My Journey...

[Philippines] Hello Again, Manila!

Pesawat Royal Brunei yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di landasan Ninoy Aquino International Airport. Setelah lebih dari dua belas jam meninggalkan rumah, akhirnya tiba juga di negeri ini. Sambil menunggu untuk bisa turun dari pesawat, saya memperhatikan para groud officer yang tengah sibuk di bawah sana. *Eh.. ada yang ngganteng tuh.. 😅

Tanpa ditanyai apa-apa, saya melenggang lancar melewati pos imigrasi. Bahkan saking lancarnya, saya langsung bablas melangkah keluar dari area kedatangan. Ketika sudah berdiri di luar dan melihat antrian penumpang yang menunggu taxi atau Grab (maaf bukan ngiklan 😂), barulah saya sadar belum tukar uang dan belum punya SIM card. Tapi ah, saya kan masih punya sisa uang sekitar 2100 PHP (Peso) hasil peninggalan dari trip tahun 2013 dan Desember 2018 lalu. Harusnya cukuplah untuk bisa mencapai hostel saya di Santa Mesa. Tapi.. kok saya nggak sanggup ya membayangkan hidup tanpa koneksi internet. Apalagi ini sudah malam dan saya gak tahu apakah di dekat hostel nanti ada tempat untuk beli SIM Card. Hedeeeh.. gejala kecanduan internet nih..

Bayangan mati gaya tanpa koneksi internet itulah yang membuat saya nekad untuk minta izin ke petugas bandara supaya bisa masuk lagi ke area kedatangan. Untungnya sih petugasnya nggak terlalu saklek dan tas saya cukup dilewatkan pada conveyor X-ray saja. Dalam hati saya membatin, “Kamu tuh ya.. Bisa-bisanya ceroboh saat sendirian kayak gini.”

Tapi selalu ada yang bisa disyukuri dari setiap kejadian. Ketika saya hendak membayar SIM Card seharga 500 PHP, saya diberi tahu bahwa lembaran uang 1000 PHP, 500 PHP, dan 50 PHP yang saya bawa sisa trip tahun 2013 sudah nggak berlaku, alias sudah ditarik dari peredaran. Tuh kan.. untung aja masuk lagi ke airport. Coba kalau tadi langsung ngeloyor naik taxi, bisa-bisa gak punya duit untuk bayar hostel dan taxi.

Money changer juga membenarkan info dari mbak-mbak counter tadi, bahkan menjelaskan bahwa uang-uang ini sudah nggak bisa ditukarkan ke bank. Wedeh.. mendadak bangkrut dong saya.. 😒

Setelah selesai urusan dengan SIM Card dan money changer, saya pun bergegas keluar. Jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 10 malam, jadi rasanya percuma nekad ngejar LRT di Baclaran yang kereta terakhirnya pk 21.00.

Saya akhirnya melangkah ke counter Grab dan minta bantuan petugasnya untuk mengorderkan buat saya. Setelah lama menunggu ternyata orderan saya dicancel oleh drivernya. So.. nasib harus tunggu driver berikutnya dan kena kenaikan tarif juga. *menghela nafas..

Hello again, Manila! Walaupun hari sudah malam, tapi kota ini masih saja macet gila. Kali ini semakin parah karena pembangunan fly over. Selain macet kami pun harus bersaing dengan truk-truk besar yang “sadis”.

Walaupun saya lolos tak ditanya ini itu oleh petugas imigrasi, tapi saya harus menghadapi driver Grab yang menginterogasi saya. Mulai dari “Mau kemana saja di Manila?” dan “Sudah berapa kali kesini?”, hingga pertanyaan umur berapa dan status perkawinan. Saya pede saja menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lain, tapi saat dia tanya saya masih single atau udah nikah, saya langsung berasa gugup. Bukan.. bukan geer.. Tapi berasa jadi perawan di sarang penyamun gitu lho. Pengennya sih saya jawab status saya : double.

Ketika dia tanya apakah saya punya keluarga disini, saya langsung jawab, “Kawan saya tinggal di Bagong Silangan.” Sebetulnya kawan saya itu seorang suster di Tandang Sora, tapi entah kenapa yang keluar dari mulut saya malah Bagong Silangan. Hari ini saya baru kepikiran, untung juga sih saya nyeplos Bagong Silangan, mengingat daerah itu katanya tingkat kriminalitasnya tinggi. Jadi kalau kawan saya tinggal di Bagong Silangan, mungkin bisa menggiring opini bahwa kawan saya itu “jagoan” hahahaha..

Eh.. Si driver malah bilang begini (pake Boso Inggris tentunya) : “Enak ya jadi kamu, masih single dan ga punya responsibilities, jadi bisa jalan-jalan dengan bebas.”

*langsung deh saya merasa jadi perempuan yang nggak bertanggung jawab.. 🙃

Singkat cerita, satu jam kemudian saya pun sampai di Sulit Dormitel di Santa Mesa. Walaupun hanya berjarak sekitar 200 meter dari Mall SM Santa Mesa, tapi jangan bayangkan daerah ini sebagai daerah yang wah. Kesan pertama saya adalah : daerah ini agak kumuh dan banyak orang-orang yang nongkrong sepanjang jalan. Si Sulit Dormitel ini bisa dibilang satu-satunya bangunan bertingkat yang paling keren di antara rumah-rumah yang lain.

Tapi begitulah Manila. Saya pernah menginap di daerah Ermita dan Quaipo, dan memang kumuhnya sama. Hehehe.. Tapi buat saya ini kesempatan untuk bisa membaur dengan warga sekitar dan nggak menampakkan diri sebagai turis.

Dalam rangka penghematan, saya booking satu bed di female fan dormitory. Iyes.. boboknya rame-rame dan hanya pakai kipas angin. Rasanya sayang booking kamar mahal-mahal kalau hanya dipakai untuk beberapa jam saja dalam sehari. Sempat ragu sih karena Manila kan panas banget. We’ll see lah..

Ketika saya diberikan kunci magnetik kamar 503, siksaan pun dimulai. Gak ada lift untuk naik ke lantai 5, jadi saya harus megap-megap gotong ransel ke atas. Untung saja nggak ada lantai 4, lumayan kan dapat diskon satu lantai. Ketika saya buka kamar, saya langsung disambut dua orang wanita (sepertinya ibu dan anak) yang sudah duluan menghuni kamar itu. Saya kebagian ranjang bagian atas dan harus memanjat pelan-pelan karena dua alasan : ngga mau mengganggu si ibu yang sudah terlelap di bawah saya, dan saya takut ranjang kayu ini roboh.

Walaupun sudah berupaya sepelan mungkin, tapi raksasa ini tetap saja bikin heboh, ranjang kayu itu langsung kriat kriet bergoyang. Trus saat beberes tas, gak sengaja charger batere kamera jatuh ke lantai dengan kencang (si ibu di bawah saya langsung “ngomel” deh).

Hiks.. baru berapa jam disini, charger batere sudah retak dan colokannya patah. Duh… trus batere kamera saya nggak makan dong? Yah.. nasib harus beli batere nih, untungnya kamera saya pakai batere A3 biasa.

Masalah berikutnya adalah colokan yang posisinya ada di bawah, alias jauh dari jangkauan saya. Padahal saya mau setting alarm hape. Saya nyengir membayangkan situasi ini : saat alarm bunyi saya langsung bikin gempa bumi karena reflek lompat turun dari ranjang. Jadilah harus diakal-akalin supaya handphone yang sedang dicharge itu bisa tetap ada dalam jangkauan saya.

Saat saya sudah membaringkan badan hendak tidur, terasalah betapa kencangnya kipas angin gede itu. Saya merasa serba salah, kalau pakai selimut panas banget, kalau ga pakai selimut, bisa-bisa saya kagak bisa bangun. Duh.. duh.. Pengen ngakak dan pengen nangis.. Baru aja petualangan ini dimulai kok udah rempong kayak begini ya.

Akhirnya semalam suntuk saya ngga bisa tidur nyenyak, sibuk melindungi diri dari angin sekaligus sibuk mencari cara supaya nggak kegerahan. Hahaha.. ribet bener dah..

Hasilnya : keesokan paginya saya bangun sebelum alarm berbunyi dan langsung mandi. Duh.. Kenapa beneran sulit ya nginep di Sulit ini.. 😭


Apapun yang telah terjadi dan akan terjadi, semoga saya selalu bisa menghadapinya dengan penuh suka cita.

Mabuhay, Manila!


Advertisements

4 thoughts on “[Philippines] Hello Again, Manila!”

  1. Ya ampuuun… beneran aku jadi orang paling oon sedunia deh kalo bicara Manila. Sedangkan dirimu sudah kayak Pinoy yang tau ini dan itu. Hufft… mau dirancang kesana lagi tapi spirit jalan2nya lagi agak ngambek niih, keenakan tidur di rumah… Beneran mesti dijeburin lagi ke manila… ntar belajar dulu darimu… 😀

    1. Waduh Mba.. hehehe..
      Ini aku malah kudu sungkem sama dua orang yang pernah nganterin aku kesana kemari disana. Kalau ga diajarin mereka udah pasti aku nyasarnya kesana kemarin dah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s