Satu Foto Sejuta Cerita

[Satu Foto Sejuta Cerita] It’s Beginninng To Look A Lot Like Christmas

It’s beginning to look a lot like Christmas, everywhere you go. Take a look in the five and ten glistening once again with candy canes and silver lanes aglow.

Banyak orang bilang bahwa suasana natal di Singapura nggak ada tandingannya. Tentu saja suasana natal yang dimaksud disini tuh dari sisi komersialnya ya, bukan sisi holy holynya. Saya sendiri beruntung pernah berada disana saat Singapura berdandan cantik menyambut Natal. Tapi gemerlapnya lampu-lampu kota, ramainya manusia, dan berbagai rupa dekorasi natal tidak serta merta membuat saya happy. Sama sekali tidak. Inilah pelajaran tentang makna kebahagiaan yang begitu membekas dalam hidup saya.


Di depan pohon natal bercahaya itu saya berdiri, menarik napas lega setelah bisa sejenak memisahkan diri dari rombongan. Saya melihat sekeliling dan menyaksikan orang-orang tersenyum, berbincang sambil menatap pohon natal itu. Harusnya saya juga bahagia seperti mereka. Menyaksikan Singapura di momen seperti ini adalah impian banyak orang dan saya sudah diberi kesempatan untuk menikmatinya. Apalagi biaya perjalanan saya seluruhnya ditanggung. Jadi mengapa saya sama sekali tak bahagia? Saya justru membayangkan tengah berada di rumah, berkumpul dengan orang-orang terkasih dan menceritakan semua kekesalan yang saya alami sepanjang hari ini.

But, here I am. Ribuan kilometer dari rumah. Dikelilingi orang-orang (yang katanya) baik namun saya malah gak nyaman dan ingin sendirian.

Sepasang kekasih mendekati pohon natal itu sambil bergandengan tangan. Mereka berhenti lalu si wanita sedikit bersandar pada tubuh si pria. Muncul sedikit rasa iri dalam hati kecil saya. Bukan, bukan karena saya iri pada kemesraan mereka. Tapi saya iri pada rona bahagia di wajah mereka. Apalagi mereka tampak merasa nyaman satu sama lain. Gak seperti saya malam itu yang tengah berdoa ada pintu kemana saja muncul dari tengah pohon natal untuk membawa saya pulang.

Semua berawal dari ekspektasi saya yang terlalu tinggi pada banyak hal, hingga bisa dipastikan bahwa saya jatuh kecewa. Saya hanya tak menyangka bahwa kecewa saya langsung muncul beberapa jam setelah saya menginjakkan kaki di negeri ini.

Di depan pohon terang itu saya mencoba mensugesti diri bahwa ini semua terjadi hanya karena saya lelah, bahwa semua akan baik-baik saja di hari esok dan esoknya lagi, bahwa semua orang pun tengah lelah dan sibuk, bahwa saya akan bisa menahan diri hingga waktunya usai.

Di depan pohon natal itu saya menyeka tetesan air mata yang hampir jatuh. Menata kembali wajah saya agar tampak ceria.

Tapi ternyata saya gagal. Saya bukan orang yang pandai berpura-pura, dan terutama saya bukan orang yang panjang sabar.

Tiga hari yang amat berat dalam hidup saya : 24, 23, dan 22 hari sebelum Natal 2017.

Endingnya bisa ditebak : saya bertengkar hebat dengan seseorang yang awalnya yang saya anggap baik. Saya kecewa karena ekspektasi yang terlalu tinggi. Saya marah karena saya tidak suka dimarahi, apalagi dibentak-bentak.

Maaf, saya ternyata bukan pemain peran yang baik.

It’s beginning to look a lot like Christmas, and I said, “Let me go home.. “


Posting ini sebagai tanggapan atas challenge yang kami, Cerita Riyanti, A Rhyme In My Heart, dan saya, ciptakan sebagai pengganti Weekly Photo Challenge dari WordPress, yang untuk tahun 2019 minggu ke-49 bertemakan Lamp Light agar kami berdua terpacu untuk memposting artikel di blog masing-masing setiap minggu. Jika ada sahabat pembaca mau ikutan tantangan ini, kami berdua akan senang sekali.

2 thoughts on “[Satu Foto Sejuta Cerita] It’s Beginninng To Look A Lot Like Christmas”

  1. Perjalanan hidup akhirnya mengajarkan saya untuk selalu berhenti berekspektasi kepada orang ataupun tempat ketika travelling. Saat kita sudah berbaik hati terhadap orang lain dan dia memperlakukan kita dengan tidak seharusnya, itu artinya masalah ada di dia bukan di kita, dan memasukkan kekesalan karena perbuatan yang tidak menyenangkan itu, hanya merugikan kesehatan mental kita.

    Ini hanya kesotoyan saya aja Na, as usual, mam-mami gak konsisten, bisanya ngomong doang… heuheuheu… But anyway, pohon natalnya bagus yaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s