My Journey...

[Philippines] Fort Santiago : After Six Years

Kemampuan seseorang buat baca google maps tidak ditentukan dari keberhasilannya menemukan jarak terdekat, tapi bagaimana dia berhasil menemukan pintu masuk dari lokasi tujuannya.

Saya masih masuk kategori jongkok dalam menggunakan google maps ini karena berasumsi jarak terdekat menuju Fort Santiago adalah melewati jalan raya (yang ada bundarannya) dan bukan lewat Plaza Moriones. Ternyata bagian barat Fort Santiago yang berbatasan dengan jalan raya itu adalah lapangan golf dan yang boleh melintasinya hanya member club golf itu. Petugas lapangan golf itu menyuruh saya balik kanan kembali ke Katedral dan mengambil jalan kecil di depannya, alias lewat Plaza Moriones. Yap, itulah satu-satunya pintu masuk Fort Santiago. *dodol oh dodol. Baru mulai petualangan aja udah nyasar kemana-mana. 😑

Ini lho bundaran yang ada di dalam peta.

Gerbang Intramuros dari arah Katedral Manila

Enam tahun yang lalu saya kesini diantar oleh abang tricycle, so karena diantar dan ditunggu itulah saya merasa keburu-buru. Nggak puas gitu lho. Jadilah kali ini saya bertekad mau puas-puasin di tempat ini, melihat setiap sudutnya dengan santai karena saya punya waktu yang tak terbatas.

Setelah membayar 75 Peso di gerbang, saya tersenyum memandang Plaza Moriones. Ah, berbeda sekali suasananya dengan enam tahun yang lalu. Lebih rapi, lebih manis, dan yang pasti saya lebih santai. Tapi tetap sih, panasnya masih tetap gahar.

“Ikaw ang superstar, ang star ng buhay ko..”

Lagu Superstar yang dinyanyikan oleh Cinderella itu mengiringi langkah saya memasuki Plaza Moriones. Lagu ini sejak berbulan-bulan lalu ada di playlist hape saya karena sebuah kebetulan. Tapi sampai sekarang saya nggak ngerti arti di balik lagu ini. *tapi lagunya enak banget… ♬♫♬

Saya singgah dulu ke tourist information center untuk mendapatkan peta Intramuros. Benarlah dalam enam tahun ini terlihat banyak kemajuan di tempat ini. Peta yang dulu dicetak di atas kertas coklat kini dicetak full colour (tapi saya lebih senang dengan peta versi coklat itu siy), lalu ada buklet-buklet petunjuk tentang objek-objek di Intramuros.


Intramuros artinya kota di dalam tembok. Pada tahun 1571, Miguel Lopez de Legazpi menetapkan Manila sebagai ibukota koloni Spanyol di belahan bumi sebelah timur. Oleh karena itu kota ini dilindungi oleh tembok-tembok setebal 2 hingga 2.5 meter dengan tinggi antara 4 hingga 6.5 meter. Jadi : Manila pada masa itu adalah Intramuros. Area Intramuros ini luasnya 64 hektar dan memiliki tujuh pintu gerbang. Selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan, disini juga merupakan pusat Gereja Katolik Filipina.

Sebelum dikuasai oleh Spanyol, area Intramuros yang terletak di tepi Teluk Manila ini adalah suatu area strategis yang ditempati oleh suku Tagalog dan Kapampangan dan menjadi pusat perdagangan dengan para pedagang dari China, Indonesia, dan India. Sebelum tahun 1485 M, kawasan ini adalah bagian dari Kerajaan Majapahit namun kemudian diinvasi oleh Kerajaan Brunei dan dijadikan semacam negara bagian dengan Rajah Sulayman sebagai pemimpinnya. Raja ini kemudian membangun benteng kayu yang letaknya di lokasi Fort Santiago saat ini.

Setelah Spanyol berhasil merebut Intramuros, dibangunlah struktur benteng baru yang terbuat dari tanah liat dan kayu. Namun benteng ini dihancurkan oleh serangan Limahong, bajak Laut China pada 1574. Tentara Spanyol berhasil memukul mundur pasukan Limahong dan memutuskan untuk membangun kembali benteng yang lebih kuat dari batu vulkanik. Realisasi pembangunan benteng baru ini dilaksanakan antara 1589 hingga 1592 dan kemudian diberi nama Santiago Matamoros. Santiago adalah nama Spanyol dari Santo Yakobus, yang merupakan pelindung Kerajaan Spanyol. Benteng ini menjadi saksi bisu sejarah Filipina, mulai dari masa penjajahan Spanyol (1571-1898), Inggris (1762-1764), Amerika (1898-1946), dan Jepang (1942-1945).

IMG-20190807-WA0074.jpg

Fort Santiago : kiri tahun 1932, kanan atas tahun 1945, kanan bawah sekitar tahun 1890

Ketika Amerika mengusai Filipina, benteng ini dijadikan sebagai pusat kendali U.S. Army dan dilakukan beberapa perubahan besar dalam benteng. Tentara Amerika membutuhkan area yang lebih luas sehingga parit yang mengelilingi benteng ditutup dan diratakan. Selama perang dunia II Fort Santiago dikuasai oleh tentara Jepang. Bulan Februari 1945, mortir-mortir dilontarkan untuk membebaskan Manila dari Jepang, akibatnya Fort Santiago dan hampir seluruh kawasan Intramuros hancur berat. Barulah pada tahun 1953 dilakukan restorasi besar-besaran untuk mengembalikan kecantikan Fort Santiago ini. Parit yang semula ditutup juga dibuka lagi seperti saat dibangun oleh Spanyol.


Saya memulai penjelajahan Fort Santiago ini dari Baluarte San Fransesco Javier, disini terlihat Kapel Maria Guadalupe. Hmm.. rasa-rasanya enam tahun lalu kapel ini betul-betul nampak seperti kapel deh. Kok sekarang kelihatan hanya seperti rumah biasa ya? Malah kayaknya tak terawat banget. Dari baluarte ini juga saya menyusuri bagian atas tembok asli Intramuros yang lebar banget. Tepat di samping saya adalah reruntuhan bekas barak tentara Amerika yang sedang direstorasi dengan ditambahkan baja-baja penopang.

IMG-20190808-WA0020.jpg

Kapel Guadalupe (dibangun tahun 1981) dan Reducto San Fransisco Javier (tembok tebal bagian luarnya)

Walaupun pagi itu rasanya matahari tak terlalu terik, tapi tetap saja saya merasa capek. Hmm. Mungkin karena badan sedang kurang sehat juga sih, ditambah punggung saya harus memikul ransel berisi buku Manila Cathedral. Jadi berasa naik gunung gitu. 😓

Saya pun mulai melangkah lagi ke arah gerbang Fort Santiago. Meskipun suasana cukup sepi namun saya tetap harus menghadapi sepasang turis yang narsisnya luaaaar biasaah. Mereka mengambil foto dengan berbagai pose, nggak ngerasa banget saya udah menunggu lama, kepanasan pula. Ah.. andai tatapan bisa menonjok orang, mungkin saat itu mereka berdua udah mendarat di dasar parit.

IMG-20190807-WA0059.jpg

Tapi.. saya lalu teringat.. Saya sudah menunggu enam tahun supaya bisa kembali lagi ke tempat ini, jadi tak ada salahnya menunggu sekian menit supaya bisa dapat foto yang keren (tanpa ada background turis narsis di dalamnya).

IMG-20190807-WA0064.jpg

Setelah kesabaran saya berhasil lulus ujian di gerbang Fort Santiago, saya harus mengikuti ujian berikutnya di depan patung Jose Rizal. Kali ini bukan pasangan narsis, tapi keluarga eksis. Segala macam pose mereka lakoni, mulai dari yang normal sampai abnormal, dari foto keluarga besar, keluarga kecil, sampai foto sendiri-sendiri. Panas mentari yang terik bikin saya pengen marahhhhhh.. Tapi saya khawatir nanti malah saya yang mendarat di parit. Arrrggh.. andai patung itu bisa saya pindahkan ke tempat sepi. 😟

IMG-20190807-WA0053.jpg

IMG-20190807-WA0060.jpg

Rasanya butuh waktu seabad buat bisa motret ala-ala post card begini..

Supaya mereka bisa cepat-cepat pergi dari depan patung itu, akhirnya saya bertindak jadi fotografer dadakan. Setelah mereka kumpul semua, saya menawarkan diri untuk memfotokan mereka. Eh.. Tapi tetep aja masih kagak beranjak juga.. *tepok jidat.. Kejadian model begini akan saya alami lagi di tempat-tempat yang lainnya. Huh.. sungguh latihan kesabaran.

IMG-20190807-WA0061.jpg

Enam tahun lalu, Rizal Shrine – tempat penahanan terakhir bagi dr. Jose Rizal sebelum dieksekusi, sedang dalam proses renovasi. Kali ini saya beruntung banget karena bisa masuk ke tempat itu, yang telah difungsikan sebagai museum. Nama Jose Rizal memang bukan nama yang asing. Kita di Indonesia pasti pernah mendengar nama itu dalam pelajaran sejarah tentang kebangkitan bangsa-bangsa Asia. Tapi setelah masuk museum ini saya jadi makin penasaran (dan kagum) dengan orang ini. Nantilah saya buat tulisan tersendiri tentang beliau. *beliau ini kereeeen bangeeeett…😍

IMG-20190807-WA0062.jpg

Rizal Shrine (Museum of Jose Rizal) : temboknya diperbaiki, pohonnya sebagian ditebang.

IMG-20190807-WA0052.jpg

Setelah saya perhatikan kembali peta Fort Santiago ini, ternyata saya malah belum pernah sampai ke bagian paling belakang benteng ini (Santa Barbara). Ah, sudah dua kali kesini tapi bagian itu masih luput juga. Hedeh..

IMG-20190807-WA0056.jpg

Ruang bawah tanah. Awalnya digunakan untuk menyimpan senjata dan mesiu, namun pada abad ke-17 digunakan pula sebagai penjara bawah tanah. Pada akhir perang dunia II, ditemukan 600 jenazah di ruang ini, sisa kekejaman tentara Jepang.

IMG-20190807-WA0067.jpg

Salib putih itu adalah penanda kuburan masal tempat dimakamkannya 600 korban di ruang bawah tanah. Bangunan di belakang salib itu sejak 2018 digunakan sebagai iMake History Fortress Learning Center yang diprakarsai oleh Lego untuk mempromosikan kekayaan Filipina.

IMG-20190807-WA0054.jpg

Pemandangan kawasan Binondo

So, artinya harus balik lagi kesini gitu? *modus 😂


Entrance fee :
Fort Santiago : 75 PHP (Everyday 8 am – 9 pm)

2 thoughts on “[Philippines] Fort Santiago : After Six Years”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s