My Journey...

[Philippines] “Menjemput Seseorang” di Novaliches

Salam ya Ratu, Bunda yang berbelas kasih. Hidup, hiburan, dan harapan kami.

Kami semua memanjatkan permohonan, kami amat susah, mengeluh mengesah dalam lembah duka ini.

Ya ibunda, ya pelindung kami, limpahkanlah kasih sayangmu yang besar kepada kami.

Dan Yesus, Puteramu yang terpuji itu semoga kau tunjukkan kepada kami.

O Ratu.. O Ibu.. O Maria.. Bunda Kristus.

Dengan suara serak dan beberapa kali mengulang karena lupa liriknya, saya menyanyikan lagu itu di depan makam Kuya Richie.

Mungkin keinginan untuk berlama-lama di tempat ini termasuk dalam kategori “hal yang belum selesai”, seperti yang saya katakan pada Diakon Waluyo. Meski di dalam hati ada rasa janggal, mengapa bisa-bisanya saya betah nangkring di depan makam seseorang yang tak punya hubungan apa-apa dengan saya. Meski di dalam hati terpikir juga, mungkin Kuya Richie di surga sana bertanya-tanya siapa saya sampai dua kali datang jauh-jauh ke makamnya.

Kuya Richie, anggap saja orang ini sebagai fans beratmu..

Kali ini saya punya waktu yang panjang, bahkan tanpa batas, untuk bisa berlama-lama disini. Saya memasang lilin, berdoa rosario, menyanyikan Salam Ya Ratu, berdoa bagi orang-orang yang sudah meninggal. Saya mencari doa apa lagi yang bisa saya daraskan untuk bisa tetap disini.


Beberapa jam sebelumnya.

Saya meninggalkan Sulit Dormitel sekitar pukul tujuh pagi lalu naik LRT dari stasiun V Masa menuju Araneta – Cubao.

Saya mengingat kenangan perjalanan saya ke Sacred Heart Novitiate – Novaliches bersama Diakon Waluyo. Kala itu kami naik bus menuju SM Fairview dari depan Robinsons Galleria – Ortigas. Dari seberang SM Fairview kami nyambung bus jurusan Tungko dan turun di seberang Sacred Heart. Setelah pulang kami baru sadar bahwa kami sebetulnya bisa langsung naik bus jurusan Tungko dari depan Robinsons.

Karena hanya tahu rute itu, maka saya pun menyusun rute :

LRT [V Masa ~ Cubao] – Jalan menuju stasiun LRT Araneta Cubao – MRT [Araneta Cubao ~ Ortigas] – Jalan menuju Robinsons Galleria – Naik bus menuju Tungko.

Ternyata tak mudah menemukan stasiun MRT Araneta Cubao dari stasiun LRT Cubao. Berkali-kali saya harus membolak-balik hape untuk memastikan posisi saya dalam google maps. Ketika ketemu jalan EDSA saya melihat banyak bus menaikkan penumpang, dan ada pula jurusan SM Fairview diantaranya. Hmm.. mungkinkah ada yang jurusan Tungko juga?

Ah.. Daripada daripada, saya mengurungkan niat untuk naik bus dari situ dan melanjutkan langkah saya menuju stasiun MRT.

Pemandangan khas EDSA Shrine di pertemuan Ortigas dan EDSA

Sekian puluh menit berikutnya saya cuma bisa nyengir mendapati kenyataan bahwa bus yang saya naiki di Ortigas juga melalui Araneta-Cubao. Hedeuh.. tau gitu mah gak usah buang waktu ke Ortigas. Udah gitu saya nyengir lagi kala membayar ongkos bus. Saya tunjukin alamat Sacred Heart Novitiate, eh si bapak kenek malah geleng-geleng kesel. Haha.. alhasil saya bilang aja “SM Fairview”.

Sepanjang perjalanan itu sama sekali nggak ada rasa excited mau “ketemu” Kuya, saya malah masih unek-unek gara-gara semalam kurang tidur. Mau tidur di bus juga nggak berani, takut bablas. Saya masih geregetan juga kenapa tadi nggak naik bus di Cubao, saya kan bisa ngirit waktu.

Tapi.. Bahagia itu ternyata berasal keputusan diri sendiri. Ketika saya akhirnya bilang “Ya udahlah..”, saat itu juga semua unek-unek mulai minggir satu demi satu, termasuk ketika saya diturunkan di Mater Carmeli School, 500 meter sebelum Sacred Heart. *jalan kaki melulu yak…


Langit mendung dan suasana hening menyambut saya di Sacred Heart Novitiate. Saya melangkah dengan tenang di bawah pepohonan rimbun, mengenang enam bulan lalu kala saya dan Diakon Waluyo melangkah terburu-buru di tempat ini kala matahari nyaris terbenam.

 

Saya menikmati kicauan burung, menyapa ayam-ayam dan kambing-kambing yang muncul dari tepi jalan. Kesendirian ini betul-betul membuat saya nyaman dan relax to the max.

Saya tersenyum membayangkan kehidupan Kuya Richie disini saat menjadi novis Serikat Jesus sejak tahun 1990 hingga 1992.


Halo Kuya.. ketemu lagi ya.. Seneng deh bisa balik lagi kesini.”

Lalu saya pun kehabisan kata-kata, hanya bisa berdoa dan minta doanya Kuya sepanjang perjalanan ini.

Meskipun tertutup awan, namun panas matahari tetap terasa begitu terik. Keringat mulai mengucur tapi saya enggan beranjak dari kursi batu di dekat makam Kuya Richie. Hingga ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas, saya pun berpamitan padanya dan para Yesuit yang dimakamkan disitu.

Kuya Richie gak hanya mendoakan saya, tapi saya merasakan bahwa ia mendampingi saya sepanjang perjalanan. Bukan berarti perjalanan saya mulus tanpa hambatan : saya tetep nyasar, salah pilih jalan, bingung, khawatir, bahkan nyaris kehabisan uang. Tapi saya selalu merasakan pertolongannya ketika saya memanggil namanya dalam segala situasi. Itulah mengapa saya katakan bahwa saya “menjemput seseorang” di Novaliches.

Ada banyak kisah di balik dua makam ini : https://takayamaukon.com/the-search-for-the-bones-of-takayama-ukon/

Setelah pulang dan membaca lagi kisah perjalanannya, ternyata ketika menjadi novis ia juga melakukan kesalahan saat memilih rute pilgrimasi (perjalanan menuju suatu tempat yang ditempuh dengan berjalan kaki. Tidak boleh membawa uang, makanan dan minuman, untuk merasakan kemiskinan dan ketegantungan seutuhnya pada Tuhan). Ia menempuh jalan yang lebih jauh, berlumpur, dan berbahaya, padahal ada jalur yang lebih dekat, aman, bahkan akan melewati tempat tugas sahabatnya.

Rasanya dengan “membiarkan” saya nyasar, bingung, dan melakukan “sedikit” kebodohan, ia ingin agar saya peka untuk belajar tentang kehidupan yang nyata dan tentang mereka yang hidup di atas dunia ini. Saya juga diajar untuk hemat dan bijaksana dalam menggunakan uang, menggantungkan diri pada Tuhan dan semua orang yang saya temui. Bikin deg-degan sih, tapi betul-betul pengalaman perjalanan yang amat luar biasa.

My strong man from heaven

“Plunging into the unknown made it easier for us to depend on God and perhaps, to be with God.” (Sch. Richie Fernando, SJ)


Mumpung di Novaliches, saya ingin sekali mampir di gereja Mary the Queen. Itu adalah gerejanya Kuya Richie sekeluarga, bahkan di belakang altarnya ada kaca patri bergambarkan Kuya Richie.

Dengan bantuan security Sacred Heart, saya naik jeepney menuju Bayan. Bapak security itu, yang namanya Aquillas, rela panas-panasan mencarikan saya jeepney yang kosong, tapi ia tak berpesan dimana saya harus turun. Nah.. untungnya saya pakai gps untuk memastikan posisi saya. Saat gps menunjukkan posisi saya menjauh dari gereja, saya pun segera minta turun. Waduh.. ini bagaimana kumaha ya.. Mana matahari pas sedang terik-teriknya di atas kepala. Rasanya udah klenger banget.

Di depan Robinsons Fairview saya akhirnya memutuskan naik tricycle, tapi apa daya saya malahan ditolak oleh abang yang pertama. Lalu abang yang kedua menyanggupi setelah saya tunjukan alamat gereja itu.

Tapi tahu gak apa yang terjadi? Setelah mengambil rute yang saya yakin salah – tapi bingung gimana mau bilanginnya, si abang itu berhenti di sebuah rumah kecil, mirip kios makan pinggir jalan. Si abang dengan yakinnya bilang bahwa kami sudah sampai di tujuan.

Lho? Lho?

Setahu saya gereja Mary the Queen itu guede deh, atau mungkin saya harus masuk ke gang dulu ya? Ah, saya yakin si abang pasti salah.

Saya tunjukkan lagi alamat gereja seperti yang tercantum di google maps. Si abang pun nyengir dan menunjuk arah berlawanan. Ya udah, Bang.. antarkanlah adek ni kesana..

Saya melihat sekilas rumah kecil tadi, dan terbacalah tulisan “USG”. Eh.. ini klinik bersalin? Atau jangan-jangan ini klinik aborsi? Ya Gusti.. 😅😅

Saya pun berkata dalam hati, “Kuya.. aku pengen banget lihat gerejanya Kuya.. Tolong tunjukin jalan ke si abang ini ya..” Gak sampe lima menit, kamipun tiba di depan gereja bernuansa biru itu.

Tapi saya kecewa banget ketika mendapati gereja dalam keadaan terkunci. Menurut petugas sekretariat, gereja baru akan dibuka menjelang misa sore pukul 17.30. Hiks.. masih lama banget. Padahal saya masih punya banyak tempat yang harus dikunjungi.

Yah.. nasib dah.. akhirnya saya tinggalkan gereja itu dengan hati hampa.

Dari halte dekat gereja saya naik bus menuju Cubao (soalnya cuma tahu Cubao doang). Trus gara-gara tidur saya malah turun di Kamuning (bukan Kamuningnya Bandung lho), sekitar 1 km sebelum Cubao, tepat saat matahari sedang sangar-sangarnya. Ya.. ya.. mari kita berjuang jalan kaki lagi.. *sambil ngos-ngosan..

Setelah ngos-ngosan jalan dari Kamuning ke Cubao, bahagia banget bisa menemukan Mang Inasal yang nggak terlalu penuh. Mari makan..
Kali ini bisa makan halo-halo dengan tenang. Padahal sedang radang tenggorokan nih.

Selamat tinggal Novaliches.. Semoga suatu hari bisa kembali dan melihat kaca patri Kuya Richie..

7 thoughts on “[Philippines] “Menjemput Seseorang” di Novaliches”

  1. Rasanya hati ini amblesss saat liat dimana your strong man itu dulu berdiri. Tanpa penjelasan di foto tapi aku tau persis, makanya hati ini rasanya langsung mrosot… bleeeg…
    Ah aku jadi penasaran apakah dirimu sempat melihat lagi kaca patrinya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s