My Journey...

[Philippines] Legarda : From San Miguel to San Sebastian

Malacanañg : Mimpi yang belum tercapai

Sebelum keberangkatan saya ke Manila Desember lalu, ada seseorang yang menyebut nama Istana Malacañang (asli saya lupa siapa orangnya). Saya browsing dan menemukan paket tour di klook. Akhirnya sih saya harus mengubur keinginan berkunjung kesana karena waktunya nggak memungkinkan.

Lantas sebelum berangkat lagi ke Manila saya kembali mencari kemungkinan untuk bisa ikut tour di Malacañang ini. Menurut beberapa agen tour, kita harus submit data dan scan paspor antara sepuluh hingga tujuh hari sebelum kunjungan. Itu pun belum tentu diapprove. Saya melihat kalender dan tadaaa.. Terlambat sudah.. Saya hanya punya sisa enam hari kalender alias lima hari kerja.

Di halamannya klook sih ngga dijelaskan mengenai hal itu, tapi pas mau nekad booking ternyata minimal paxnya enam orang. Yah.. terpaksa si Malacañang ini dimasukkan lagi ke dalam kotak impian.

Tapi karena penasaran, saya pun buka peta untuk cari tahu posisi istana itu. Ya minimal bisa lihat bagian depannya aja udah syukur banget deh. Nah.. Ternyata ini bisa dijadikan satu rute dengan rencana ke gereja San Sebastian.

Malacañang Palace ini lokasinya di San Miguel district, yang katanya ngetop dengan brewerynya dan juga sebagai area “university belt”. Jika dilihat di peta, dari stasiun LRT Legarda kita harus jalan ke arah selatan, sedangkan kalau mau ke San Sebastian udah deket banget dan tinggal lurus aja.

So.. sepulang dari Sacred Heart (dan setelah makan siang di Cubao), saya meneruskan perjalanan dengan LRT menuju Legarda. Puncak menara San Sebastian sudah tampak begitu dekat dari stasiun Legarda, tapi saya tetap membulatkan tekad untuk melihat Malacañang dulu.

Awalnya sih saya niat banget mau jalan kaki, wong jaraknya “hanya” 1 km. Tapi saya tergoda ketika keluar stasiun dan menemukan banyak tukang tricycle mangkal. Jadilah saya naik tricycle dengan tujuan Legarda Mansion.

Legarda Mansion ini adalah rumah milik keluarga Alejandro Legarda yang dibangun tahun 1937 dengan gaya art deco, namun kini beroperasi sebagai restoran La Cocina de Tita Moning. Dalam beberapa artikel tentang tour Malacañang, tempat ini selalu jadi point of meeting, so saya yakin tempat ini ngetop banget seantero Legarda.

Tapi apa daya.. Kejadian beberapa jam sebelumnya terulang lagi. Abang tricyclenya sebetulnya gak tahu dimana itu Legarda Mansion, tapi abang-abang yang lain memberikan petunjuk (tentu dalam Bahasa Tagalog), lalu si abang tricycle saya ini ngangguk-ngangguk dengan pede. Gak sampai lima menit melaju, bahkan masih begitu dekat dengan stasiun LRT, si abang bilang sudah sampai. Gak mungkin ah, kan di peta lokasi Legarda Mansion ini ada di kanan jalan dan hampir seberangan dengan Malacañang. Jeng jeng.. pas saya menjulurkan kepala, ternyata saya diantar ke sebuah travel agent, mana si abang udah pake acara lawan arah pula. *untung bukan ke klinik bersalin lagi 😅

Google maps pun beraksi. Saya tunjukan posisi Legarda Mansion ke si abang. Setelah mengambil jalur yang benar, kami pun harus melewati gerbang yang dijaga tentara. Abang tricycle saya dicek identitasnya. Wah ternyata kami masuk kawasan restricted area. Hmm.. mungkin karena dekat istana kali ya.

Saya diturunkan di gambar orang pakai helm lagi gali tanah itu.

Menurut maps, Legarda Mansion itu masih beberapa puluh meter di depan sana, tapi si abang akhirnya memutuskan untuk berhenti. Alasannya : “I am afraid” 😒. Maksudnya dia takut karena semakin dekat istana pasti penjagaannya semakin ketat. *Lah Bang.. kalau situ aja afraid, trus saya kudunya lebih afraid dong.. Lah aku kudu piye.. 🙃

Karena tak ada yang bisa mengalahkan rasa penasaran, saya pun nekad jalan sendiri menuju ke Malacañang.

Bener sih, makin lama suasananya makin “angker”. Hening banget. Apalagi di perempatan jalan Jose Laurel – yang menjadi lokasi Malacañang, sepiiii dan banyak tentara. Andaikan saya sampe kena interogasi, semoga aja paspor hijau ini bisa menyelamatkan. Saya sudah siapkan alasan : “Kan saya turis Pak.. jadi saya nggak tahu bahwa ngga boleh keliaran di jalanan ini..”

Tapi.. nggak ada yang nanya-nanya saya. Dan saking tegangnya, saya malah nggak nemu yang namanya Legarda Mansion. Jadi saya langsung aja bablas menuju Malacañang.

Sayangnya.. Ketika saya minta izin untuk memotret facade istana itu, tentara yang berjaga langsung geleng-geleng. Hiks.. hiks.. Ya sudahlah, nurut aja.. daripada saya ditodong senapan dan jadi headline koran se-ASEAN.

Sepi dan lengang. Bisa motret di tengah jalan. 😅

Jadilah saya cuma sempat memotret area sekitarnya saja : Tugu Pembebasan Manila dan sebuah rumah tua (katanya dulu milik dari Jenderal Basilio Valdes) yang kini ditempati pengawal presiden.

Tugu Pembebasan Manila
Atas : ex rumah Jenderal Basilio Valdes yang kini jadi pos pengawal presiden. Bawah : awalnya saya kira bangunan inilah Legarda Mansion. Eh ternyata bukan..

San Sebastian : Church of Steel

Tricycle yang saya tumpangi dari jalan San Rafael mengantar saya di gerbang masuk gereja San Sebastian. Saya refleks bergumam “Wow… ini gereja keren banget yaaa…” Pada kunjungan saya yang lalu, saya hanya bisa menikmati gereja ini malam-malam, itu pun hanya dari sampingnya saja. Kini saya berdiri di depannya dan tercengang menyadari betapa megahnya gereja ini.

Wow… wow…

Berawal dari sebuah gereja kayu sederhana yang dibangun tahun 1621 di atas lahan pemberian Bernardino Castillo, gereja San Sebastian kini menjadi satu-satunya gereja di Asia yang dibangun dari lempengan-lempengan baja.

Patung San Sebastian (?) di bagian atas altar.

Bernardino Castillo adalah devosan Santo Sebastian, seorang martir di Roma pada masa Kaisar Dioklesianus sekitar awal abad ke-4. Oleh karena itu gereja yang dibangun di atas lahan donasinya diberi nama San Sebastian.

Gereja kayu itu terbakar pada 1651 ketika terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Manila. Kemudian dibangun gereja pengganti dari batu bata, namun hancur karena kebakaran dan gempa bumi pada tahun 1859, 1863, dan 1880.

Pasca gempa bumi 1880, pastor Esteban Martinez, yang menjabat sebagai pastor paroki San Sebastian, melakukan pendekatan dengan Genaro Palacios – seorang arsitek Spanyol, untuk membangun gereja dari baja agar tahan api dan tahan gempa. Palacios merancang gereja baru ini dengan gaya Baroque tahan gempa dan Neo Gothic.

Pada tahun 1888, lempangan-lempengan baja mulai datang dari Belgia, namun sebelum pembangunannya rampung, pada 24 Juni 1890 gereja ini ditingkatkan statusnya menjadi Minor Basilica oleh Paus Leo XII.

Seluruh proses konstruksi selesai pada 1891 dan gereja ini diberkati oleh Mgr. Bernardino Nozaleda Y Villa – uskup agung Manila ke-25, pada 16 Agustus 1891.

Ketika perang Teluk Manila berkecamuk pada 1 Mei 1898, gereja ini sempat dijadikan rumah sakit darurat bagi para pelaut Spanyol yang terluka.

Pada 1 Agustus 1973, Presiden Ferdinand Marcos menetapkan gereja San Sebastian sebagai National Historical Land Mark, disusul pada tahun 2011 sebagai National Cultural Treasure.

Meskipun gereja ini bertahan dari gempa-gempa yang mengguncang Manila, namun kondisinya kini cukup memperihatinkan karena korosi dimana-mana. Selain itu di dekatnya akan dibangun sebuah gedung berlantai 31 yang dapat mengancam kekuatan fondasi gereja ini. Itulah sebabnya gereja ini dikeluarkan dari tentative list UNESCO World Heritage Site.

Tak hanya facadenya saja yang bikin tercengang, interior gereja ini juga benar-benar mengagumkan. Kaca-kaca patri yang menghiasi dinding gereja ini didatangkan dari Jerman, sedangkan keramik lantainya adalah hasil karya pengrajin Cina di kawasan Binondo.

Kiri : Patung Santo Sebastian. Ia diikat dan dipanah oleh tentara Roma namun tak meninggal, akhirnya ia dipukuli hingga menemui ajalnya. Tengah kanan : bejana air suci di dekat pintu gereja.

Saking penasaran, saya pukul salah satu pilarnya. Ternyata strukturnya begitu solid, padahal saya pikir akan keluar bunyi “tong tong tong” seperti tiang listrik yang dipukul oleh siskamling 😅.

Pada bagian atas retablo (retablo adalah sebuah struktur di bagian belakang altar – biasanya terbuat dari kayu, yang diukir atau dilukis, dan dilengkapi oleh patung orang kudus) altar, terdapat patung Our Lady of Mount Carmel. Ada cerita unik dan menyedihkan dari patung ini, yang tahun lalu merayakan tepat 400 tahun ketibaannya di Filipina.

Patung ini adalah hadiah dari Suster-suster Carmelite di Mexico. Ia bertahan dari kebakaran dan gempa bumi selama lebih dari 350 tahun, sayangnya pada tahun 1975 ada yang mencuri kepala dan tangannya yang terbuat dari gading. Hingga hari ini kedua bagian patung tersebut masih tidak diketahui keberadaanya dan membawa duka bagi umat Katolik di paroki San Sebastian. Kepala dan tangan patung yang kini terpasang di atas altar adalah tiruan dari yang asli.

Oh ya, sebetulnya gereja ini mengadakan program tour juga setiap hari Sabtu. Jika guide dan gereja sedang tak ada aktivitas, bisa juga mengajukan private tour. Cek di halaman facebook San Sebastian Basilica Conservation and Development Foundation Inc.

Ok. Gereja pertama ~ San Sebastian : Done.

Setelah puas berkeliling dan foto-foto disini, saya mencegat jeepney menuju gereja Quiapo. Sebetulnya sih jaraknya hanya 1 km, tapi kok sudah lelah duluan ngebayangin jalan kaki di bawah matahari yang gahar ini plus nanti harus nyeberang via underpass Plaza Miranda.

Belum sampe beberapa meter naik jeepney (dan udah bayar pula), eeeehh jeepneynya mengkol ke kiri. Ternyata dia gak sampe Quiapo.

Dzighhhh.. Nasib ya nasib.. mari kita mengukur jalan F. R. Hidalgo. Untung tahun lalu saya menginap disini jadi sudah hapal rutenya.. *sambil lap keringat pakai serbet 😤

3 thoughts on “[Philippines] Legarda : From San Miguel to San Sebastian”

  1. Duh kebayang panasnyaaa… dan jalan kaki lagi jalan kaki lagi… kalo aku mungkin udah nut-nut pengsaaaan… BTW, gereja San Sebastian itu asli keren banget yaa…
    Tapi yang ada kembang-kembangnya itu duuh sama aja di Kathmandu dengan kabel listrik hahaha… bikin ancur foto…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s