Uncategorized

[Satu Foto Sejuta Cerita] Malaysia, 26 September 2015

Setelah satu tahun lebih “cuti” dari yang namanya travelling, akhirnya saya berhasil move on juga. Malaka dan Kuala Lumpur adalah langkah pertama come back saya meski awalnya sempat agak ragu karena sekian lama tak jalan sendiri. Apalagi saat itu kabut asap sedang parah-parahnya dan jadi isu sensitif dalam hubungan Indonesia-Malaysia.

Hari kedua perjalanan ini adalah yang paling berkesan untuk saya karena ada begitu banyak kejutan dari Tuhan yang mempertemukan saya dengan begitu banyak orang baik. Perjalanan ini sungguh mematahkan stigma buruk tentang Malaysia yang selama ini dihembuskan oleh banyak media massa.


Malaka

Sebelum pukul tujuh pagi saya sudah duduk manis di depan pintu masuk hostel, menunggu pemiliknya terjaga untuk bisa meminjam sepeda.

Istri pemilik hostel yang asli Medan begitu murah hati menggratiskan sewa sepeda saya hari ini. Alasannya karena kemarin saya sudah menyewa dan mengembalikan dengan kondisi yang baik. Lumayan banget bisa hemat 10 MYR (Ringgit) 😁

Malaka pagi itu begitu sunyi senyap, berbeda sekali dengan hari sebelumnya ketika saya mesti adu urat dengan turis Indonesia yang narsisnya setengah mati. Kabut asap yang lumayan tebal menutupi cahaya matahari dan menjadikan suasana pagi itu seperti mendung.

Rute pertama saya adalah kawasan Bukit China karena penasaran dengan kisah Putri Hang Li Poh, istri kelima Sultan Mansur Shah. Meski putri ini selalu dijadikan simbol hubungan baik antara Kekaisaran China dengan Kesultanan Malaka, nyatanya sejarawan masih meragukan apakah Hang Li Poh ini tokoh nyata atau hanya sekedar dongeng yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Sebuah tugu memorial menyambut saya di Bukit China. Tugu itu dibangun untuk mengenang para pejuang etnis China yang gugur melawan Jepang saat perang Dunia II. Saya mulai merinding disko apalagi tampak gundukan khas makam-makam China di kejauhan. Saya menemukan juga sebuah klenteng yang begitu sunyi tanpa ada satu pengunjung pun di dalamnya. Rasanya spooky banget deh, pingin buru-buru ngacir. Jadilah saya malah tak mendapat jawaban apapun tentang Putri Hang Li Po.

Saya melanjutkan kayuhan saya menuju ke hostel melalui kawasan Little India yang beraroma sangat khas. Setelah melewati kawasan ini, saya pun mulai kehilangan orientasi dan mulai panik. Haduh.. bagaimana ini?

Beruntung saya melalui sebuah kantor yang petugas keamanannya sedang berganti shift. Lagi-lagi saya menemukan malaikat baik hati. Bapak penjaga yang hendak pulang setuju untuk menemani saya ke hostel. Beliau mengayuh sepedanya duluan dan saya mengikuti di belakangnya. Ah.. betapa baiknya orang-orang ini. Beliau bahkan bilang saya nekad banget pagi-pagi begini sudah ke Bukit China, sendirian pula. *iya Pak.. sebetulnya saya juga takut 😣

Setelah memperoleh kembali orientasi arah yang jelas, saya pun melanjutkan perjalanan berkeliling Malaka yang pagi itu sungguh bersahabat dan instagramable (alias gak banyak manusia yang menghalangi pemandangan πŸ˜†).

Clock Tower – Museum Maritim Archeology – Christ Church – Stadhuis

Melaka – Unesco World Heritage City.

Maritime Museum.

Sayangnya saya tak berhasil menemukan jalan menuju pelabuhan internasional Malaka yang menghubungkan Malaysia dengan Indonesia.

Karena saya masih punya waktu lumayan panjang sebelum jadwal keberangkatan bus pukul 14.00 menuju Kuala Lumpur, saya pun nekad menyusuri sungai saking terobsesi dengan jembatan-jembatannya yang cantik. Padahal saya sudah ikutan River Cruise malam sebelumnya, tapi saya belum puas memotret jembatan-jembatan itu. So.. saya pun mengayuh kembali sepeda mengikuti aliran Sungai Malaka yang bersih banget.

Saya juga singgah ke Kampung Morten, satu-satunya perkampungan orang Melayu di Malaka. Disini saya merasakan perpaduan nuansa tradisional yang masih dijaga yang berpadu dengan suasana modern, yang tampak pada kendaraan-kendaraan yang diparkir di depan rumah mereka.

Rasanya damai banget, meski rasanya terlalu sepi untuk memenuhi definisi sebuah kampung.

Nah.. selepas dari Kampung Morten ini saya kembali kehilangan orientasi, alias tersesat. Semakin lama saya menemukan suasana yang semakin sepi. Saya mencoba menyusuri sungai untuk kembali ke titik awal tapi saya malah tersesat semakin jauh. Duh.. tolongggg… 😭

Dalam kepanikan itulah saya menemukan satu kawasan pertokoan. Di sana saya mencegat seorang driver truk yang sudah hampir meninggalkan tokonya. Saya katakan bahwa saya tersesat. Ketika dia bertanya saya hendak kemana, saya pun bilang saya hendak ke Masjid Kampung Kling. Kawasan ini belum sempat saya telusuri padahal punya kisah yang begitu menarik tentang toleransinya.

Bapak driver ini lalu menunjukkan jalan yang harus saya tempuh. Saya sungguh sudah terlalu jauh tersesat. Untung saja saya bertemu bapak baik hati itu. Petunjuk beliau berhasil mengembalikan saya ke tepi sungai hingga perjalanan saya menjadi lebih mudah untuk menemukan Kampung Kling.

Masjid Kampung Kling

Betapa leganya saya ketika menemukan masjid Kampung Kling. Ah.. saya sudah kembali ke rute yang tepat dan tidak terlalu jauh dari Jongker Street yang sudah saya jalani semalam sebelumnya.

Kawasan Kampung Kling ini adalah bukti toleransi dari tiga etnis besar yang mendiami Malaka : Melayu, China Hokian, dan India. Di sini ada Masjid Kampung Kling, Kuil Tao Chen Hoon Teng, dan Kuil Hindu Sri Payyatha Vinayagar Moorthi. Saya pun mendatangi ketiga tempat tersebut yang siang itu lumayan ramai pengunjung.

Sri Payyatha Vinayagar Moorthi

Asli lah.. Malaka ini keren banget. Bukan hanya kotanya yang rapi, sungainya yang bersih, tradisi yang masih terjaga, museum yang tertata, tapi juga toleransi warganya yang jempolan. Duhh..betahin deh..

Saya mengakhiri perjalanan di Malaka dengan kunjungan ke sebuah rumah tua milik keluarga China yang kini dijadikan museum Baba Nyonya. Saya yang turunan China generasi kesekian cuma bisa bengong menyaksikan benda-benda antik yang nggak pernah saya temukan di rumah. Hehehe..

Datuk Wira Gan Boon Leong, Bapak Binaraga Malaysia

Makam Hang Kasturi, temannya Hang Tuah.

Karena waktu semakin tipis, saya kembali ke hostel, mandi, dan siap-siap menuju ke terminal sentral Malaka. Istri pemilik hostel memberi tahu bahwa bus menuju sentral Malaka melewati clock tower depan stadhuis. Aha.. lumayan hemat ongkos taxi. Hihihi..

Di depan clock tower saya berjumpa dengan seorang bapak tua yang baik banget. Kami mengobrol dan naik bus bareng. Saya begitu terharu hingga sempat berkaca-kaca kala beliau turun bus.

Ah.. Malaka..

*Mendadak saya kangen pingin kembali kesana.


Kuala Lumpur

Alunan lagu-lagu rancak dan romantis mengalun dari speaker bus membuat saya mengantuk. Saya terlelap dan baru terjaga menjelang tiba di Kuala Lumpur.

Kabut asap menutupi cerahnya langit siang itu. Untung saja tak sampai menyesakkan dada.

Usai proses check in hostel selesi, saya pun bergegas mencari Katedral St. John di Bukit Nanas untuk ikut misa Sabtu sore. Lagi-lagi saya bingung mencari jalan ke sana. Keluar masuk jalan dan gang tapi tak juga saya temukan katedral itu, hingga saya memberanikan diri untuk bertanya pada bapak-bapak polisi yang sedang patroli dekat Dataran Merdeka.

Bapak-bapak polisi itu rupanya sama bingung dengan saya karena mereka merasa bahwa semua gereja itu “sama”. Hehehe. Jadilah kami sama-sama buka peta. Itupun tak memecahkan masalah. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Akhirnya sih ketemu, beberapa menit sebelum misa jam lima dimulai. Karena seharian sibuk nyasar sana sini, alhasil saya malah ngantuk saat misa. Udah gitu karena duduknya agak belakang, saya rada-rada nggak ngerti dengan khotbahnya Pastor. Hihihi *padahal sih karena level Bahasa Inggris saya jongkok. πŸ˜†

Terhalang kabut asap.

Akhirnya malam itu berakhir dengan nikmat, senikmat nasi lemak Adik di Petronas. Yummy…

Terima kasih, Semesta.. 😍❀


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-38 bertemakan A Day in Life agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

2 thoughts on “[Satu Foto Sejuta Cerita] Malaysia, 26 September 2015”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s