My Journey...

[Philippines] An Intro

“Ngapain ke Manila lagi?”

Itu pertanyaan ibu saya saat saya minta izin untuk travelling pas libur lebaran kemarin. Itu juga yang ditanyakan Diakon Waluyo saat kami ngobrol iseng pada suatu pagi.

“Mba, ga salah mau ke Manila lagi? Ngapaainn.. Mau ketemu siapa?”

Saya bingung mau jawab apa. Karena saya juga sebetulnya bingung kenapa saya ujug-ujug pengen ke Manila lagi, padahal baru Desember lalu saya kesana. Hmm.. mungkin karena saya punya “dendam terpendam”, karena saya hampir selalu dikawal dalam dua kali kunjungan ke Manila dan sekitarnya. Akibatnya saya jadi kurang bisa mengeksplorasi banyak tempat. Jadi kali ini saya ingin menantang diri saya sendiri, bisa nggak benar-benar sendirian disana.

Atau mungkin karena saya terpikat dengan Royal Brunei yang memberikan transit di Brunei, mengingat Brunei adalah salah satu negara yang belum bisa saya kunjungi karena tiket kesana mahal bingits. Padahal nih ya, jadwal transit saya juga nggak oke banget (nanti ada ceritanya deh tentang ini).

Hmm.. Mungkin juga karena saat saya booking tiket itu suasana hati saya lagi galau karena sedang mempersiapkan tugas ke Tanjung Selor. Jadi saya mencari pelarian dan pelampiasan. Hahaha..

Ah.. mbuhlah.. Pokoknya saya udah beli tiket PP Jakarta – Manila transit di Bandar Seri Begawan. *walaupun sejujurnya ada sedikit rasa menyesal juga sih..

Mungkin sebetulnya ada kebenaran di balik jawaban saya pada Diakon Waluyo : “Ada yang belum selesai disana..”

Meski saya juga nggak tau apa yang belum selesai itu.

Sepulang dari tugas ke Tanjung Selor (plus plus), barulah saya serius mikir, “Mau kemana dan ngapain di Manila?” Satu obsesi saya adalah ngelilingin Intramuros sampe puas, apalagi ada museum yang baru dibuka disana. Pertama kali ke Manila enam tahun lalu, saya kena scam di tempat ini dan jadinya gondok banget (tapi nggak kapok sih.. hehe). Trus saya berasa diburu-buru jadi kurang puas deh. Lalu waktu Desember lalu balik kesini saya cuma sempat mampir di Katedral Manila dan San Agustin. Kali ini harus dapet semua, kalau perlu (dan kuat) kelilingnya dari pagi sampai malam.

Terus saya pengen kalap beli buku-buku bagus.. Hihihi. Konon katanya, Manila ini gudangnya buku-buku berbahasa Inggris dengan harga miring. Apalagi untuk buku-buku bertema rohani.

Lalu mendadak satu nama muncul di kepala saya : Rob. Ia adalah seorang warga USA yang sama-sama ikut tour ke Corregidor enam tahun yang lalu. Dalam emailnya Rob pernah berkisah bahwa ia ingin mengunjungi Bataan. Ah.. ya.. ya.. Bataan Death March. Guide kami di Corregidor pernah mengisahkan hal ini dan Bataan ini adalah satu bagian penting dalam kisah Perang Pasifik. Jadi mari kita plot waktu untuk ke Bataan juga.

Plus satu hal lagi. Saya mendapatkan artikel tentang Visita Iglesia dari sebuah website. Umat Katolik Filipina punya tradisi unik saat pekan suci, mereka berkunjung ke beberapa gereja dalam periode itu lalu mendaraskan dua stasi jalan salib di masing-masing gereja. Tak cuma berdoa, mereka juga diajak untuk mengeksplor  masing-masing gereja itu. Biasanya gereja-gereja yang dipilih adalah gereja-gereja tua yang bersejarah, yang arsitekturnya unik, atau gereja-gereja yang ditetapkan sebagai pusat devosi atau pusat ziarah, baik di tingkat keuskupan maupun di tingkat nasional. Trus, karena gereja yang ada di artikel itu keren-keren semua, jadilah saya terobsesi untuk bisa “menaklukan” delapan gereja di Manila yang tercantum dalam artikel itu, yakni : San Agustin, Katedral, Malate, Tondo, San Sebastian, Quiapo, Binondo, dan Sta. Ana. Ternyata upaya untuk menemukan kedelapan gereja itu memberikan kisah serunya sendiri-sendiri, meski ada beberapa gereja yang sudah pernah saya kunjungi, tapi tetap saja butuh perjuangan.

Kurang dari seminggu sebelum perjalanan, saya kena radang tenggorokan dan lumayan bikin terkapar. Segala macam usaha saya lakukan supaya bisa sembuh, salah satunya adalah beli antibiotik tanpa resep dokter *ups. Lumayan membaik sih, tapi tetap saja badan ini rasanya nggak fit saat berangkat (begitu juga sepanjang perjalanan, terutama saat bangun pagi). Cuaca Manila yang panas banget, udara laut, vitamin ini itu nggak berhasil memulihkan kondisi saya. Tapi selama kaki masih bisa diajak berjalan, badan masih bisa berdiri tegak, keringat masih mengalir deras, dan perut masih terasa lapar, saya nggak akan menyerah apalagi sampai ngejogrog seharian dalam kamar. Puji Tuhan saya bisa bertahan selama enam hari perjalanan dengan berbagai macam perlengkapan perang dan doa tanpa henti.

Sebelum berangkat, saya melakukan kedodolan amat sangat. Peta Manila dan Filipina yang selalu jadi andalan saya ketinggalan di office pabrik. Dan saya sadar saat sudah di Bogor. Yaelaaaahhh.. kok bisa yaaa… Padahal itu satu-satunya peta yang saya punya dan saya lebih pede menggunakan peta lebar daripada google maps. Tapi ya sudahlah. Mau gimana lagi kan? Dalam sisa waktu yang ada, saya mendownload peta LRT-MRT Manila (yang aneh bin ajaib dan nggak familiar). Saya juga membiasakan untuk membaca google maps yang tampilannya lebih detail. Selama ini saya cuma pake si maps kalau pas lagi naik kendaraan umum aja, biar gak nyasar.

Oh iya.. siapa yang berani-beraninya bilang “Women can’t read maps”? Kami bisa kok baca peta, walaupun kadang loadingnya lama dan sedikit error. Hihihi..

Pada akhir perjalanan saya merasakan begitu banyak keajaiban yang saya alami, yang kalau dilihat dari kacamata manusia mungkin hanya seperti rangkaian kebetulan. Tapi saya percaya keajaiban. Saya juga percaya bahwa saya sebetulnya nggak pernah sendirian. Ada banyak pengawal “nggak kelihatan” yang tak pernah lengah menjaga dan menunjukkan jalan. Walaupun badan ini berasa mau rontok (bahkan sampai hari ini, dua minggu setelah saya pulang), tapi saya bisa bilang : saya puas banget dengan perjalanan ini.

Setiap daerah punya cerita dan keindahannya sendiri-sendiri. Semua tergantung apa yang ingin kita dapatkan dari tempat itu. Nggak perlu banding-bandingin mana yang lebih bagus, apalagi dengan teganya mencap suatu tempat sebagai tempat yang jelek dan nggak perlu dikunjungi.

Explore, learn and listen, make friends, open your eyes and ears, laugh and smile, think positive. And suddenly you’ll realize the beauty of this world.

Advertisements

4 thoughts on “[Philippines] An Intro”

  1. ” Setiap daerah punya cerita dan keindahannya sendiri-sendiri. Semua tergantung apa yang ingin kita dapatkan dari tempat itu. Nggak perlu banding-bandingin mana yang lebih bagus, apalagi dengan teganya mencap suatu tempat sebagai tempat yang jelek dan nggak perlu dikunjungi”

    Bwahahahaha…. rasanya baru kemarin ada yang ngomong gini deh… sambil sebel
    *kaburkenceng…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s