Satu Foto Sejuta Cerita

[Satu Foto Sejuta Cerita] Mata Sang Buddha

Ini adalah Phra Buddhasaiyas, atau yang lebih dikenal dengan nama “Reclining Buddha” atau Buddha berbaring yang terdapat di Wat Pho, Bangkok.

Saya sempat diberi tahu bahwa pose ini menunjukkan Buddha yang akan memasuki parinirwana atau dunia nirwana. Namun Mrs. Khin, guide di Shwedagon Pagoda, memberi tahu hal yang berbeda. Ketika tangan Buddha masih menyangga kepalanya dan matanya terbuka, maka Buddha sebetulnya tengah beristirahat. Tapi jika matanya tertutup dan kepalanya terkulai, berarti Buddha tengah memasuki parinirwana.

Tapi kali ini saya bukan ingin membahas tentang posisi Buddha, tapi tentang matanya yang pernah membawa kisah unik untuk saya.

Kala itu, April 2012 di Bangkok, saya mengikuti tour ke Grand Palace. Setelah tour tersebut usai, saya berganti kendaraan dan ikut tour berikutnya ke Wat Traimit, Wat Pho, dan Marble Temple. Menjelang waktu keberangkatan, saya baru sadar kamera saya lenyap. Saya mencoba mencari di bus yang semula saya naiki. Hasilnya nihil. Saya mencoba lagi, dan kembali nihil. Saya malah berhasil membuat bete banyak orang, terutama rekan satu grup dan guide kami.

Hati saya nggak karuan rasanya. Ada rasa tak rela karena di kamera itu ada foto-foto perjalanan saya. Ada sedikit rasa lega karena foto-foto yang penting sudah saya pindahkan ke tab. Juga ada sedikit keyakinan bahwa kamera itu akan kembali ke tangan saya.

Di Wat Traimit, saya berdiri dan menatap mata golden Buddha yang menjulang tinggi. Dalam hati saya mohon bantuan Buddha untuk membantu mencarikan kamera saya di negerinya ini.

Tak berapa lama guide kami mendapat sambungan telepon. Isinya adalah kabar baik untuk saya. Kamera saya ditemukan di salah satu jok bus dalam kondisi tak sengaja diduduki oleh peserta tour. Semua rasa tak karuan di hati pun berubah menjadi rasa lega luar biasa.

Di Wat Pho, saya pun berdiri di hadapan reclining Buddha, mencari posisi yang tepat untuk bisa melihat matanya tanpa terhalang pilar-pilar. Saya kembali menatap mata Sang Buddha dan berterima kasih atas bantuannya menemukan kamera saya.

Mata itu, mata Sang Buddha yang jernih, mata yang menatap semua orang dengan cinta seperti anak-anaknya sendiri. Mata yang membawa kisah indah bagi saya di kota Bangkok.


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-40 bertemakan Eyes agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

4 thoughts on “[Satu Foto Sejuta Cerita] Mata Sang Buddha”

    1. Aku padahal gregetan banget Mba.. aku udah berkali2 tanya ama orang yg dudukin bekas kursiku, tapi mereka bilang gak ada melulu.. Eh..taunya kedudukan.. untung tuh kamera sehat2 aja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s