Satu Foto Sejuta Cerita

[Philippines] Tondo : You, Hard Core!!

“Divisoria, Tutuban… Divisoria, Tutuban ..”
Setelah perjalanan yang begitu lama bagai tak berujung, akhirnya saya tiba juga di kawasan Divisoria. Dari tempat jeepney berhenti terlihat bangunan besar bertuliskan “Tutuban Center”. Wah, berarti sudah dekat dengan gereja Tondo nih, pikir saya. Karena saya sudah malas jalan kaki, saya segera mencari tukang tricycle terdekat dan bertanya, “Tondo Simbahan?” (Simbahan artinya gereja). Abang itu mengangguk dan saya dengar dia bilang “Fifty Pesos”. Ya udah deh okeh, daripada harus jalan kaki. Tapi saat saya mau duduk manis dalam tricyclenya, si abang malah bilang lagi “One hundred fifty Pesos”, wes kagak jadi naik deh. Saya turun dan berjalan meninggalkan si abang dengan (sok) gagah. Dia tawarkan lagi 120 Peso, dan saya menolak. Mahal banget.. Ogah!

Saya terus berjalan mengikuti petunjuk google maps yang entah mengapa malah menunjukkan jarak 1.8 km menuju gereja Tondo. Lah kenapa jadi jauh begini yak, harusnya kan udah deket dari Tutuban sini? Udara Manila sore itu terasa amat panas dan lembab, rasanya pengen mandi deh. Ditambah lagi saya harus menerobos kerumunan orang-orang yang berbelanja di pasar kaget sekitar Tutuban Center itu, untungnya sih nggak sepadat pasar Baclaran menjelang natal. Ketika saya menemukan persimpangan jalan, akhirnya saya menyerah. Saya menego seorang abang tricycle gowes dan dia ngotot pasang harga 70 Peso karena macet. Ya udah deh, Bang. Berangkat!

Rasanya sih jaraknya memang tak terlalu jauh, cuma macetnya aja yang cetar membahana. Tak sampai lima belas menit, saya dan si abang sudah sampai di samping gereja Tondo. Ahhh.. akhirnya yaaaa… sampai juga di destinasi terakhir saya di hari ini. Yeaaay Tondoooo… I am coming..

Sebelum masuk ke area gereja, saya menyempatkan untuk memotret bagian samping dan depan gereja yang suasananya mirip dengan gereja Quiapo karena dipenuhi kios-kios pedagang disana-sini. Karena keasyikan foto-foto, saya nggak ngeh misa jam lima sore sudah mulai. Untungnya masih ada misa pukul 18.00.

Colorful banget yak…
St Yosef, St. Rocco, dan St. Fransiskus Asisi (di kejauhan)

Karena masih punya banyak waktu, saya pun mengeksplor seluruh bagian gereja ini. Di bagian samping gereja ada sebuah lorong menuju patung Santo Nino yang menjadi pelindung gereja ini. Sayangnya keterangan yang dipasang di sepanjang lorong itu semuanya dalam Bahasa Tagalog, jadilah saya kagak ngarti apa-apa. Saya juga sempat singgah ke ruang adorasi tapi nggak berhasil menemukan kapel para kudus seperti yang ditunjukkan dalam website ini. Saya lalu mlipir-mlipir ke deretan kios yang ada di depan gereja yang ternyata tak hanya menjual benda-benda rohani, tapi juga snack dan mainan anak. Sempat tergoda untuk makan telur berselimut tepung dengan saus cuka khas Filipina, tapi saya urungkan karena takut mules. Hehehe…

Kecintaan pada Santo Niño menunjukkan kecintaan Gereja pada anak-anak, maka salah satu gerakannya adalah menolak praktek aborsi.
Patung Santo Niño, menyendiri di ujung lorong.

Menjelang pukul enam sore, saya pun masuk ke dalam gereja dan misa sebelumnya sudah hampir selesai. Kala itu koor tengah menyanyikan lagu komuni yang berjudul Hesus Ng Aking Buhay. Liriknya terpampang di layar LCD dan saya ikut menyanyi tanpa paham artinya. Saya hanya tahu irama lagu ini karena sudah lama nangkring di playlist hape. Tak terasa mata ini mulai basah tanpa saya tahu apa sebabnya. *Hari ini, saat saya menuliskan postingan ini, barulah saya menemukan terjemahan Bahasa Inggris dari lagu ini, dan lagi-lagi saya terharu dibuatnya. Mungkin saat itu, tanpa sadar Tuhan sendiri sudah menterjemahkan lagu ini bagi hati saya, meski otak saya nggak paham.

Morning sunrise, pouring rain, breeze of dusk, moon shine, clear stream, blue sea,
That is how Jesus in my life.
Wherever I go, You are there
Through I turn away from You, Your unconditional love will call me and remind me that I am dear to You, and will hold me near Your Heart.
Friend’s voice, mother’s cradle, orphan’s dream, comforting arms for the poor, light of the fearful, comfort of the downstrodden,
That is how Jesus in my life.

Beberapa menit sebelum misa dimulai, ada seorang ibu yang memimpin Novena Roh Kudus dalam Bahasa Tagalog. Saya agak surprise juga, karena selama ini saya tahunya Novena Roh Kudus adalah bagian dalam misa dan dibawakan oleh pastor. Surprise kedua (eh, ini sih sebetulnya nggak suprise), misa sore itu dibawakan dalam Bahasa Tagalog. Jadilah saya nggak ngerti apa-apa dan harus berusaha melafalkan Bahasa Tagalog dengan ngebut. *Wew.. lambat aja susah.. 🤣


Sejarah gereja ini berawal dari sebuah bangunan biara milik Ordo Santo Agustinus (OSA) yang berdiri sekitar tahun 1572. Bisa dibilang sebagai salah satu bangunan gereja tertua di Manila yang dibangun oleh para pastor dari Spanyol. Karena sangat bergantung pada dana dari provinsial OSA, kondisi bangunan ini sempat begitu memprihatinkan, hingga provinsial membebaskan biara Tondo dari kewajiban iuran tahunan dan memutuskan untuk membangun biara baru.

Menurut beberapa sumber, pada tahun 1611 dimulailah pembangunan biara dan gereja baru yang terbuat dari batu dan selesai sekitar tahun 1628. Pemberontakan Sangley pada 1641 menghancurkan gereja itu dan dengan segera dilakukan perbaikan serta penambahan tangki air. Empat tahun kemudian gereja ini kembali mengalami kerusakan karena gempa bumi besar yang melanda Manila. Perbaikan besar-besaranpun dilakukan, namun sayangnya pada 1662, atas perintah gubernur jenderal Sabininno Manrique de Lara – yang khawatir bajak laut China akan memanfaatkan bangunan biara dan gereja sebagai benteng perlindungannya, gereja ini terpaksa diratakan dengan tanah. Proses rekonstruksi dimulai tahun 1692 atas bantuan dana dari berbagai komunitas.

Pada tahun 1728 bangunan gereja dan biara diperbesar, lalu pada 1734 dilakukan perbaikan pada bagian facade dan menara lonceng yang sudah hampir roboh. Sayangnya pada tahun 1740 gempa kembali melanda Manila dan merusak beberapa bagian gereja. Tahun 1863 gempa bumi besar menghancurkan gereja ini. Pada tahun 1873 Arsitek Luciano Oliver menyiapkan rancangan untuk rekonstruksi gereja ini dengan menggunakan kerangka baja untuk kubah dan lembaran besi sebagai atap. Perbaikan dan penambahan dilakukan secara bertahap hingga tahun 1898.

Selama pendudukan Jepang gereja ini berfungsi sebagai markas teknisi militer Jepang, maka pelayanan gereja terpaksa dipindahkan ke rumah keluarga Primo Arambulo di jalan Santiago de Vera. Mendekati jatuhnya Jepang, gereja ini menjadi tempat perlindungan bagi para pengungsi dari pelabuhan utara. Terakhir, pada tahun 1997 dilakukan perbaikan menyeluruh dan penambahan lonceng-lonceng Carillon.

Sejak Januari 2019 gereja ini dinaikkan statusnya menjadi tempat kudus Keuskupan Agung Manila oleh Cardinal Tagle, bahkan dalam rangka Tahun Kaum Muda, sejak 13 Mei 2019 hingga 30 November 2019 nanti gereja ini ditetapkan sebagai tempat ziarah bagi orang-orang muda untuk memperoleh rahmat dan berkat Tuhan. *I am so lucky and blessed.

Gereja ini terkenal dengan patung Santo Niño (kanak-kanak Yesus) yang berasal dari Acapulco, Mexico, dan diserahkan kepada uskup Agung Manila oleh seorang pedagang Spanyol yang kaya raya. Uskup Agung lalu menyerahkan patung itu kepada paroki Tondo pada tahun 1572. Pesta Santo Niño Tondo dirayakan setiap minggu ketiga bulan Januari berpusat di gereja ini. Puncak perayaannya adalah Festival Lakbayaw, dimana para devosan dan anak-anak sekolah melakukan kompetisi street dance sambil membawa patung Santo Niño dan menyerukan “Viva El Santo Niño”.

Kok kayaknya seru banget ya jadi warga Filipina. Banyak banget festivalnya. Black Nazarene, Lakbayaw, Salubong, dan pasti masih banyak lagi deh.


Ok. Gereja ketiga ~ Tondo : Done.

Langit sudah gelap kala saya keluar dari gereja dan saya bingung gimana cara pulang ke hostel. Hahaha.. Saya lalu nyegat tricycle untuk minta diantar ke Tutuban Center, tapi begitu sampai sana saya malah bingung, kok beda dengan tempat yang tadi saya turun jeepney yak? *clingak clinguk. Alhasil kudu buka google map untuk cari rute ke jalan raya sambil dalam hati minta Kuya Richie supaya nunjukin jalan.

Entah karena dorongan apa, saat minta panduan google maps itu saya tidak pilih mode jalan kaki karena feeling saya bilang kalau pakai mode jalan kaki pasti diarahkan ke jalan yang sepi. Jadi saya pakai mode mobil meski jaraknya jadi lebih jauh. Sepanjang jalan saya menemui suasana pasar yang nggak terlalu ramai, truk-truk yang sedang bongkar muat, buruh-buruh pasar yang mengangkat karung-karung, abang-abang tricycle, dan orang-orang yang nongkrong di pinggir jalan. Sepuluh menit kemudian akhirnya saya berhasil mencapai jalan besar dan rasanya legaaa banget.. Setidaknya di jalan ini saya bisa naik tricycle atau jalan sedikit lagi untuk bisa naik jeepney menuju stasiun LRT Recto.

Ada sebuah kejadian dodol saat saya sudah sampai di jalan besar ini. Seorang abang tricycle minggir mendekati saya dan saya udah happy banget karena bakal santai naik tricycle, tapi… kepelitan saya mendadak kumat. Saya nawar sampai si abang jadi bete dan pergi ninggalin saya. *Dooh, kamu tuh yaaa.. 😢

Sekian ratus langkah kemudian *sambil lap-lap keringat, saya menemukan jeepney-jeepney yang lagi ngetem. Waaaah.. bahagianya bukan kepalang. Saat saya sedang memicingkan mata untuk melihat tulisan rute di badan jeepney itu, mendadak lampu jalanan mati. Yealaahh.. aya-aya wae cintaaa… Tapi karena kebaikan hati para penghuni Surga, tak lama kemudian sebuah jeepney merapat dan saya melihat tulisan “SM Sta. Mesa”, alias saya bisa naik jeepney ini sampai ke dekat hostel tanpa perlu nyambung LRT. Lumayan bisa ngirit dan duduk pewe. Walaupun jeepneynya nggak jalan-jalan, walaupun panasnya bukan main, walaupun macetnya gak nahan.

Karena pingin merasakan sensasi duduk di depan, saya minta izin sama abang driver buat duduk samping pak driver yang sedang bekerja, mengendarai jeepney supaya baik jalannya. Hey.. *you sing you lose. Kegembiraan saya duduk di samping pak driver tak bertahan lama, tiba-tiba ada seorang cowok abg yang duduk di samping saya dan membuat saya terjepit di tengah-tengah mereka. Ow.. ternyata bagian belakang jeepney sudah hampir penuh, dan tak lama kemudian jeepney pun melaju lambat menyusuri macetnya Manila.

Setiap kali abang driver pindahin persneling setiap kali juga dia nabrak kaki saya. Kagak enak bener dah, tapi kalau saya bergeser bisa-bisa si cowok abg terlempar ke luar. Udah gitu cowok itu bisa-bisanya terlelap. Abang driver was-was, saya juga ikutan was-was takut dia jatuh. Masa depan Filipina sedang terancam keselamatannya nih. Jadilah saya pegangin bajunya semoga bisa nahan dia kalau-kalau jeepneynya ngepot. *Kalau begini judulnya berubah jadi : Masa Depan Filipina ada di Tangan Saya.

Cowok abg itu pun turun di suatu tempat. Belum sempat saya bernafas lega, tempatnya langsung diisi oleh pria yang badannya lebih gede daripada si abg itu. Nasib.. nasib..makin terjepitlah ambo.. Untung aja Santa Mesa sudah tak terlalu jauh.

Antrian kendaraan di depan Mall SM Santa Mesa cukup panjang malam itu dan si abang nggak mau minggir. Jadinya saya pun terpaksa turun agak di tengah jalan dan terjadilah hal yang memalukan sejagat raya. Pria sebelah saya sudah turun supaya saya bisa keluar dari jeepney, lalu kaki kanan saya turun dan berhasil menyentuh jalanan tapi kaki kiri saya masih nyangkut di dalam jeepney. Saya panik dan bingung gimana mengeluarkan kaki saya ini. Akhirnya tanpa malu dan terkesan modus, saya pegangan (erat-erat) ke lengan si pria itu supaya saya bisa menarik kaki kiri saya. *Setelah turun dengan selamat, barulah kerasa malunya.. bahkan sampai hari ini.. Duh.. untung aja nggak kenal. 😑

Hari itu pun berakhir dengan hunting buku di SM Santa Mesa dan akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke kamar ber-AC. Keputusan yang rasanya tepat banget supaya bisa tidur dengan nyenyak mengingat petualangan saya masih tiga hari lagi. Kalau nggak tidur nyenyak, bisa-bisa saya tewas sebelum waktunya. Tapi the best thing dari keputusan pindah kamar itu adalah saya punya teman baru : Fan-Fan dan Sara. Karena hostel saya itu sebetulnya berstatus dormitori, mereka berdua ngekos di kamar yang saya tumpangi itu. Sara ini pernah tinggal di Batam, jadi kami langsung nyambung ngobrolin Indonesia. As a welcome gift, she gave me a box of Chef Tony’s popcorn dan saya berikan gantungan kunci Kalimantan yang selama ini nangkring di ransel saya. So happy to meet you, girls..


Keesokan harinya di Museum Bahay Tsinoy Intramuros, saya bercakap-cakap dengan seorang koko petugas museum. Ia bertanya saya sudah kemana saja selama di Manila. Saya jawab : saya keliling gereja : San Sebastian, Quiapo, dan Tondo. Mendengar kata “Tondo”, ia langsung terbelalak, “What, Tondo?” Saya cuma bengong saja lihat ekspresinya itu. Kenapa ya ini orang?
Eh.. Terus dia menunjuk-nunjuk saya sambil berseru, “You hard core!!” Lah, saya malah tambah bingung kan.

“Why?”, dengan polosnya saya bertanya. Trus dia bilang deh, Tondo itu daerah yang sangat berbahaya. Dia aja yang warga asli Manila ogah banget kalau disuru kesana.

Dengan dodolnya saya tanya, “Emang banyak copet ya?” Trus sambil nyengir dia bilang bahwa disana bukan hanya copet aja yang beraksi, tapi juga jambret dan preman. Lalu sekali lagi dia tunjuk muka saya sambil bilang, “You hard core!!”

Dulu ada seorang temannya dari Singapore yang ngotot banget pengen ke gereja Tondo. Si koko dengan berat hati mengantar temannya itu setelah mewanti-wanti supaya jangan bawa barang berharga dan harus ekstra hati-hati menjaga dompet dan hapenya.

“You crazy!!”, kata dia lagi sambil memberi jempol. *Yaelah.. tadi udah dibilang hard core, sekarang dibilang crazy pula. Entah harus merasa bangga atau kesal ya?

Trus sambil meringis saya bilang ke dia, “Kan kemarin saya nggak tahu Tondo itu begitu mengerikan, makanya saya berani berangkat kesana.” Trus dia geleng-geleng kepala sambil memandang saya dengan ekspresi aneh.

Keluar dari Bahay Tsinoy, saya menatap langit sambil tersenyum. Makasih ya Semuanya di atas sana… Pasti kemarin Mereka bekerja ekstra keras jagain anak bandel ini selama di Tondo. Mereka inilah yang sebetulnya paling hard core. Teringat feeling saya saat setting google maps ke mode mobil dan bukan jalan kaki. I am alone, but actually I am not alone.

Saat postingan ini ditulis, saya menemukan fakta tentang Tondo di wikivoyage.org : Slums, poverty, and gangs is the first impression of Tondo by many people, and that’s why this part of Manila is perhaps off the-beaten-path, except for the Divisoria market popular with bargain hunters. Tondo has a sketchy reputation for violent crime; locals may tell you that Tondo is the gang capital of the Philippines. Women travellers must be more cautious; jewelry like earrings are frequent magnets for thieves, and some homeless children are involved in these crimes. *kok ngeri banget yaaa 😨😨

Saya berandai-andai. Andai waktu itu saya tahu bahwa Tondo segahar itu, kira-kira saya bakal tetap nekad ke Tondo nggak ya?

6 thoughts on “[Philippines] Tondo : You, Hard Core!!”

  1. Duh Na, aku baca postingan ini campur-campur deh, ada gelinya (dan akhirnya ketawa sendirian di kantor niiy) waktu baca soal memegang tangan laki-laki yang tidak dikenal itu dan disaksikan sejagat raya… aduh kebayang mungkin malem-malem dia gak bisa tidur, mimpi kapan mau ketemu kamu lagi.. 😀 😀 😀
    Terus aku juga gak bisa bayangin gimana ngebutnya pake bahasa tagalog saat misa. itu lidah belipet-lipet dong yaaa… 😀 😀 😀

    Terus yang serem yaa bagian akhir… astaga Na, itu beneran kamu ke daerah serem gitu? Kayaknya malaikat penjaga kamu kerja keras makein jubah invisible deh kan… sampe malem lhaa kalo misa mulai jam 6 sore selesainya kan matahari udah gak ada? tapi karena kamu sudah ziarah dan sesuai tahun muda kaaan… beneran dapat berkat dan rahmat Tuhan yaa…
    Iiih… beneran seperti gak masuk akal yaa antara yang dikatakan di media dan orang-orang lain dan dengan yang dialami… Asli keren Na…

  2. Mba.. aduh aku beneran maluuu… trus nyesel kenapa aku gak hapalin muka cowok yang kupegang itu 😂😂😂
    Sebenernya saat itu aku gak cuma panik karena kakiku nyangkut, aku juga panik takut celanaku nyangkut. *untung gak kejadian..

    Itu dia Mba.. aku bener2 nggak browsing apapun tentang Tondo sebelum berangkat. Cuma ngecek peta dan transportasi umum kesana. Gila ya.. ceroboh banget aku waktu itu. Udah gitu bubaran misa sekitar jam 7 aku masih berani2nya ngeluarin kamera dan foto-foto dan megang hape buat nyari jalan. Kalau inget itu aku merinding Mba.. beneran aku nyusahin malaikat penjagaku dan my strong man from heaven malam itu.

  3. Wowww, ceritanya lucu wkwkwk.
    Kalau aku dulu pernah ikut misa di gereja Katolik di Tuk-tuk Siadong, Samosir. Pakai bahasa Indonesia sih, tapi banyak istilah bahasa Batak yang aku nggak tau dan akhirnya cuma ngikutin jemaat lainnya ngapain aja deh haha.

    sepertinya gerejanya di filipin lebih besar dari katedral di Jkt ya?

    1. Hahaha.. I feel you Mas.. sedih ya saat orang2 ketawa dengar khotbah pastornya, kita bengong doang kaga ngarti apa2.. 😂😂

      Iya..gereja disana modelnya gemuk dan lebar, tapi nggak terlalu tinggi menjulang kayak disini..

  4. Tondo is notorious because it’s a slum area but I’ve never been there because all the locals keep cautioning me not to. Glad nothing happened to you though! Then again I think it is easier for Southeast Asians to blend in as we look like Filipinos; it would be a different story if we were Westerners. In a way I think it was a blessing in disguise as you got to see for yourself how the place is.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s