My Journey...

[Philippines] Bataan : Naik Mesin Waktu di Las Casas Filipinas de Acuzar

Sebuah postingan tentang undian kartu pos bergambar salib besar bertuliskan “Mount Samat – Bataan, Philippines” muncul di sebuah grup facebook. Nama Bataan itu membuka kenangan tentang perjalanan ke Pulau Corregidor enam tahun lalu.

Stella, guide kami di Corregidor sekilas menceritakan tentang Death March of Bataan. Kisah ini memang tak sengetop pengeboman Pearl Harbor atau kisah tentang pengepungan Iwo Jima, bahkan tak banyak juga dibahas dalam buku-buku tentang Perang Pasifik atau Perang Dunia II, tapi justru yang nggak terekspos itulah yang bikin penasaran.

Nama Bataan itu juga menyalakan lampu di kepala saya ketika menyusun itinerary perjalanan ke Filipina kali ini. Kalau boleh jujur, sebetulnya keputusan memilih Filipina ini memang agak terburu-buru, apalagi baru enam bulan lalu saya juga berangkat kesana. Tapi ya itu, kok rasanya ada yang “belum selesai” dengan negeri ini. Setelah bolak-balik membongkar itinerary akhirnya saya (hanya) punya satu hari kosong dan saya memilih untuk melipir ke Bataan.

Bataan dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama kurang lebih dua setengah jam dari Manila. Ada dua PO bus yang banyak direkomendasikan, yakni Genesis Transport dan Bataan Transit. Keduanya berada di kawasan Cubao. Saat saya mencari informasi tentang Bataan dan Mount Samat, ada satu tempat pula yang direkomendasikan, yaitu Las Casas Filipinas de Acuzar.

Las Casas Filipinas de Acuzar (casas adalah bentuk jamak untuk rumah dalam Bahasa Spanyol) ini sebetulnya proyek “obsesi” Jose Acuzar yang ingin mengumpulkan rumah-rumah bersejarah masa kolonial Spanyol dari seantero Filipina sejak 2003. Ia tak hanya membuat replika dari rumah-rumah itu, tapi memindahkan keseluruhan bangunannya dari tempat semula ke kawasan Las Casas. Jika ada bagian yang tak bisa dipindahkan maka akan dibuat replikanya. Ada pula yang terpaksa hanya dibuat replika yang sama persis berdasarkan foto karena bangunan aslinya sudah tak ada atau tak dapat dipindahkan. Di atas lahan seluas 400 hektar dan berpantai ini terdapat sekitar 40 casas. Sebagai pencinta rumah-rumah jaman baheula saya langsung pengen banget mampir ke tempat ini, yang baru pada tahun 2010 lalu dibuka untuk umum. Pada tahun 2015, Las Casas ini bahkan menjadi tempat pertemuan para pemimpin negara-negara APEC lho.

Semua blog yang saya temukan begitu informatif. Mereka memberikan detail-detail untuk bisa mencapai kedua tempat itu dari Manila dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Jadi saya betul-betul terbantu dengan panduan mereka. Patokan yang mereka berikan adalah Balanga, sebuah kota di Bataan yang menjadi persimpangan : ke utara menuju Olongapo, ke selatan menuju Mariveles via Orion, atau ke barat menuju Mariveles via Pilar (Mt. Samat) dan Bagac (Las Casas). Jika dilihat di peta, posisi Bagac lebih jauh daripada Mt. Samat. Jadi dianjurkan untuk pergi ke Las Casas dulu baru nanti singgah di Mt. Samat dalam perjalanan kembali ke Balanga.

Semenanjung Bataan

Saya agak deg-degan juga ketika melihat lokasi Las Casas dan Mt. Samat dalam peta. Jauh banget euy. Belum lagi kondisi jalanan Manila yang macetnya nggak tanggung-tanggung. Kira-kira saya bisa pulang hari ngga ya? Keburu nggak ya dalam satu hari itu ke Las Casas dan Mt. Samat? Ah, pokoknya banyak banget deh yang bikin bingung, salah satunya takut ngga keburu mengejar bus terakhir ke Manila. Bahkan saya sempat berpikir untuk naik ferry dari Manila ke Bataan untuk mengindari macet. Tapi masalahnya adalah dari terminal ferry masih jauh banget ke Las Casas dan Mt. Samat.

Akhirnya saya memutuskan untuk nekad naik bus. Bisa atau ga bisa pulang, toh saya masih punya satu hari tersisa. Walaupun begitu, pagi sebelum berangkat ke Bataan saya sudah bangun sejak pk 03.30 karena senewen dan grogi. Bolak balik saya googling lokasi pool bus di Cubao dan jadwal bus dari dan menuju Bataan.

Tepat jam 5 teng saya pun beranjak dari hostel dan naik LRT di Stasiun V. Mapa menuju Cubao dengan bekal dua slice pizza yang saya beli semalam. Dari Cubao saya mengikuti google maps menuju pool Bataan Transit yang jaraknya lebih dekat dari stasiun LRT Araneta Cubao. Pagi itu suasana di Cubao sudah ramai banget begitu juga di pool Bataan Transit. Tepat ketika saya tiba disana, ada satu bus yang hendak keluar pool dan tertulis “Bataan”, “Balanga”, “Mariveles”. Dengan pede saya bertanya, “Balanga?” Ketika petugas pool menganggukkan kepala, saya pun langsung masuk ke bus yang sudah tiga perempat penuh.

Ada satu hal konyol yang bikin nyengir. Kalau di Indonesia sini kan begitu kenek datang, kita kasih tahu tujuan kita dan langsung bayar. Nah, beda dengan disana. Pada kedatangan kenek yang pertama, mereka hanya menanyakan tujuan kita lalu memberikan tiket kertas yang berisi tanggal, jarak perjalanan, dan tarif. Tiket itu berisi deretan angka-angka yang dibolongi sesuai dengan jarak tujuan dan tarif yang harus kita bayarkan. Saya yang udah fokus pengen lanjutin tidur langsung menyodorkan uang 1.000 PHP ke kenek bus itu. Si kenek menolak, saya kira karena dia ngga punya uang kembalian. Saya pun menyiapkan uang pas sebesar 218 PHP dan tetap aja dicuekin. Setelah clingak clinguk bingung barulah saya sadar bahwa tak ada seorang penumpang pun yang bayar ongkos. Ternyata keneknya akan keliling lagi untuk cek tiket dan menerima pembayaran dari penumpang.. Oohhh begitu caranya yaa.. 😂 Ya sudah mari kita merem.

Saya terbangun karena bunyi grasak-grusuk di sekitar saya. Ah, ternyata bus sudah sampai di San Fernando, Pampanga, kira-kira setengah jalan menuju Bataan. Saya pun tidur lagi, kali ini bisa senderan di jendela karena penumpang sebelah saya sudah turun. Saya pun terlelap kembali dan ketika terjaga suasana di luar sudah berubah menjadi pemandangan pedesaan. Saya cek di google maps dan ternyata saya sudah memasuki kawasan semenanjung Bataan. Saya pun tak berani merem lagi, takut terlewat. Hehehe.

Saking parnonya, saya terus memonitor pergerakan bus lewat google maps hingga akhirnya si kenek berteriak “Balanga”, dan saya pun turun. Nah, masalah berikutnya muncul. Naik apa ke Bagac? Menurut blog chasejaseph.com kita harus naik minibus, sedangkan menurut tripzilla.ph bisa naik jeepney atau bus. Saya lalu tanya pada seorang pria yang nongkrong di halte tempat saya diturunkan. Dengan campuran antara Bahasa Tarzan dan Bahasa Kalbu yang sama-sama kagak nyambung, saya berkesimpulan bahwa bus atau jeepney menuju Bagac akan lewat dan berhenti di halte itu.

Sepuluh menit.. Lima belas menit.. Bahkan hampir setengah jam terlalui, tak ada satupun bus, atau mini bus, atau jeepney bertuliskan Bagac yang muncul. Bus-bus yang lewat hampir semuanya bertuliskan Mariveles atau Olongapo. Untungnya saya sudah mempelajari peta Bataan, jadi nggak kepedean langsung naik sembarang bus. Semakin lama saya semakin ragu, dan semakin merasa saya sudah menyia-nyiakan waktu. Dalam kondisi mulai kalut saya mulai berdoa minta bantuan Kuya Richie untuk menunjukkan jalan. Saya sampai bilang, “Kuya, kamu pasti pernah kesini kan?”.

Saya lalu mulai tanya google dan membaca kembali blog-blog yang sudah saya baca. Ternyata jeepney ataupun bus menuju Bagac adanya di terminal Balanga. Dan jelas sekali, tempat saya berdiri ini bukannya terminal tapi HALTE! Hedeeeeh.. Mungkin karena mereka naik bus yang hanya sampai Balanga maka mereka bisa turun langsung di terminal, sedangkan saya naik yang jurusan Mariveles maka hanya diturunkan di pinggir jalan saja. Gara-gara kepedean dan sotoy, jadilah selama setengah jam saya dibakar panas matahari yang gahar itu.

So.. saya pun menyeberang jalan dan mendekati abang-abang tricycle yang mangkal disitu. Ketika saya bilang “Terminal”, mereka malah balik bertanya, “Memangnya mau kemana?” Lantas saya jawab “Bagac” dan mereka langsung nyambung “Aha.. Las Casas..” *dih…tau aja.. 😎

Singkat cerita, sampailah saya di terminal Balanga yang situasinya jauh dari kata “terminal”. Disana hanya ada satu jeepney jurusan Bagac yang baru terisi satu penumpang. Ya Gusti.. kalau begini kapan saya nyampe Bagacnya? Jarak 30 km yang menurut peta dapat ditempuh dalam 50 menit (pakai mobil), entah berapa lama jadinya kalau ditempuh pakai jeepney.

Ya sudahlaaaah.. Whatever will be.. will beee….


“Jeep pak camat.. Jeep pak camat..

Warna coklat penuh karat

Supir camat sering telat waktu jeepnya sedang ngadat..”

Lagu parodi Jeep Pak Camat yang dipopulerkan oleh Padhyangan Project terus terngiang sepanjang perjalanan menuju Bagac. Jeepney yang saya naiki hanya berisi lima penumpang termasuk saya dan mulai megap-megap karena jalan menuju Bagac lumayan menanjak curam. Di beberapa tempat ada separuh jalan yang ditutup karena perbaikan jadi si jeepney sering harus berhenti dalam posisi nanjak. *asli ngeri.. Dalam hati saya berdoa agar sampai nasib kami berlima jangan kayak Pak Camat :

“Lalu pak camat mendorong kuat-kuat

Agar laju mobil tidaklah tersendat.

Jalan menanjak tidak trasa berat

Di rumah cari tukang pijat, karena encok pak camat kumat…”

Dengan panduan google maps, akhirnya saya pun tiba di Bagac sekitar pukul sepuluh lewat sekian menit. Agak bablas dikit sih, harusnya saya turun di Japan-Philippines Friendship Tower yang berbentuk lonceng. Dari tempat saya turun saya lalu nyambung naik tricycle seharga 100 PHP (ini udah standar). Ternyata jalan masuk menuju Las Casas itu masih lumayan jauhhh dari jalan raya. *Trus mikir ntar pulangnya begimana yak?

Prosedur penerimaan tamu di Las Casas ini agak unik. Di gerbang paling luar mereka mencatat dulu data-data kita, juga sudah reservasi atau belum (jika mau menginap). Lalu ada satu jeepney yang akan mengangkut tamu-tamu ini menuju ke resepsionis yang terletak di Casa New Manila. Disini saya dikira orang Pinoy tulen, jadi si mbak resepsionisnya langsung nyerocos pakai bahasa Tagalog. Amboi… urang teh teu ngartos cintah..

Karena saya hanya ingin ikut heritage tour, maka si Mbake menawarkan dua paket : Walking tour seharga 1.500 PHP, dan premier heritage tour seharga 1.850 PHP. Dengan booking yang premier ini saya dapat lebih banyak privilage selain walking tour : bisa naik balsa (kapal kayu), kalesa (kereta kuda), dan akses masuk ke replika Hotel Oriente. Tapi yang bikin saya ngiler cuma balsa cruisenya.. alias naik kapal kayu keliling kanal-kanal. Foto-foto di replika kanal Binondo yang tersebar di senatero jagad maya itulah yang bikin saya ngiler pengen ke Las Casas ini. Jika kita datang di hari Sabtu atau Minggu, harganya melambung jadi 2.500 PHP. Makanya saya pilih berangkat di hari Senin. Bisa ngirit dan pasti nggak terlalu ramai. Haha..

Awalnya saya sempat ragu untuk berangkat di hari Senin. Jangan-jangan disana cuma ada saya sendirian ya? Trus kalau cuma sendiri dan gak ada rombongannya, nanti nggak bisa ikutan walking tour dan naik balsa ya? Eh, tapi ternyata, setelah seluruh peserta walking tour pk.11.00 dikumpulkan di Casa Binan, jumlahnya sekitar dua puluhan orang lho. *Fyuhh.. legaa…

Walking tour pun dimulai… tadaaa… Seneng banget karena guide kami yang cantik (lupa namanya) menggunakan Bahasa Inggris untuk memandu kami. Semua sudut Las Casas tuh punya cerita yang bikin saya pasang kuping dan pastinya Instagramable banged. *andai aku jadi orang kaya.. pengen deh nginep disini..

Dimulai dari Casa Biñan. Kami dijelaskan sekilas tentang Las Casas Filipinas de Acuzar di bawah casa ini, dan setelahnya kami diajak masuk ke rumah bersejarah dan misterius ini.

Casa Binan merupakan rumah keluarga kakek dan nenek dari ibu Jose Rizal. Rumah dua tingkat ini dibangun sekitar tahun 1800an dengan luas kurang lebih 600 meter persegi. Rumah ini menyimpan kisah kelam yang cukup mengerikan. Alkisah Jose Alberto, adik dari Teodora Alonso (ibu Jose Rizal) menikah dengan Teodora Formoso. Formoso diduga berselingkuh dengan seorang tentara sehingga Jose Alberto mengurungnya di dalam rumah. Teodora Alonso kemudian datang ke rumah itu untuk menghibur adik bungsunya dan menjaga Formoso. Entah bagaimana ceritanya, suatu hari Formoso menuduh Teodora Alonso meracuninya dan kabar itu sampai ke telinga pemerintah Spanyol yang mempercayainya sehingga Teodora Alonso dipenjara selama dua tahun.

Berikutnya adalah Casa Baliuag I yang dibangun pada tahun 1898 di depan gereja Baliuag, Bulacan. Rumah ini adalah milik Kapitan Fernando Vergel de Dios. Ia menikah dengan Carmen Fausta de Leon dan memiliki sembilan anak. Satu tahun setelah Carmen meninggal, ia menikah dengan Angela Nunez dan memiliki dua belas anak. Wew.. keluarga besar banget ya.. Bagian bawah rumah ini disebut luwasan yang digunakan sebagai tempat menunggu kendaraan bagi warga Bulacan. Karena banyak orang yang sering berdiri di depan rumah mereka, maka keluarga ini membuat studio foto dan kantor pos.

Lalu kami melangkah ke sebuah rumah megah bernama Casa Quiapo atau Casa Hidalgo. Casa Hidalgo adalah milik keluarga Rafael Enriquez, dibangun pada tahun 1867 dengan desain dari Felix Roxas y Arroyo, arsitek pertama Filipina. Berlokasi di lokasi yang kini menjadi jalan R Hidalgo di Quiappo (yeaay.. saya pernah nginep di jalan ini lho), rumah ini dinilai sebagai rumah yang paling elegan pada masanya. Rumah ini pernah menjadi kampus pertama University of the Philippines School of Fine Arts dengan Enrique sebagai direktur pertamanya sejak 1908 hingga 1926. Ini juga merupakah sekolah arsitektur pertama di Filipina. Pada tahun 1927 kegiatan sekolah dipindahkan ke tempat lain dan rumah ini beberapa kali beralih fungsi, mulai dari lapangan bowling, dormitori, tempat pertunjukan “dewasa”, dan lainnya.

Kami kemudian diajak masuk ke Casa Lubao, rumah “termuda” di tempat ini. Casa ini milik keluarga Valentin Arrastia-Francisca Salgado (nenek moyang dari ibu Enrique Iglesias) di Lubao, Pampanga yang dibangun tahun 1920 di seberang Lubao Municipal Hall. Keluarga ini membuka perkebunan tebu dan padi di Pampanga sejak awal 1900an. Pada masa penjajahan Jepang, rumah ini terkena penjarahan dan digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata. Ketika rumah ini hendak dibakar oleh tentara Jepang, salah seorang kolonel melarangnya karena ia pernah menjadi sopir Francisca. Setelah perang, Juanita Arrastia, salah satu anak mereka bersama suaminya, Wencenslao Vitug membeli kembali rumah ini setelah dijual oleh keluarganya yang lain.

Meja panjang di Casa Lubao.
“Lola (nenek) Basyang” digambarkan sebagai seorang nenek yang tengah duduk di kursi goyang sambil bercerita pada cucu-cucunya. Lola Basyang ini sebetulnya adalah nama pena dari Severino Reyes, pendiri dan editor majalah Liwayway. Pada tahun 1925, ia mulai menulis “Kuwento ni Lola Basyang” di majalah itu, yakni cerita-cerita dongeng untuk anak-anak, dengan menggunakan nama Lola Basyang.
View from Casa Lubao.

Kami lalu dibawa ke suasana masa lalu di Casa Luna yang berwarna merah dan saat ini berfungsi sebagai museum barang-barang antik milik Mr. Jerry Acuzar. Pemilik asli rumah ini adalah Mayor Primitivo Novicio, dan pernah menjadi tempat penahanan Jenderal Yamashita sebelum diadili. Saking amazingnya melihat benda-benda jadul, saya malah lupa mengabadikannya.

Casa Luna

Setrikaan jaman jadul di Casa Luna.
Casa Baliuag 2 aslinya berlokasi di dalam kawasan gereja Iglesia ni Kristo di Baliuag, Bulacan. Sebelum dipindahkan, rumah ini berfungsi sebagai ruang serbaguna bagi jemaat Gereja.

Perjalanan kami berakhir di Casa Byzantina. Casa ini adalah rumah milik Don Lorenzo Del Rosario yang berlokasi di San Nicolas Binondo. Didesain oleh Joan Josep Hervas y Arizmendi pada tahun 1890 dengan bagian bawah terbuat dari batu dan bata, bagian atasnya tersusun dari berbagai jenis kayu, dan atapnya terbuat dari lembaran besi tergalvanis untuk mencegah kehancuran akibat gempa bumi. Rumah ini pernah digunakan sebagai Universitas Manila pada tahun 1914, namun setelah Perang Dunia II rumah ini sempat terbengkalai dan ditempati oleh berbagai macam pedagang, hingga akhirnya dipindahkan ke Las Casas pada 2009.

Setelah selesai walking tour, saya mati gaya. Saya langsung ke Casa Lubao untuk bisa naik balsa (terobsesi banget sama balsa ini), tapi apa daya karena cuma sendiri saya harus tunggu rombongan secara minimal pesertanya adalah lima orang. Saya ditawari naik kalesa, ya udah saya ikut aja, tapi nggak merasa excited karena di Indonesia pun banyak kereta kuda. *Maap yaaa…

Replika gereja San Jose Balanga.
Hotel de Oriente : dirancang oleh Juan Huervas y Arizemendi dibangun oleh Don Manuel Perez Marqueti pada tahun 1889 berlokasi di Binondo, di depan Plaza Calderon de La Barca (kini Plaza Lorenzo Ruiz). Pada masanya hotel ini adalah hotel kelas satu dan satu-satunya senatero Filipina. Hanya Istana Malacanang dan Hotel de Oriente yang memiliki sambungan telepon dengan nomor 01 dan 02, juga salah satu dari sedikit bangunan di Manila yang memiliki sistem perlistrikan pada masa itu. Facade hotel ini dipindahkan dari Binondo ke Bataan pada Oktober 2013.

Pucuk dicinta, rombongan pun tiba. Muncullah satu keluarga yang hendak naik balsa jadi saya bisa ikut dengan rombongan mereka. Tapi saya sedih.. Secara mereka itu narsis semua plus ditambah dua anak piyik yang rewel kepanasan. Saya jadi susah buat foto-foto, trus abang perahunya juga hanya menjelaskan dengan Bahasa Tagalog. *rasanya pengen nyebur ke kanal.. Huaaaaaaaaa….

♪Begini nasib…
… jadi bujangan..♪
Lola Basyang Bridge.

 

This slideshow requires JavaScript.

Karena mengejar waktu ke Mt. Samat, saya pun memutuskan untuk segera minggat setelah makan siang di La Bella Teodora. Yep, tempat ini menjual makanan Italy yang harganya lumayan bikin meringis. *langsung berasa miskin.

Di gerbang utama saya kebingungan nyari tricycle yang bisa mengantar saya kembali ke landmark Bagac, tapi nggak ada setitik pun tanda-tanda abang tricycle. Ternyata.. kalau saja saya lapor dulu di resepsionis, maka akan dicarikan tricycle di gerbang. Gara-gara saya main minggat gitu aja, jadilah prosesnya agak lama. Syukurlah ada satu abang tricycle yang baru antar tamu, jadi saya ga perlu tunggu terlalu lama.

Di depan Japan-Philippines Friendship Tower saya menemukan bus jurusan Balangas yang sudah terisi setengah penuh. Ah.. syukurlah.. setidaknya nggak naik jeepney pak camat lagi. Saya cuma bisa berdoa dalam hati supaya bus itu lewat jalur utama yang melintasi Mt. Samat. *trus langsung tersuruk di bangku dekat jendela sambil komat-kamit “jangan tidur… jangan tidur…”

Japan-Philippines Friendship Tower

How to get there :

Manila – Bataan : bus Genesis atau Batan Transit dari Cubao (cek lokasinya di google maps). Turun di Balanga. Tarif 218 PHP.

Jadwal keberangkatan dari Manila :

Bataan Transit : 01.00 – 23.00 (interval setiap 15 menit sampai 30 menit sekali).

Genesis : 00.00 – 22.00 (interval setiap 15 menit sampai 30 menit sekali).

Jika diturunkan di pinggir jalan, sambung tricycle ke terminal (20 – 40 PHP).

Dari Terminal Balanga bisa naik jeepney atau mini bus ke Bagac, tarif 50 PHP. Turun di pertigaan Japan-Philippines Friendship Tower. Naik tricycle ke Las Casas (100 PHP).

Paket-paket heritage tour, menginap di Las Casas dan booking online bisa dilihat disini.

Las Casas Filipinas de Acuzar

Brgy. Ibaba, Bagac, Bataan, 2017

Philippines

Email : reserve@lascasasfilipinas.com

3 thoughts on “[Philippines] Bataan : Naik Mesin Waktu di Las Casas Filipinas de Acuzar”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s