saya melek total sepanjang perjalanan ke Bunyu karena khawatir speednya terbakar dan saya nggak keburu kabur. Hahaha..

Perjalanan ke Bunyu hanya butuh waktu 50 menit dengan harga tiket Rp. 90.000. Karena saya ngeblank banget, akhirnya saya cuma menetapkan dua target : lihat gereja dan kirim kartu pos dari kantor pos. Jadi ketika di dermaga ada tukang ojek yang nawarin, saya cuma minta diantar ke dua tempat ini. Nggak nyangka dong ternyata semua itu bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Bahkan rasanya saya nggak sampai menempuh seperempat pulau ini. Begini nih kalau jalan tanpa planning.

IMG-20190613-WA0005.jpg

IMG-20190613-WA0007.jpg
Tangki Pertamina di Seberang Kantor Pos

IMG-20190613-WA0009.jpg

Tapi saya suka dengan kondisi pulau ini : rapi, bersih, dan tenang. Kayaknya nyaman banget deh.

Karena sudah nggak tau lagi mau kemana, saya pun kembali ke pelabuhan. Bapak ojek yang mengantar saya langsung mengarahkan ke loket-loket penjualan tiket yang terletak sebelum jetty, alias beberapa ratus meter sebelum dermaga.

Saat saya menanyakan jadwal speed berikutnya menuju Tarakan, saya diberi opsi yang ternyata PHP. Agen speed Delima bilang ada speed pukul 12.00, TAPI kalau penumpangnya ada 15 orang. Kalau nggak sampai segitu, berarti berangkat ikut jadwal semula, yaitu pukul 14.00.

“Terus sekarang penumpangnya sudah berapa Pak?”

“Baru ada lima mba..”

Yah.. pingsan dah.. Kalau udah begini, mending jangan optimis deh.. Nanti kecewa.


“Mbak, minum aja dulu sana!”

“Minum? Kan lagi bulan puasa Pak, emang gapapa?”

“Gapapa Mbak, sana masuk ke ujung. Minumlah disana!” (maksudnya di kios paling ujung)

Paaakkk.. baik banget deeeeh.. Bapak tau ya, saya belum makan sejak semalam..

Di kios itu saya nggak hanya pesan minum, tapi juga pesan indomie rebus. Tadinya sih pengen makan nasi, tapi si ibu yang masak bilang bahwa dia nggak sempat masak nasi. Mie rebus juga udah lumayan banget buat saya yang kelaparan ini.



IMG-20190613-WA0013.jpg

“Itu gereja Sebatik?”

“Bunyu, Pater.. hehehe.. Ini aku ujug-ujug ke Bunyu..”

“Lah, kok ke Bunyu?”

“Tadi naik speed jam 07.30 dari Sebatik, Ter. Nah, penerbanganku kan masih jam 7 malam, trus daripada aku mati gaya lagi di Tarakan, tiba-tiba terpikir mampir di Bunyu.. Pas aku turun di Tarakan, pas pula speed Bunyu mau berangkat. Langsung lompat deh ikut ke Bunyu.”

“Lah, nanti bisa pulang ga tuh?”

“Ini lagi nunggu speed jam 2 dari Bunyu. Titip doakan ya Ter, aku deg-degan juga ini..”

“Oohh.. ketemu Pak Agus atau Pak Dami ga? Mereka pengurus gereja.”

“Tadi ga ada orang, Pater. Hanya ada satu motor parkir di samping gereja. Mau ngetok-ngetok tapi bingung ngetok pintu yang mana..”

IMG-20190613-WA0008.jpg

IMG-20190613-WA0010.jpg



Setelah makan kenyang barulah saya mati gaya. Masih dua jam nih.. Mau keliling pelabuhan tapi panasnya ampun baginda. Udah gitu banyak bapak-bapak berwajah sangar yang bikin saya keder.

Saat saya sedang bingung dan galau, seorang kakak dari agen speed Sadewa memanggil saya dan mengajak saya duduk di loketnya. Ketika dua wanita bertemu, tahu sendirilah apa yang akan terjadi? hahaha.. Yes, kami ngobrol seru kayak udah kenal lama.

Saya sampaikan padanya bahwa Bunyu itu tenang dan rapi, kayaknya betah deh kalau tinggal disini. Si kakak malah ketawa dan bilang justru banyak pegawai muda Pertamina yang ingin sekali dipindahkan dari tempat ini. Kata mereka, Bunyu itu kayak kota mati : sepi dan nggak ada hiburan apa-apa. Setiap ada kesempatan, mereka akan selalu pergi dari Bunyu. Hmm. Padahal saya malah senang yang sepi dan tenang macam begini. Kakak itu lalu menjelaskan, Bunyu ini, walaupun lokasinya sebelahan dengan Tarakan, sebetulnya masuk dalam kabupaten Bulungan. Kondisi ini menyulitkan warga Bunyu jika harus mengurus surat-surat ke ibukota kabupaten di Tanjung Selor, salah satunya adalah pengurusan SIM yang makan waktu dan biaya yang tak sedikit. Katanya sih, ke depannya nanti Bunyu diproyeksikan sebagai kawasan pemukiman yang akan diberikan fasilitas pendukung. Tapi entah kapan yang dimaksud “nanti” itu.

Kakak itu, yang belakangan saya tahu namanya Nana, aslinya dari Medan. Ia sekolah keguruan di Jawa Timur lalu mengajar di Tarakan. Di Tarakan inilah ia bertemu dengan calon suaminya, dan setelah menikah mereka pindah ke Bunyu. Kakak ini bercerita tentang suka dukanya menjadi istri dari suami yang pernah menduda karena istri pertamanya meninggal, begitu juga tentang sulitnya menghadapi anak-anak dan keluarga besar suaminya itu. Saya salut sekali dengan kesabarannya hingga lambat laun hubungannya dengan anak-anaknya menjadi lebih dekat. Duhh.. saya jadi ngaca, masalah saya mah nggak ada apa-apanya yak..

Ketika saya cerita bahwa saya tadi naik speed Sadewa dari Sebatik dan Tarakan, si kakak bilang gini, “Mbak, aduhhh, hobby banget ya naik speed, sampai naik turun speed begitu. Gak pusingkah?” Dan saya jawab dengan jujur sambil malu-malu, “Nggak kak, soalnya di speed kebanyakan tidurnya daripada melek.. “ *asli malu…

Kak Nana menyayangkan saya yang terburu-buru di Pulau Bunyu. Andaikan saya punya waktu panjang, ia ingin sekali mengantar saya ke rumah-rumah milik orang Belanda, ke pantai, komplek perumahan yang katanya berhantu. Yah, nanti saya balik lagi deh Kak.. hehehe… *modus..

Ada banyak cerita yang mengalir dari kami berdua siang itu hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.15. Saya tadinya berniat untuk jalan kaki hingga ke dermaga, pelan-pelan dan pakai payung sambil menikmati aroma laut. Tapi langsung deh dilarang oleh Kak Nana karena siang itu panas banget. Si kakak ini malah menyuruh salah satu awak speed Sadewa untuk memboncengi saya sampai dermaga (awak ini tuh yang tadi di speed saya tanyai jadwal). Padahal speed yang akan saya naiki sebetulnya kompetitor mereka kan. Kak Nana juga menyuruh saya minum dulu sebelum berangkat. Duh.. kalian ini baik banget yaaaaa…

Si abang yang mengantar saya juga nggak kalah baiknya (walaupun slengean khas awak kapal lah..). Ketika ia melihat saya memotret pelang nama PT Pertamina, langsung deh dia berinisiatif untuk motret saya di depan pelang itu (bukti udah pernah ke Bunyu katanya). Abang ini juga berpesan supaya saya balik lagi kesini dan kapan-kapan mampir di Derawan. Hiks.. Abang.. ini tuh mimpi saya sejak dua tahun yang lalu, tapi nggak kesampean melulu..

IMG-20190613-WA0011.jpg

Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 namun speed Delima belum juga muncul, wah, kemanakah dia? Ah.. ternyata karena awaknya masih baru (dan sepertinya ketiduran) dan belum ngeh dengan jadwal keberangkatannya. Speed yang akan saya naiki ini beda dengan speed sebelum-sebelumnya, bagian belakangnya terbuka lebar sebagai pintu keluar masuk penumpang. Nah si abang awak speed Sadewa itu langsung deh nyuruh saya duduk di pojok belakang supaya bisa lihat pemandangan. Sayangnya tempat itu keburu diduduki dan saya harus puas duduk di nomor dua dari pojokan. Di atas speed itu hanya ada tiga perempuan dari sekitar 20 orang penumpang : saya dan seorang ibu beserta balita perempuannya. Ada dua pekerja Pertamina yang akan menuju ke Tarakan dengan hanya membawa satu ransel dan papan jalan. Berasa jarak dekat banget ya, Pak?

Ketika speed mulai menjauh dari pelabuhan, saya lambaikan tangan saya pada si abang speed Sadewa itu. Saya betul-betul bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik sepanjang perjalanan ini. Inilah Indonesia yang penduduknya ramah, suka menolong, dan penuh toleransi. Dan saya malah menemukan kenyataan itu di tempat-tempat yang begitu jauh dari rumah.

Saya teringat seorang suster di Nanga Pinoh yang menyuruh saya mencicipi air sungai Melawi sebagai tanda hormat kita pada alam yang kita pijak. Kali ini dalam perjalanan speed saya yang terakhir menuju Tarakan, saya mempraktekkan hal itu. Saya julurkan tangan supaya bisa terkena cipratan air laut, tapi kala air laut memukul tangan saya, cipratannya mengenai orang-orang di sebelah saya. Ups.. saya jadi merasa bersalah. Saya cicipi air laut yang asin itu sambil berdoa dalam hati semoga bisa lagi menginjakkan kaki di tanah Kalimantan.


Tadinya saya sempat berpikir bahwa saya akan terus terjaga sampai Tarakan. Anginnya kencang banget dan pasti saya bisa melek melihat pemandangan karena speednya terbuka. Tapi ternyata, saya sempat terlelap juga selama sekian menit menjelang Tarakan. Padahal saya sempat mencela bapak yang duduk di pojokan : “Dih, cuma mau tidur aja duduknya di pojokan. Mending kursinya buat saya aja yang mau lihat pemandangan…” Eh ternyata saya malah ikutan tidur juga..

Dasar tukang molor..

3 thoughts on “Akhirnya Tiba di Bunyu”

  1. Duh, aku sampai buka peta Kaltara nih Na… soalnya kenapa kepikirannya Tarakan itu deket sama Samarinda yaa? Padahal jaauuuuuuuuh banget hahaha… kan yang satu di utara yang satu di selatannya balikpapan.
    Jadi ketika baca post ini, rasanya error… kan jauh dari Bunyu ke Tarakan… Kan jauh dari Sebatik ke Tarakan, hahahah
    *Maaf geografi dapat 5 pas pengembangan propinsi 😀 😀

  2. “………komplek perumahan yang katanya berhantu.” Kok saya jadi penasaran komplek perumahan mana yg berhantu. Saya pernah tinggal di Bunyu tahun 1991 – 1995, di Komplek Perumahan Nibung Baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s