Kicauan Seorang Jomblowati : Cinta Tak Pernah Salah…

Seorang sahabat menulis status di wall facebooknya : “Love is never wrong, but can perch on the wrong heart”. Jadi, cinta tak pernah salah, tapi bisa hinggap pada hati yang salah… Jleb… itu kondisiku saat ini… Jatuh cinta pada hati yang salah. Hati yang tidak boleh dicintai oleh satu orang saja, dan juga tak boleh mencintai hanya satu orang saja. Kutuliskan kegalauanku dalam kolom komentar status sahabatku itu. Dan ia memberikan sebuah jawaban yang amat bijak : “jujur pada dirimu sendiri, dan jujurlah pada Tuhan…” Malam itu, kuungkapkan seluruh perasaanku pada Dia… kucoba untuk jujur dan tak menutupi apapun dari Dia, yang sebetulnya selalu melihat apa yang aku tutupi… Kukatakan padaNya, aku jatuh cinta pada salah satu ciptaanNya yang indah. Aku tak tahu kenapa aku bisa tertarik pada ciptaanNya itu. Mungkin karena kewibawaan dan kedewasaannya? Atau karena ia begitu rupawan? (sepertinya bukan karena hal ini, karena sahabatnya jauh lebih rupawan). Atau mungkin karena hal-hal kecil yang telah ia lakukan padaku, seperti memintaku berhenti sejenak untuk makan, memperhatikan porsi makanku, menceritakan sedikit hal tentang sejarah hidupnya dan rencana masa depannya, menungguku dengan sabar di tengah teriknya mentari ketika langkahku terseok, dan membukakan pintu bagiku. Atau mungkin juga karena ada banyak kebetulan dan ketidaksengajaan yang membuat kami saling kontak? Entah… Sejujurnya aku tak tahu, Tuhan.. mengapa ciptaanMu ini begitu istimewa di hadapanku. Kukatakan juga padaNya, bahwa aku terlalu mudah jatuh cinta. Kusampaikan juga bahwa aku tak ingin cinta ini mengganggu jalannya untuk meraih cita-citanya. Tapi Tuhan pasti tahu, bahwa di sudut hatiku yang terdalam (yang aku coba sembunyikan dariNya), aku ingin ia membalas cintaku.. Dia pasti tahu bahwa aku menaruh harapan atas cinta ciptaanNya itu.. Dan Tuhan tetap diam, tidak mengangguk, dan tidak juga menggelengkan kepalaNya… Akhirnya kututup pengakuanku dengan sebuah kalimat, “Tuhan, bolehkah aku berharap bisa menjadi seorang sahabat baginya? Cukup persahabatan saja, Tuhan… dan tak lebih dari itu…”
Tapi… Ia tetap membisu…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s