My Journey...

[Philippines] Dari Intramuros ke Binondo : Kisah-Kisah Pendek Tapi Panjang

Setelah saya merasa cukup puas keliling Fort Santiago, dengan berat hati dan berkali-kali menoleh ke belakang, saya pun melangkah keluar. Tujuan saya selanjutnya adalah Museo de Intramuros. Awalnya sih saya niat jalan kaki karena takut kena scam abang tricycle. Tapi setelah keliling Fort Santiago rasanya kok capek ya, kaos saya sudah basah kuyup karena keringat. So, begitu lihat abang tricycle sedang duduk santai di atas becaknya sambil naikin kaki, sayapun mendadak malas. Kayaknya enak nih naik tricycle.. 😅

Entah gimana ceritanya, saat saya baru mau nego sambil menunjukkan lokasi Museo de Intramuros di peta, si abang malah nunjuk-nunjuk jalan di depannya. Aih.. bukannya nawarin jasa becaknya, si abang malah nunjukin jalan menuju ke Museo. *nyengir kuda..

Ya.. baiklah.. Mari jalan kaki. Deket kan bang? *sambil lap-lap keringat..

Akhirnya sih saya bersyukur banget jalan kaki menuju Museo ini karena saya bisa melihat kemegahan Katedral Manila dari sisi samping dan sempat terpaku sejenak memandanginya.

Terus saya juga menemukan kantor Uskup Agung Manila. Duuh.. berharap banget Kardinal Tagle tiba-tiba nongol di depan gerbang dan bisa diajak selfie. *mimpi di siang bolong..

Archbishop’s Palace

Museo Ecclesiastico de Intramuros

Museum ini baru saja dibuka pada 2 Mei 2019 dan menyimpan benda-benda seni Gereja Katolik karya pengrajin Filipina di masa lampau. Wuihh.. museumnya masih fresh from the oven nih..

Dulunya bangunan museum ini adalah gereja San Ignacio milik para Yesuit yang selesai dibangun pada 1899. Gereja ini dibangun dengan gaya Renaissance dan bagian dalamnya tersusun dari ukiran kayu gelap. Pada tahun 1945, kala tentara Amerika berupaya melepaskan Manila dari cengkeraman Jepang, gereja ini terbakar selama empat hari menyisakan sedikit bagian facadenya.

Sejak tahun 2009, di atas tanah eks gereja dan biara San Ignacio diputuskan untuk dijadikan museum. Kemudian pada tahun 2017, direncanakan untuk membangun ulang gereja San Ignacio, biaranya, dan juga rumah misi Serikat Yesus. Ah, jadi bangunan menjulang yang saya temui sebelum masuk ke tempat ini adalah bakal replika gereja San Ignacio. Ekspektasi saya saat mengetahui bahwa museum ini berdiri di atas eks gereja San Ignacio membuat saya excited. Pasti ada banyak hal tentang Santo Ignatius Loyola nih. 😍

Di pintu museum, kita harus menitipkan tas pada petugas yang menjaga loker. Petugas itu lalu menjelaskan do and dont’s : di lantai 1 bebas memotret tapi gak boleh pakai blitz; di lantai 2 hanya boleh memotret display non lukisan. Lukisan-lukisan dilarang difoto. Mungkin karena lihat muka saya yang dodol banget, petugas itu sampai mengulang lagi instruksinya, bahkan ditambah dengan gerakan-gerakan tangan mirip orang yang sedang berdeklamasi. *iye iye Pak.. saya paham.

Angan hanya tinggal angan. Dari sekian banyak benda yang dipamerkan di museum ini, hanya ada dua item yang menunjukkan Santo Ignatius Loyola. Dan karena berbentuk lukisan jadinya nggak boleh difoto. Jangankan mau nyolong-nyolong motret, begitu sampai lantai dua aja udah disamperin petugasnya dan diwanti-wanti untuk nggak motret lukisan. Bahkan pas saya sedang memandangi lukisan Santo Ignatius dengan khusyuk, petugasnya udah waspada tingkat dewa di dekat saya.

Saya menghabiskan cukup banyak waktu di lantai tiga karena membaca satu persatu penjelasan tentang sejarah Intramuros dan Manila yang dibuat dalam kolom-kolom empat sisi. Lumayan banget bisa belajar sejarah sambil ngadem dan menginstirahatkan kaki. Gratis pula!


1. Manila Cathedral sebelum menara lonceng hancur akibat gempa tahun 1880. 2. Bagian dalam gereja San Agustin, 4 Maret 1945 setelah para pengungsi dipindahkan. Gereja ini adalah satu-satunya bangunan yang masih utuh setelah perang pembebasan Manila.  3. Tentara Amerika dari Infanteri 145, Batalion 1 mengadakan perayaan ekaristi yang dipimpin Pastor Raymond Punda di halaman gereja San Agustin, 25 Februari 1945. 4 dan 5. Gereja Lourdes sebelum perang (c.a 1900) dan sesudah perang (1945). 6 dan 7. Gereja San Domingo sebelum perang (c.a 1900) dan sesudah perang (1945). 8 dan 9. Gereja San Francisco sebelum perang (c.a 1900) dan sesudah perang (1945). 10. Reruntuhan gereja San Domingo.

Setelah pulang saya baru tahu bahwa di bagian bawah gereja San Ignacio ini konon pernah menyimpan jenazah Blessed Takayama Ukon dan para imam Yesuit yang berkarya di Manila sejak awal kedatangan mereka. Setelah gereja ini terbakar habis akibat perang pembebasan Manila, kerangka-kerangka itu dipindahkan ke Sacred Heart Novitiate di Novaliches. Serangkaian investigasi dilakukan untuk mencari kerangka Takayama Ukon bahkan hingga tes DNA ke Jepang, tapi diantara sekian banyak kerangka yang diletakkan dalam dua kotak makam massal di Sacred Heart, tidak ditemukan kerangka dengan DNA bangsa Asia. Jadi dimana kerangka Takayama Ukon?

Bagumbayan Light and Sound

Saya pengen banget ke tempat ini karena pingin tahu sejarah kemerdekaan Filipina. Apalagi tempat ini gak hanya sekedar museum, tapi dilengkapi dengan patung-patung manequin, animasi cahaya dan efek suara, jadi terasa lebih hidup.*Katanya


Bagumbayan Light and Sound

Dari depan Museo saya naik tricycle gowes ke tempat ini. Rasanya saya tega banget menyiksa abangnya di tengah terik matahari yang cetar membahana begini. Sayangnya semua pengorbanan si abang dan niat saya terasa terbuang sia-sia karena saya hanya menghabiskan waktu kurang dari lima menit di tempat ini. Tau ga kenapa? Harga tiketnya 1,500 PHP per orang. Gubrak banget kan? Saya cuma bisa melongo di hadapan petugasnya yang jutek abis. Duit di dompet aja rasanya kurang dari segitu deh. Kalaupun duitnya ada, emangnya saya rela bayar? Kalaupun rela, jangan-jangan nanti malah kecewa. Ah, sudahlah.. kan sudah sempat beli buku sejarah Filipina juga *menghibur diri…

Dalam upaya menghibur diri inilah saya akhirnya melipir ke Baluarte de San Jose yang jaraknya hanya beberapa langkah dari Bagumbayan Light and Sound. Disini saya bengong dan masih nggak terima dengan harga tiket 1,500 PHP itu. Saya sampai buka akun IG Intramuros untuk mencari kebenarannya karena seingat saya harga tiketnya hanya 150 PHP. Tapi kebenaran yang saya temukan membuat saya menepuk jidat keras-keras : harga tiket 150 PHP per orang itu berlaku untuk rombongan dengan jumlah minimal 10 orang. Jadi yang salah siapa? *angkat tangan..

Ya sudahlah.. istirahat dulu aja..


Beluarte de San Jose. Rumah batu itu pernah menjadi kantornya Jenderal MacArthur pada Perang Dunia II.

Setelah puas meratapi kebodohan*lebay, saya lalu beranjak menuju ke tempat berikutnya yaitu Bahay Tsinoy Museum. Karena tak ada abang tricycle yang terlihat, sayapun mencari rute jalan kaki yang paling dekat dan banyak spotnya.

Tak berapa jauh dari Baluarte San Jose saya menemukan mural presiden-presiden Filipina dan dinding biara Ordo Santo Agustinus yang kokoh menjulang. Biara ini adalah bagian dari gereja dan museum San Agustin. Nah, dijamin nggak nyasar deh kalau sudah menemukan tempat ini. *Sambil bayangin betapa ngerinya tinggal di dalam biara itu.


Mural Presiden Filipina (maaf kaga motret satu-satu.. Inem lelah)

Dinding biara San Agustin. Kayaknya yang di dalam situ terisolir banget ya.

Karena enam bulan lalu saya sudah berkunjung ke Museum San Agustin, maka kali ini saya hanya berdiri di depan gerejanya dan berdoa sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Bahay Tsinoy.


Facade gereja dan museum San Agustin.

Bahay Tsinoy

Saya selama ini berpikir bahwa kawasan Intramuros adalah kawasan tertutup, alias tidak ada pemukiman warga di dalamnya. Tapi dalam perjalanan menuju Bahay Tsinoy saya menemukan pemukiman warga yang lumayan kumuh. Kios-kios kecil saling berlomba memadati tepian jalan, anak-anak kecil bermain bola di tengah jalan, orang-orang duduk-duduk sambil mengobrol. Saya agak kaget juga menemukan kenyataan ini.

Saya lebih kaget lagi ketika melihat bentuk Bahay Tsinoy yang seperti kantor kuno. Padahal saya berpikir, karena museum ini berkisah tentang orang dan kebudayaan China di Filipina, pasti bentuknya seperti rumah-rumah China pada zaman dahulu. *trus saya malah lupa motret bagian depannya dong 😣

Ketika memasuki museum ini, saya merasa menemukan teman dari Museum Peranakan di TMII. Isinya kurang lebih sama : bagaimana orang-orang China bisa masuk ke Filipina, kebudayaan China di Filipina, bagaimana mereka ambil bagian dalam goresan sejarah Filipina, juga tokoh-tokoh keturunan China yang berperan dalam pembangunan Filipina. Dan lagi-lagi saya menemukan nama Jose Rizal. 😍


Santo Lorenzo Ruis dan Jose Rizal.

Di bagian pertama museum ini kita akan bertemu dengan sejarah awal bagaimana para perantau dari China bisa mencapai Filipina dan bagaimana kehidupan mereka pada masa awal kedatangan. Ada yang jadi pedagang, penjahit, tukang reparasi sepatu, pembaca surat, dan ada pula yang menjadi pebisnis jika mereka mempunyai banyak harta bawaan dari China. Di bagian ini juga diceritakan bahwa beberapa kali terjadi represi oleh pemerintah Spanyol terhadap para imigran ini sehingga mereka terpaksa berpindah (dan dipindahkan) karena dianggap mengancam pemerintahan.

 

Saat sedang asyik foto-foto, mendadak saya didatangi oleh seorang petugas museum. Awalnya dia berpikir bahwa saya ikut dengan rombongan turis Taiwan dan nggak nyangka bahwa saya orang Indonesia. Ia berkisah bahwa pemukiman orang Cina yang digambarkan dalam museum ini tidak menggambarkan kumuh, kotor, berisik, dan bau dari kondisi aslinya.

Sebuah pertanyaan terlontar dengan spontan dari saya, “Kenapa pemerintah Spanyol (dan pemerintah-pemerintah lainnya) merasa takut dengan orang-orang China yang sederhana ini?” Si koko itu menjawab, “Orang-orang China yang datang kesini bukan hanya orang-orang yang miskin seperti ini, tapi ada juga orang-orang kaya (contohya yang bekerja sebagai pembaca surat), berpengaruh, ambisius, yang tingkahnya menyebalkan dan ingin berkuasa. Pemerintah Spanyol tentu merasa terancam sehingga melakukan represi terhadap orang-orang China, termasuk kepada mereka yang miskin-miskin ini yang sebetulnya nggak ngerti apa-apa seperti kamu dan saya, tapi menjadi korban karena mata kita sipit.”, sambil menarik kedua sudut matanya yang sipit itu. Sayapun tertawa melihat peragaannya itu. Benar juga ya..

 

Tak hanya dalam urusan bisnis ekonomi, orang-orang China juga berperan dalam perkembangan Gereja saat itu. Mereka ambil bagian dalam pembangunan beberapa gereja, salah satunya gereja San Agustin. Salah satu orang kudus Filipina, yakni Santo Lorenzo Ruiz yang asli Binondo juga merupakan keturunan China.


Orang Cina dan Gereja Katolik.

Si koko itu kadang muncul kadang hilang. Setiap kali muncul dia selalu bikin saya kaget. Ngeselin sangat. Secara museum ini lagi sepi banget dan tiba-tiba dia nongol di belakang saya memberi penjelasan pada apa yang tengah saya pandangi. *lama-lama bisa sawan nih..


Kata si koko nama permainan ini adalah sungkak.

Tapi si koko ini baeeekk banget *sayang saya lupa fotoin dia. Dia ini nih yang bilang saya hard core dan crazy gara-gara berani ke Tondo sendirian. Pas saya pamit pulang dia tanya rencana saya mau kemana. Jujur sih saya masih blank mau kemana, yang terbersit adalah ke Puerta del Parian dan gereja Binondo yang sering banget disebut-sebut di museum ini. Pas saya bilang mau ke Binondo, dia tadinya mau kasih list wisata kuliner disana, tapi setelah ubek-ubekan sekian menit ternyata brosurnya sudah habis. Hiks. Huaaaa… Anterin aja sih Ko.. *mulai gelo…


Si koko di depan replika facade gereja San Agustin.

Mungkin karena muka saya melas banget (dan hitam kayak dakocan meski masih sipit) dia nyuruh saya istirahat dulu karena diluar masih panas. Dia nyuru saya ambil minum dan bahkan nyuru saya ke toilet dulu karena susah untuk cari toilet umum di Intramuros. *meleleh kegeeran deh..

Tapi saya membulatkan tekad untuk segera pergi *songong amat yak…

Karena semakin lama saya disitu akan semakin memberatkan langkah saya *ngantuk maksude… adem banget soalnya…

Bye koko…

Puerta del Parian

Menara Katedral nampak begitu dekat dan saya melihat peta. Hmm.. Puerta del Parian ada di ujung dan lumayan jauh dari Katedral. Mau gak mau saya harus nyegat tricycle. Nah.. disinilah saya baru paham kenapa enam tahun lalu saya harus bayar mahal untuk sewa tricycle selama sekian jam. Jadi sistem sewaan tricycle di Intramuros adalah per 30 menit seharga 200 PHP (yang resmi). Banyak abang tricycle yang gak jelasin ini ke penumpangnya (termasuk saya) dan penumpangnya santai aja berjam-jam. Tiba-tiba pas saat bayar langsung jederr kayak kesamber geledek. Scam banget dah. Tapi gara-gara pernah kena scam minimal saya jadi belajar cara pakai transportasi umum ke Intramuros ini.

Abang becak yang mau mengantar saya ke Puerta del Parian ini pun tadinya mau menerapkan cara itu. Tapi saya keukeuh, pokoknya saya kaga mau sistem setengah jam itu. Mahal gila. Akhirnya si abang setuju dengan tarif 100 PHP, dengan syarat saya nggak boleh lebih dari setengah jam mengelilingi Puerta del Parian. Oke deal!


Puerta del Parian dan dinding Intramuros.

Puerta (Gerbang) del Parian adalah salah satu gerbang keluar masuk Intramuros yang dibangun tahun 1593. Saat Manila menjadi pusat perdagangan, Intramuros adalah kawasan bisnis internasional yang amat sibuk. Namun orang-orang kelas menengah ke bawah seperti orang asli Filipina dan imigran China tidak boleh masuk ke area ini. Puerta del Parian menghubungkan kawasan Intramuros dengan kawasan Parian de Arroceros yang menjadi kampungnya imigran dan pedagang China. Setelah kehancuran Puerta Real akibat invasi Inggris di tahun 1764, Puerta Real menjadi gerbang resmi bagi gubernur jenderal Spanyol. Selama perang pembebasan Manila gerbang ini mengalami kehancuran parah dan direkonstruksi dalam jangka waktu yang panjang, sejak 1967 hingga 1982.

Saya minta si abang tricycle untuk mengantar saya kembali ke Katedral Manila. Soalnya transportasi balik menuju Santa Cruz hanya lewat di depan Katedral saja. Setelah makan kenyang di KFC seberang Katedral saya pun menunggu jeepney di pojokan jalan.

♫Dan terjadi lagi.. ♬ Jeepneynya penuh melulu.. Hedeeehhh…

Setelah sekian lama menanti, muncullah sesosok kendaraan mirip bajaj, berwarna putih tapi gak brisik. Sekilas saya dengar abangnya bilang “Santa Cruz” lalu ada satu bapak naik. Karena ragu saya tanya lagi si abang, “Santa Cruz?” Eh yang jawab malah bapak penumpang itu. Dia lalu ngasih kode saya untuk naik. Agak ragu-ragu sih.. Manila gitu lho.. Tar kalau diculik gimana? *parno mode ON. Akhirnya sih saya naik juga, daripada kelamaan nunggu kan?

Awalnya kami berdua hanya saling diam, alias sebodo amat. Mendadak si bapak menyuruh saya pegangan. Ah.. ternyata bajaj yang kami tumpangi hendak menerabas pembatas jalan. Enam bulan lalu saat naik tricycle, si abang menyuruh semua penumpangnya (cewek semua) untuk turun. Kali ini abang tukang bajaj pede banget langsung melindas pembatas jalan, yang meskipun ga terlalu tinggi tapi lumayan bikin was-was. Lah kalau bajajnya terjungkal gimana? Saat si bajaj mulai miring kami berdua pandang-pandangan ngeri, lantas ketika si bajaj berhasil melewati pembatas itu kami berdua sama-sama tertawa lega (meski tanpa suara takut si abang bajaj jadi baper).

Saat dia turun di Santa Cruz, saya pun ikutan turun. Nah, barulah kami ngobrol. Bapak itu namanya Ogi, dan karena dia mau ke gereja Santa Cruz jadilah saya ngintilin dia. Lumayan kan jadinya nggak usah pakai pusing nyari gereja ini dan ada teman ngobrol juga.

Ternyata sebuah pertemanan bisa dimulai gara-gara bajaj nerabas pembatas. Ajaib memang dunia ini…

Gereja Santa Cruz

Gereja Santa Cruz ini sebetulnya bernama asli “Our Lady of The Pilar”, namun lebih ngetop sebagai Santa Cruz karena letaknya di distrik itu. Gereja ini adalah pusat ziarah untuk Sakramen Maha Kudus di Keuskupan Agung Manila.

Gereja Santa Cruz yang pertama dibangun dari kayu dan batu oleh para Yesuit pada tahun 1608 untuk melayani penduduk China di kawasan itu. Mereka lalu meletakkan patung Our Lady of Pilar pada 1643. Gereja perdana ini runtuh karena gempa besar tanggal 3 Juni 1863. Proses rekonstruksi kemudian dimulai pada 1868 di bawah supervisi Pastor Agustin de Mendoza. Gereja ini kemudian mengalami kehancuran karena gempa bumi dan perang pembebasan Manila tahun 1945. Proses rekonstruksi dimulai kembali tahun 1957.

 

Gereja ini posisinya menghadap Plaza Santa Cruz dan Gerbang Persahabatan sebagai pintu masuk ke kawasan China Town. Tepat di depan gereja terdapat Air Mancur Carriedo yang namanya diambil dari nama Don Francisco Carriedo, seseorang yang mendonasikan hartanya untuk pembangunan sistem perpipaan air di Manila, meski baru berhasil terwujud lebih dari satu abad setelah kematiannya.

Karena di dalam gereja masih berlangsung misa Minggu, saya hanya berdoa sejenak di bagian belakang gereja (dan foto-foto sedikit). Trus saya melipir duduk di samping air mancur Carriedo deh sambil buka google maps, mencari jalan terdekat untuk menuju ke gereja Binondo.

Gereja Binondo

Baru saja saya menyeberangi jalan, seorang abang tricycle menawarkan jasanya. Akhirnya niat untuk jalan kaki saya batalkan deh. *trus tadi ngapain ya sok-sokan nyari rute di google maps.

Kawasan Binondo adalah kawasan China Town tertua di Filipina, bahkan di dunia. Pemerintah Spanyol mendirikan kawasan ini pada 1594 bagi para imigran China sebagai pengganti kawasan Parian. Nah, sampai sekarang Binondo ini terkenal sebagai pusat bisnis (dan kuliner). Terlihat dari deretan toko dan tempat makan yang saya temui sepanjang perjalanan menuju gereja. Pada masa penjajahan Spanyol, Binondo juga terkenal dengan kanal-kanalnya yang aktif digunakan sebagai sarana transportasi. Hmm, sayangnya sekarang kanal-kanal tersebut malah terlihat tak terawat.


Binondo pada zaman dahulu.

Plaza Binondo : patung San Lorenzo Ruiz – tugu memorial bagi orang China di Filipina yang tewas akibat Perang Dunia II (1995) – tugu memorial bagi Tomas Pinpin (1916), bapak percetakan Filipina, dipindahkan dari Plaza Cervantes pada 1979

Para pastor Dominikan membuka paroki di area ini pada tahun 1596 dan kemudian banyak imigran China yang memeluk agama Katolik. Gereja yang pertama ini hancur kala invasi Inggris tahun 1762. Pada tempat yang sama, dibangun kembali gereja baru dari bahan granit pada tahun 1852 namun rata dengan tanah akibat gempa bumi besar di tahun 1863. Bombardir tentara Amerika pada September 1944 kembali menghancurkan gereja ini. Proses rekonstruksi dimulai sekitar tahun 1950an dan baru selesai tahun 1984.

Gereja Binondo ini tak kalah istimewa dengan kawasannya. Santo Lorenzo Ruis berasal dari paroki ini. Ia adalah seorang petugas sakristi berdarah campuran China dan Filipino (mestizo) yang menjadi martir saat menjadi misionaris di Jepang. Ia adalah orang kudus pertama dari Filipina yang dikanonisasi tahun 1987, sekitar 350 tahun setelah kemartirannya. Kemudian menjelang akhir abad 19, Andres Bonifacio (Bapak revolusi Filipina) menikah di gereja ini. Gereja inilah yang berhasil menciptakan sebuah hubungan antara budaya China dengan iman Katolik.

 

Sayangnya, saya tak bisa lama-lama di tempat ini. Saat itu misa Minggu masih berlangsung. Pastor yang memimpin sedang homili. Saya berdiri di belakang dan memotret suasana gereja sore itu. Baru saja satu jepretan saya sudah ditegur oleh petugas tatibnya. Tadinya sih saya mau nekad berdiri di belakang sampai misa selesai, tapi kok homilinya lama banget ya, ditambah lagi pandangan dari petugas tatib yang bikin saya merasa terintimidasi *lebay. Jadilah saya memutuskan untuk tunggu di luar.

Di depan gereja saya duduk di trotoar bersama dengan pedagang asongan yang mangkal depan gereja. Akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan gereja ini karena homili pastornya gak selesai-selesai. *masalahnya pastor homili pakai Bahasa Tagalog, jadi saya blank, gak ngerti apa-apa. Sedih deh.

Perjalanan hari itu saya akhiri di SM Sta. Mesa dengan drama di depan deretan mesin ATM. Saya pulang ke hostel dengan membawa sedikit kekesalan akibat drama itu. Untunglah di kamar ada Fan-Fan, jadi saya bisa sedikit lupa dengan insiden ATM itu. Fan-Fan meminta saya bercerita tentang perjalanan saya hari itu, dan saya agak shock waktu dia bilang dia belum pernah sama sekali ke Intramuros. What?? Bahkan dia takut naik jeepney di Manila. Waduh.. 😅

Kami banyak berbicara tentang asal-usul kami. Saya keturunan China yang ternyata bersaudara juga dengan para keturunan China di Filipina ini. Fan-Fan sendiri keturunan Spanyol-Filipino yang sejak lahir tinggal di Cebu. Tapi akhirnya kami setuju dengan sebuah hasil riset bahwa konsep ras tidak bisa didasarkan pada hal genetis karena kita semua, meskipun berbeda ras, tetap mempunyai kesamaan genetis. Ah, susah lah jelasinnya. Lihat di video ini aja ya.

Dari Fan-Fan inilah saya berpikir ulang tentang menjadi seorang Katolik di negara mayoritas Katolik. Buat saya pribadi, ikut misa Minggu itu adalah kebutuhan (walau kadang berasa kewajiban sih), rasanya ada yang hilang kalau gak misa. Lagi pula kalau sedang di rumah dan nggak misa Minggu, bisa-bisa seisi rumah udah pada ngomelin saya. Jadi saya agak kaget ketika Fan-Fan bilang dia udah sekian lama nggak ikut misa karena ga tahu dimana gereja terdekat. Hmm.. gereja di Manila kan bukan main banyaknya. Bahkan jadwal misanya pun hampir ada di setiap jam sepanjang hari. Ah, tapi bukan hak saya untuk menjudge. Mungkin kalau saya lahir dan besar di Filipina, bisa jadi saya juga bakal secuek Fan-Fan ya.. hehehe.

Malam itu saya dapat kado cantik dari Fan-Fan : gelang rosario yang bisa menyala dalam gelap. Baru kali ini saya ketemu teman sekamar yang baik hati dan perhatian kayak Sara dan Fan-Fan (saat itu Sara belum pulang ke kamar)

Salamat po, Fan-Fan… 💓


Entrance Fee :

Museo de Intramuros : free

Bagumbayan Light and Sound Museum : 150 PHP, rombongan minimal 10 orang.

Baluarte de San Jose : free

Bahay Tsinoy : 100 PHP (Tuesday – Sunday 1 pm – 5 pm.

4 thoughts on “[Philippines] Dari Intramuros ke Binondo : Kisah-Kisah Pendek Tapi Panjang”

  1. Wow! I actually missed all these places when I went to Intramuros. I only went to the main spots like the Manila Cathedral and Fort Santiago. Will have to put it on my list for the next visit. Thanks for sharing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s