My Journey...

[Philippines] Last Day in Manila

Saya memandangi Fan-Fan dan Sara yang masih terlelap meski jam sudah menunjukkan lewat dari pukul tujuh. Karena saya tak tega membangunkan mereka, jadilah saya menulis sebuah pesan terima kasih di atas secarik kertas. Rasanya berat meninggalkan dua sahabat baru yang begitu baik ini, semoga suatu hari nanti bisa bertemu lagi dengan mereka berdua.

Usai sarapan, saya pun check out dan menitipkan barang-barang ke petugas dormit. Dalam hati saya berharap semoga dormit ini punya kamar mandi umum, so nanti sore masih bisa mandi dulu sebelum lanjut flight ke Brunei. Hehehe… ini sebetulnya taktik jadul sejak kali pertama saya kenal yang namanya backpackeran. Sengaja check out pagi-pagi supaya nggak kena tambahan charge satu hari, tapi masih pakai fasilitas hostel buat mandi. Hehehe. Biasanya sih saya terang-terangan tanya apakah masih bisa mandi di kamar mandi mereka setelah check out, tapi kali ini saya agak segan karena resepsionisnya baik banget (tumben banget kan saya segan…).

Tujuan perjalanan saya hari ini banyak sekali : gereja St. Ana (Our Lady of The Abandoned Church) di Tulay, lalu ke gereja Malate, cari oleh-oleh di Kultura (tapi belum tahu Kultura yang mana), dan ke Rizal Park. Wew, padat merayap, padahal saya sudah harus kembali ke dormit paling lambat pukul lima sore. Saya cuma bisa berdoa semoga semua target bisa tercapai di sisa waktu yang saya miliki.


“Kuya Mervyn, may I ask a direction to St. Ana church? Is there any public transportation to get there? Thank you.” Pesan itu saya kirimkan pada Mervyn Perez, yang saya kenal karena grup “Friend of Bro. Richie Fernando, SJ”.

Mervyn menjawab seolah-olah saya sudah hafal Manila : “From PGH, take a jeep in Pedro Gil St, with sign board (Sta Ana Tulay). It will pass through the church.”

Hmm.. PGH teh naon Kang? Eta teh aya dimana?

Mervyn hanya memberi clue begini : “In Taft Avenue manila”.

Setelah ngubek-ngubek google maps barulah saya ngeh, PGH adalah Philippine General Hospital, tempat Mervyn bekerja. *oalah.. saya kan turis Kang.. mana tau PGH.


Dari stasiun V Mapa saya naik LRT ke Recto, yang saya baru ngeh ternyata terkoneksi dengan stasiun Doroteo Jose di LRT jalur 1. Dari Doroteo Jose saya meneruskan sampai stasiun Pedro Gil untuk naik jeepney menuju Tulay. Kayaknya simple, tapi sebetulnya nggak sesimple itu. Perjalanan dari stasiun Recto ke Doroteo Jose aja udah rempong bener : gerah, botol minum jatuh sampai pecah dan airnya banjir di lantai stasiun, salah lorong stasiun plus harus naik tangga manual. Lumayan dah bikin saya kuyup keringetan saat sampai di Doroteo Jose. Untungnya perjalanan naik jeepney ke Tulay lumayan lancar meski saya harus pasang mata mantengin google maps.

This slideshow requires JavaScript.

Gereja Santa Ana Tulay ini dirintis oleh para imam Fransiskan sejak tahun 1578. Gereja pertama hanya dibuat dari nipa dan bambu di dekat sungai kecil Sapa, hingga keluarnya dekrit pada tahun 1599 dari pemerintah kolonial yang mengizinkan pembuatan gereja dari batu. Akan tetapi proses konstruksi gereja di tempat saat ini baru dimulai pada 12 September 1720 dan membutuhkan lima tahun untuk penyelesaiannya. Gereja ini pernah menjadi barak pada saat perang Philipine-Amerika tahun 1899. Di Gereja ini ada sebuah ruangan yang disebut Camarin de la Virgen (ruang ganti baju Perawan Maria), namun saya nggak berhasil menemukannya. Ada pula sumur Perawan Maria. Tapi saya gak nemu juga. Hiks. Saya malah tersesat ke laci-laci penyimpanan abu jenazah yang terletak di samping gereja dan menemukan suami istri yang sedang termenung depan laci jenazah putra mereka. Duh, saya jadi ikutan melo.

*trus berarti saya harus balik lagi untuk menemukan camarin dan sumur itu.

This slideshow requires JavaScript.


Dengan sisa minum yang hanya tinggal sebotol (dan sebagian tumpah di dalam tas), saya menghadapi cobaan lagi. Saya diturunkan di tengah jalan menjelang Paco, yang artinya masih jauh dari Pedro Gil, dan jauh banget dari Malate. Panas pula. Mana uang di dompet udah kritis dan tinggal recehan doang. Karena panasnya udah nggak ketahan, akhirnya saya merapat ke tukang tricycle gowes yang sedang nongkrong. Setelah nego-nego yang alot plus gak nyambung, akhirnya si abang yang baik hati rela mengantar saya ke gereja Malate di tengah panas terik yang mengguncang jiwa.

Jalur kereta jadul di Paco.

Kembali ke gereja Malate setelah enam setengah tahun meninggalkannya. Banyak perubahan yang terjadi, salah satunya gereja ini jadi jauh lebih rapi.

Sudut gereja Malate.
Enam setengah tahun lalu saya ikut misa Bahasa Tagalog disini, dan sepanjang misa saya cuma bisa bengong ternganga.

Sejarah gereja ini bermula dari para biarawan Santo Agustinus yang menerima sebuah rumah di Malate untuk menjadi biara mereka pada 15 September 1581, namun keduanya hancur pada saat gempa tahun 1645. Karena ancaman bajak laut bernama Koxinga, kedua bangunan itu diruntuhkan atas perintah gubernur jenderal Sabiniano Manrique de Lara. Pembangunan gereja dimulai kembali tahun 1669 dan baru selesai tahun 1680, sedangkan biara baru dibangun kembali tahun 1721. Gereja kembali rusak karena diduduki oleh tentara Inggris tahun 1762 dan diterjang topan besar tahun 1868. Gereja yang saat ini berdiri adalah gereja ketiga yang dibangun tahun 1864, namun facadenya baru direstorasi antara tahun 1894 hingga 1898.

This slideshow requires JavaScript.

Pada saat pendudukan Jepang di Manila, gereja dan biara ini dibakar habis hingga hanya tersisa dinding-dindingnya saja. Tentara Jepang menculik pastor Kelly, pastor Henaghan, pastor Monaghan, dan pastor Fallon, beserta para penghuni pastoran yang lain. Mereka ini tidak diketahui nasibnya hingga sekarang. Pada tahun 1950an, para imam Columban membangun kembali altar, kubah, dan atapnya. Mereka juga merapikan kembali interior dan mengecat bagian luarnya dengan warna asli sebelum perang.

This slideshow requires JavaScript.


Panas matahari yang masih menyiksa dan sisa uang yang semakin kritis membuat saya menimbang-nimbang : beli minum atau naik tricycle ke stasiun Quirino. Akhirnya setelah mikir panjang plus keharusan menghemat waktu, akhirnya saya memilih haus daripada harus jalan kaki menantang matahari.

Karena saya tak menemukan tempat oleh-oleh selain Kultura, dan karena Kultura yang paling mudah dijangkau adalah yang terletak di SM Makati, jadilah saya harus nyambung LRT-MRT. Dari Quirino saya nyambung LRT sampai ke EDSA, lalu pindah ke MRT Taft Avenue. Lagi-lagi urusan berpindah ini tak semudah teorinya, harus desak-desakan dan jalan kakinya lumayan jauh juga. Saya betul-betul merasa capek, panas, haus. Semua jadi satu.

Setelah urusan peroleh-olehan di Kultura selesai, saya kembali berjuang berdesak-desakan di stasiun transit Taft-EDSA. Pakai ada acara tersesat di mal tempat transitnya itu pula. Setelah lolos dari mal, saya salah pilih jalur, terpaksa harus nyeberang lagi. Kesel banget. Apalagi saya gak makan siang dan cuma makan snack murmer doang karena udah ga punya uang. Saya udah ga punya simpanan air minum. Mulai deh muncul rasa mengasihani diri sendiri. Huuuu.. pengen nangis.. Mana uang di dompet udah less than 50 PHP.

Target terakhir saya adalah Rizal Park. Apapun yang terjadi saya kudu harus wajib ke tempat ini. Sebetulnya sih pada awal keberangkatan saya nggak meniatkan ke tempat ini, tapi karena saya menemukan penggalan kisah Jose Rizal di Rizal Shrine, Bahay Tsinoy, dan di replika rumah orang tuanya di Las Casas, jadilah saya makin penasaran sama Abang Rizal ini.

Patung Jose Rizal di depan Rizal Shrine, Fort Santiago.


Jose Protasio Rizal Mercado y Alonso Realonda (namanya panjang banged yak) alias Jose Rizal, bukanlah nama yang asing. Ia ada dalam buku sejarah kita waktu sekolah dulu, dan disebut sebagai tokoh pergerakan Filipina. Ia menulis sebuah buku berjudul Noli Me Tangere yang memicu perlawanan terhadap penjajahan Spanyol di Filipina. Saya cuma tahu itu saja tentang Jose Rizal.

Patung Jose Rizal di Bahay Tsinoy Museum.

Rizal ini ternyata aslinya bukan politikus. Ia adalah seorang dokter mata. Lahir di Calamba pada tahun 1861 dan memiliki darah campuran China dari ayahnya, dan campuran China, Jepang, dan Tagalog dari ibunya. Pasca kejadian eksekusi tiga imam pada 1872 (Gomez, Burgos, dan Zamora), Jose Rizal melepaskan tiga nama terakhirnya supaya tidak disangkutpautkan dengan saudaranya yang dianggap terlibat dalam peristiwa itu. Sejak kecil, ia adalah seorang yang amat cerdas dan puitis. Ia memutuskan menjadi dokter mata supaya bisa mengobati mata ibunya yang nyaris buta. Ia juga seorang yang terampil di bidang seni. Ia bisa melukis, mematung, dan mengukir. Ia diakui juga sebagai seorang polyglot yang bisa menguasai 22 bahasa. Aih.. Akang Rizal teh keren pisan nya..

Relief kehidupan Jose Rizal yang terdapat di dinding luar Execution Site.

Pada saat menjalani studi di Eropa, ia mulai aktif dalam gerakan mahasiswa di Spanyol dan menulis hal-hal yang berbau politik yang berpuncak pada terbitnya buku Noli Me Tangere (Berlin, 1887) dan El Filibusterismo (Ghent, 1891). Tulisan ini mengkritisi pemerintah dan para rohaniwan Katolik Spanyol yang menindas penduduk Filipina dalam berbagai bentuk, baik dalam politik, ekonomi, hukum, pendidikan, bahkan dalam hak untuk menggereja. Sepulang dari Filipina, saya sampai niat banget pengen baca buku ini. Meskipun akhirnya hanya mendapat file berbahasa Inggris, tapi saya akui bahwa kedua buku ini ditulis dengan “keras”, bahkan bagi saya, yang hidup satu abad setelahnya. Jose Rizal tak hanya menyindir, tapi juga mengisahkan kehidupan sehari-hari di Filipina dimana orang berdarah Spanyol menjadi ras tertinggi yang bebas berbuat apa saja. Dan inipun berlaku dalam kehidupan menggereja, dimana para imam Spanyol melanggar aturan hidup imamat mereka dan menekan para imam (dan umat) pribumi. Ngeri deh. Sayangnya kedua novel itu berakhir tragis, padahal saya mengharapkan sang tokoh utama, Crisostomo Ibarra menjadi pemenangnya.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah Jose Rizal kembali ke Manila pada 1892 untuk menolong keluarganya yang bermasalah dengan para pastor Dominikan yang menjadi tuan tanah, ia membentuk sebuah gerakan sipil bernama La Liga Filipina sebagai upaya reformasi. Namun gerakan ini dilarang oleh pemerintah dan akibatnya ia diasingkan ke Dapitan, Mindanao. Disana ia membangun sekolah, rumah sakit, sistem pengairan, mengajarkan pertanian dan peternakan pada warga sekitar. Meskipun ia menentang penjajahan Spanyol, namun Jose Rizal adalah tokoh yang amat menentang kekerasan. Ia memilih jalan pendidikan untuk mencerdaskan warga pribumi, melahirkan kesadaran nasional, dan berharap pada akhirnya pendidikan itu pulalah yang dapat mengalahkan dominasi Spanyol.

“I am Filipino.” Bukti nasionalisme Rizal pada negerinya.

Pada tahun 1896, Rizal mendaftarkan dirinya untuk menjadi dokter sukarelawan di Kuba dan mendapat izin dari gubernur jendral Ramon Blanco. Ia dan Josephine, tunangannya, meninggalkan Dapitan pada 1 Agustus 1896. Pada saat bersamaan meletus pemberontakan yang digagas oleh kelompok bersenjata Katipunan. Rizal, yang kala itu tengah dalam perjalanan menuju Kuba dianggap berhubungan dengan pemberontakan itu. Ia ditangkap di Barcelona pada 6 Oktober 1896 dan pada hari itu juga dikirim kembali ke Manila. Di Manila, ia dipenjara di sebuah rumah di Fort Santiago yang saat ini dikenal sebagai Rizal Shrine.

Walaupun bukti keterlibatannya sangat diragukan, pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Ia ditembak mati di Bagumbayan pada 30 Desember 1896, lalu dimakamkan secara rahasia di Paco tanpa identifikasi. Adik perempuannya, Narcisa mencari dimana makam kakaknya dan menemukan sebuah makam baru yang dijaga. Ia mengasumsikan kubur itu sebagai kubur kakaknya dan menyuruh seseorang untuk menandai makam itu dengan inisial “RPJ” yang merupakan inisial terbalik dari nama Jose Rizal.

Last Steps of Jose Rizal. Patung ini memperlihatkan Rizal yang kedua tangannya diikat di samping badan hendak menuju ke tempat eksekusinya.

Sebelum Jose Rizal dieksekusi, ia menuliskan sebuah puisi panjang. Puisi itu diselundupkan dalam sebuah lampu alkohol kecil kepada ibu dan saudara-saudara perempuannya kala mereka terakhir kali mengunjungi Rizal di penjara. Pada tahun berikutnya, Mariano Ponce, seorang kawan Rizal di Hong Kong memberi judul pada puisi itu : Mi Ultimo Pensamiento (My Last Thought), namun judul yang lebih terkenal adalah yang diberikan oleh Pastor Mariano Dacanay, yakni “Mi Ultimo Adios” (My Last Farewell).

Jose Rizal (1896) – Hari-hari terakhirnya di dalam penjara – Eksekusi Jose Rizal (30 Desember 1896)

This slideshow requires JavaScript.

Kawasan Rizal Park yang hendak saya kunjungi itulah yang menyimpan kisah Rizal pada akhir hidupnya. Tepat di lokasi eksekusi Rizal di Bagumbayan kini dibangun diorama yang menggambarkan momen-momen terakhir, termasuk detail kejadian saat tentara menembak mati Jose Rizal.

This slideshow requires JavaScript.

Rizal Monument sebetulnya bukan hanya sekedar monument. Di bawah monumen itu diletakkan sisa tubuh Jose Rizal. Ketika Amerika berhasil merebut Filipina dari Spanyol tahun 1898, keluarga Jose Rizal memindahkan sisa jenazahnya dari pemakaman Paco ke kediaman keluarga mereka di Binondo hingga dipindahkan ke tempatnya saat ini pada tahun 1912. Rizal Monument sendiri baru dibuka pada 30 Desember 1913, 17 tahun setelah eksekusi Jose Rizal.



Kembali ke Rizal Park. Dengan sisa uang kurang dari 50 PHP, saya kembali diberi pilihan : beli minum atau naik tricycle. Untungnya tak ada abang tricycle mangkal disana dan saya terus menahan haus supaya sisa uang itu tetap awet. Untunglah sore itu matahari lumayan baik hati. Saya berjalan pelan-pelan menyusuri Rizal Park yang tak terlalu ramai sambil membuka payung. Di kejauhan terdengar lagu mellow yang sedikit menghibur saya.

Tiba-tiba saya merasakan sebuah keanehan. Rasanya saya nggak jalan sendirian. Rasanya ringan dan tenang banget padahal sedang merana. Rasanya ada seseorang berjalan di sebelah saya. Sosok tak terlihat itu bagai memberikan ketenangan dan meyakinkan saya bahwa uang saya akan cukup dan semua akan baik-baik saja. To be exact, saya merasa ada Kuya Richie jalan di samping saya. Kerasa banget sampai saya senyum-senyum sendiri. Apalagi ketika dari kejauhan terdengar lagu berlirik “I will be here… “

Pernah ga merasa merinding karena begitu excited? Nah itulah yang saya rasakan kala itu. Saya merinding bahkan sampai berkaca-kaca. Apalagi bisa dibilang, langkah-langkah ini adalah langkah-langkah terakhir saya sebelum meninggalkan Manila, jadi saya mereview semua jejak perjalanan saya sejak hari pertama dengan segala kegilaannya, dan saya merasa Kuya Richie selalu sigap menolong ketika saya memanggil namanya.

Entah saya kegeeran sendiri atau bagaimana, saya dalam hati sampai bilang begini, “Kuya, setelah aku pulang, apakah Kuya masih menemani aku?” Lalu muncullah rasa takut kehilangan itu : rasa takut ditinggal sendirian. Lalu saya berbisik lagi, “Kuya ikut jagain aku sampai Brunei ya…” Ah, mungkin kesannya saya kayak orang gila ya. Tapi hari ini saat saya menuliskannya, tepat satu hari setelah peringatan 23 tahun kematiannya, saya masih merasakan semua perasaan aneh saya petang itu.


Ternyata masuk ke Rizal Execution Site (Rizal Martyrdom Place) nggak gratis, tapi harus bayar 20 PHP. Ya Lord, aya-aya wae yaaa.. Tapi karena udah dibikin tenang, saya nggak shock lagi saat buka dompet dan mengumpulkan koin-koin yang tersisa.

This slideshow requires JavaScript.

Di ujung perjalanan itu, akhirnya saya membuka simpanan 1.000 PHP saya yang terakhir. Saya beli minum dan beli snack untuk cadangan di Brunei nanti. Saya duduk sejenak mengucap syukur karena seluruh target hari itu tercapai semua dan uangnya cukup. Bahkan sisa recehan di dompet masih cukup untuk balik ke dormit. Legaaa banget..

Tapi masih ada sisa drama di petang itu. Ketika tiba di dormit dengan baju yang kuyup dengan keringat dan bau yang luar biasa bisa bikin pingsan, niat saya hanya satu : mandi. Saya pun dengan (sok) polosnya pinjam toilet ke resepsionis (masih sama dengan yang jaga pagi). Ternyata toiletnya beneran toilet doang yang berukuran 1 m x 1 m dengan satu WC duduk di dalamnya. Ya Gusti, begimana mau mandi kalau begini? Tapi mengingat badan yang udah lengket dan bau ini, saya pun melakukan mandi setengah badan gaya akrobat. Saya menundukkan badan sampai hampir sejajar lubang toilet lalu mulai membasahi badan dengan shower cebok (untung aja ada showernya), lalu mulai deh dengan sabunan badan atas doang. Ketika mau keramas, ternyata shampoo saya habis. Hadeeeehhh.. terpaksa saya keramas dengan sabun mandi. Walaupun sudah berpose akrobat, tapi tetap saja lantai toilet becek. Mau gak mau saya memakai kaos bekas saya untuk ngepel (iyalah, daripada ketahuan mandi kan?). Kalau mengingat kejadian itu, saya nyengir-nyengir sendiri. Malu-maluin banget dah. Gapapalah, daripada satu pesawat pingsan semua gara-gara bau saya. Keluar toilet saya udah fresh banget walaupun hanya mandi separo badan ke atas.

Pada saat nunggu grab yang akan membawa saya ke airport, Fan-Fan pulang. Saya cuma membatin, kalau tau begini kan saya bisa numpang mandi di kamarnya Fan-Fan. Ah.. ya sudahlah.. kapan lagi bisa mandi sambil berpose kayak atlet senam kan?


Dan Tuhan itu baik banget, uang sisa yang saya punya cukup untuk naik grab ke bandara, bahkan masih ada sisa. Saya juga masih punya cukup waktu menghadapi Manila yang (selalu) macet gila, bahkan berhasil sampai bandara lebih cepat dari target. Makasih Tuhan.. Makasih Kuya Richie..



Kisah perjalanan saya di Philippines, 31 Mei – 4 Juni 2019 ada disini :

Prolog

Novaliches

Legarda

Quaipo

Tondo

Manila Cathedral

Fort Santiago

Intramuros – Binondo

Bataan : Las Casas Filipinas de Acuzar

Bataan : Mt. Samat

4 thoughts on “[Philippines] Last Day in Manila”

  1. Dan aku senyum-senyum sendiri baca paragraf soal ditemani itu, it’s happened to me also yang seringnya membuat aku jadi senyum-senyum sendiri ato kadang ya meneteskan airmata bahagia…
    Aku baca post ini, berasa panasnya, lelahnya, lepeknya tapi puasnya juga Na…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s