My Journey...

[Brunei] Late Post : Selamat Hari Raya

Tulisan ini dibuat di ruang tunggu Brunei International Airport, 5 Juni 2019 kala sebagian besar umat Islam Indonesia merayakan Idul Fitri hari pertama, sementara umat Islam Brunei tengah menjalankan ibadah puasa hari terakhir.


4 Juni 2019

Irama rancak dengan lirik “Selamat Hari Raya” menyambut kami di atas pesawat Royal Brunei BI-686 jurusan Manila – Bandar Seri Begawan. Surat kabar yang saya ambil sebelum naik pesawat menyampaikan berita bahwa Indonesia dan Malaysia akan merayakan lebaran pada 5 Juni 2019, sama dengan yang telah tercetak di kalender.

Pramugari-pramugari cantik berkerudung melayani kami dengan sangat ramah. Ah.. ini kan malam takbiran, tapi mereka masih harus bekerja. Saya juga teringat driver Hotel Jubilee yang malam ini harus menjemput saya ke bandara. Mungkin di rumah, keluarga mereka tengah menunggu mereka pulang dengan ketupat, opor, dan rendang.

Perasaan lelah dan kangen rumah yang sudah muncul sejak beberapa jam sebelumnya menjadi semakin membuncah. Apalagi lagu-lagu bertema lebaran ini bikin saya tambah kangen dengan suasana malam takbiran di rumah, walaupun keluarga inti saya tak merayakan lebaran siy. Tapi suara takbir khas Indonesia itu selalu bikin kehilangan saat tak bisa mendengarnya. Ah.. kenapa jadi mello begini yaa…

Pesawat kami terpaksa terlambat take off karena padatnya bandara Ninoy Aquino. Prediksi pilot awalnya hanya akan tertunda sekitar 20 sampai 40 menit, aktualnya kami tertunda hingga satu jam. Ah.. saya ingin sekali protes. Tau gak sih orang-orang yang ada di pesawat ini tuh ada yang sedang ditunggu keluarganya? Iiihh.. gemes sendiri jadinya..

Udah sampe euy di Brunei 😍

Singkat cerita, pesawat kami mendarat di Brunei menjelang pukul 12 malam. Saat melangkah turun saya menyempatkan diri untuk mencolek salah seorang pramugari dan menyampaikan “Selamat Hari Raya”. Ia menengok sekilas, menyampaikan “Thank you.. Thank you”, dan memberikan ekspresi yang bikin saya terharu sendiri. Priceless banget deh pokoknya. Ternyata satu perkataan sederhana itu bisa melahirkan senyuman di wajahnya yang tampak lelah.

Jadilah saya mengucapkan “Selamat Hari Raya” pada semua crew yang saya temui dan pada petugas imigrasi juga. Sebuah hal kecil yang bisa bikin mereka tersenyum, jadi kenapa nggak dilakukan? Mungkin gak semua dari mereka merayakan lebaran, tapi saya teringat ucapan seorang senior di pabrik. Lebaran itu sebetulnya tak hanya dirayakan oleh orang Muslim saja tapi ini adalah perayaan tradisi buat kita semua. Jadi kalaupun saya yang gak lebaran ini dikasih ucapan selamat lebaran oleh orang asing, tentu saja saya bakalan happy.

Ketika akhirnya berjumpa dengan driver yang menjemput saya, barulah saya tahu bahwa Brunei baru akan merayakan lebaran pada tanggal 6 Juni, alias sehari lebih lambat daripada Indonesia dan Malaysia. Seorang driver lain berkisah, dulunya Malaysia – Brunei – Indonesia – Singapura selalu merayakan Idul Fitri bersama-sama. Jika salah satu dari mereka berempat sudah melihat hilal, maka tiga negara yang lain akan ikut lebaran. Entah mengapa akhir-akhir ini tradisi itu tak terjadi lagi. Yang pasti keputusan mengenai kapan awal puasa dan kapan lebaran di Brunei diambil oleh Sultan. Tahun ini mereka juga memulai puasa sehari setelah kita di Indonesia.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 pagi. Driver yang menjemput saya masih menunggu satu keluarga lagi yang belum keluar dari antrian imigrasi. Padahal sebentar lagi ia sudah harus sahur. Ya.. mereka masih harus berpuasa satu hari lagi. Sambil menunggu, kami berbagi kisah tentang halal bihalal dan libur lebaran. Saya bersyukur tumbuh di keluarga dan lingkungan yang gado-gado, jadi walaupun saya nggak ngerti, tapi minimal saya tahu apa itu halal bihalal, hilal, dan pernik lebaran lainnya.

Kami tiba di hotel menjelang pukul 2 pagi. Saya hanya bisa berharap uncle driver yang menjemput kami di bandara masih keburu pulang untuk mengejar waktu sahur.

Dari jendela kamar hotel.

5 Juni 2019

Pagi menjelang. Di Indonesia sana pasti semua sedang bersiap-siap untuk Shalat Ied. Sementara disini semua masih berjalan biasa-biasa saja. Teringat kekhawatiran saya saat booking tiket penerbangan Jakarta – Manila – Jakarta via Brunei. Saat itu, sekitar tiga minggu sebelum lebaran dan saya sudah dapat kepastian tentang cuti bersama. Ketika browsing tiket, saya menemukan maskapai Royal Brunei memberikan harga yang paling miring untuk rute Jakarta – Manila, ditambah transit di Brunei. Nah.. lumayan kan bisa ngerasain Brunei (dan dapet capnya di paspor). Tapi setelah saya booking barulah saya ngeh bahwa saya akan tiba di Brunei tengah malam (pas malam takbiran pula), dan akan bertolak ke Jakarta pada saat lebaran. Langsung dah saya panik. Kata orang-orang Brunei itu negara yang saaangaaat sepi. So.. apalagi di hari raya kan? Jangan-jangan bandaranya udah kayak kuburan, ga ada taxi. Kalaupun ada, bisa-bisa saya nyangkut di kota dan ga bisa balik ke bandara karena semua merayakan lebaran.

Jadi sebetulnya ada hikmah dari perbedaan waktu lebaran ini, karena semua masih berjalan dengan normal seperti hari biasa. Entah apa yang terjadi saat hari raya esok disini.

Perasaan kangen rumah muncul kembali saat menunggu di gate yang didominasi oleh orang-orang Indonesia. Ada yang menelepon anaknya, suaminya, istrinya, dan kerabat-kerabat lainnya. Kata “Halo” segera disusul oleh “Minal Aidzin yaa..” dan dengan ungkapan rindu lainnya. Aaahh.. mungkin mereka-mereka ini sehari-hari bekerja di Brunei dan baru hari ini mudik ke Indonesia. Sayangnya saya nggak kebagian wifi, jadi terpaksa harus menunda hasrat untuk mengucapkan selamat Hari Raya bagi keluarga dan sahabat-sahabat saya.

Pulangggg

Beberapa jam kemudian di terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta.

Saya beruntung banget bisa menemani seorang bapak yang kebingungan ambil bagasi. Beliau hendak pulang ke Lampung dan harus menyambung pesawat di terminal 2. Ia sudah beberapa tahun bekerja di Brunei dan baru kali ini bisa pulang. Sambil berjalan kami mengobrol tentang keluarganya. Ah.. saya tak bisa menggambarkan betapa excitednya wajah bapak itu kala berkisah tentang istri dan anak-anaknya. Saya membayangkan betapa bahagia mereka semua bisa merayakan lebaran bersama-sama.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H.

Saya kangen pake banget pada Indonesia. Rasanya sudah tak sabar ingin segera tiba di rumah untuk menyantap ketupat, rendang, opor, dan pakai kerupuk yang banyak.

2 thoughts on “[Brunei] Late Post : Selamat Hari Raya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s