Satu Foto Sejuta Cerita

[Satu Foto Sejuta Cerita] Beng Mealea, Srey, dan Buah Chann

Senja sudah mulai turun saat saya menginjakkan kaki di west gate Beng Mealea. Cahaya matahari berupaya menembus tebalnya pepohonan, memberikan siluet yang indah namun mistis. Sebelum saya turun dari mobil, Sam, driver yang mengantar saya berpesan, “Jika di depan gate masih ada petugas, maka bayar saja 5.000 Khmer Riel.” Tapi tak ada seorangpun petugas atau guide yang menyambut saya, yang ada hanya ibu-ibu dan anak-anak mereka yang menjaga warung semi permanen.

Dengan ragu saya melangkah masuk ke area candi. Sepi dan nyaris tak ada manusia sama sekali. Aroma lumut dan batu yang lembab menguar dari mana-mana. Maklumlah, karena hampir seluruh bagian candi ini tertutupi pohon dan sedikit sekali yang tersentuh matahari.

Baru saja saya mengambil beberapa jepretan foto, mendadak di samping saya berdiri seorang gadis kecil. Namanya Srey, Bahasa Inggrisnya masih belum lancar. Saya masih mengingat bau matahari dari rambut dan tubuhnya. Persis seperti bau khas anak-anak usai bermain di ruang terbuka.

Saya sempat tak paham mengapa ia mendekati saya, mungkin ia membantu penghasilan keluarganya dengan menemani para turis berkeliling candi ini, itu pun tentu baru bisa ia lakukan setelah para guide resmi Beng Mealea pulang semua. Awalnya saya enggan didampingi oleh Srey, tapi daripada saya harus sendirian berkeliling candi ini kala gelap mulai datang, maka saya membiarkan Srey menunjukkan jalan dan memberi tahu saya beberapa relief antik dari reruntuhan candi itu.

Di pertengahan jalan, mendadak Srey pamit pada saya. Walah, baru separuh jalan kok saya malah ditinggal? Tapi ternyata Srey bukannya hendak pulang. Ia dengan lincah melompat melewati pembatas jalan setapak, lalu berlari kecil menuju sebuah dataran yang lebih rendah, dimana disana begitu banyak batu-batu besar reruntuhan candi. Srey begitu tampak mungil di antara batu-batu itu. Untung saja ia memakai kaos berwarna pink yang lumayan eye catching di antara batu berwarna abu-abu tua. Dari gerakannya, saya tahu ia tengah mengumpulkan sesuatu disana.

Insting saya sebagai kakak langsung muncul ke permukaan. Saya terpaku di pagar pembatas, memastikan bahwa Srey tidak masuk terlalu jauh ke reruntuhan itu. Saya tidak beranjak kemana-mana sampai Srey kembali lagi ke jalan setapak. Sambil tersenyum ia mendekati saya dengan kedua tangannya dipenuhi buah-buah berwarna kuning langsat.

“Chann”, jawab Srey saat saya menanyakan nama buah itu. Ia lalu menyodorkan satu kepada saya dan memberi isyarat agar saya mencium buah itu. Buah itu mengeluarkan aroma yang harum, hingga saya tak henti-henti mengendusnya. Aroma khas yang sepertinya pernah saya temui sebelumnya namun entah kapan dan dimana.

Ketika saya menunjukkan buah itu pada Sam, ia bilang buah itu namanya Chann, atau dikenal juga sebagai moon (bulan) karena bentuknya yang bulat seperti bulan. Saya begitu jauh cinta dengan aroma buah itu hingga saya berkali-kali mengendusnya, bahkan hingga hampir terlelap di hostel malam itu.

Setelah pulang dan browsing mengenai buah itu, saya menemukan info bahwa buah Chann ini dikenal sebagai golden apple di Thailand. Buah ini ternyata masih keluarga dengan persik, dan akhirnya saya sadar aroma buah itu adalah gabungan antara bau khas persik dan aroma manisan carica yang pernah saya temukan di Dieng.

Ketika tulisan ini dibuat, saya mengingat kembali aroma Beng Mealea petang itu : aroma lumut yang lembab, bau matahari dari rambut panjang Srey, dan aroma manis dari buah Chann.

Dan saya rindu pada mereka semua.


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-41 bertemakan The Scent agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali…

2 thoughts on “[Satu Foto Sejuta Cerita] Beng Mealea, Srey, dan Buah Chann”

  1. uugh, aroma lumut aku bisa mengingatnya, juga bau matahari yang biasa kita alami juga kalo berlama-lama jalan di bawah teriknya, tapi uh, aku gak ngerti bau buah chann itu… huuuuaaaaaaaa…..
    btw, beng mealea itu ngangeni banget, jika kamu datang jelang senja, aku datang terlalu pagi saat sinar mentari baru masuk diantara daun-daunnya… sama sepinya sampai aku berpikir anak-anak yang ada itu adalah anak-anak bajang hihihi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s