Catatan Perjalanan Yangon-Bagan-Yangon

Jalanan kota Yangon cukup padat sore itu. Beberapa kali taxi yang membawa kami tersendat pada antrian lampu merah atau tertahan bus yang ngetem di kanan jalan. Saya melirik jam di hape, ah masih ada cukup waktu hingga jadwal keberangkatan bus malam menuju Bagan.

Kami berangkat dari hostel tepat jam 5 sore. Taxi pertama yang kami cegat menolak untuk mengantar kami ke Terminal Aung Mingalar, katanya jaraknya terlalu jauh. Taxi berikutnya bersedia mengantar dengan tarif 8000 MMK. Saya hanya bisa berdoa.. Semoga jalanan lancar..

Tiga puluh satu jam sebelumnya

Sambil menunggu circular train datang di peron nomor 7, saya mencoba menghubungi bus JJ Express lewat facebook. Awalnya saya hanya mau tanya apakah mereka punya agen di sekitar Stasiun Yangon, soalnya kan ribet banget kalau harus dateng ke terminal Aung Mingalar yang jaraknya jauh bingits dari hostel kami di Jalan Pansodan. Saya pernah baca sih bahwa kita bisa booking seat via facebook mereka, tapi kok saya agak ngga yakin gitu ya.

“Dear JJ Express, do you have any ticket agent near Yangon Central Station? I have a plan to go to Bagan tomorrow evening. Thanks.” Itu pesan pembuka saya di facebook messenger. Saya tak terlalu berharap mereka akan cepat merespon pertanyaan ini. Jika pesan ini tak dijawab hingga  kereta kami tiba kembali di Stasiun Yangon, maka mau gak mau kami harus ke Aung Mingalar untuk pesan tiket langsung. Untuk pesan via hostel sih kayaknya bisa, cuma kami males bolak-balik ke hostel. Kalau pesan nanti malam takut keburu ngga kebagian seat (trauma bus Saigon-Siem Reap). Mau booking via telepon, duh kayaknya bakal terkendala bahasa lagi deh.

Tapi… Tiga menit kemudian sebuah pesan masuk di facebook messenger saya dari si JJ : “ From Yangon to Bagan, departure time is 8:00 PM and ticket price is 19USD for a person. You can book here and pay when you arrive at our gate. If you want to book, please give me name and passport no. Thank you.”

Pernah nggak ngalamin dapat door prize padahal peluangnya sangat tipis? Nah, perasaan senangnya tuh sama dengan yang saya alami saat itu di peron nomor 7 Stasiun Yangon. Rasanya pengen loncat-loncat sambil teriak-teriak (ah…lebay deh..). Langsung deh saya lanjutkan proses perbookingan dengan mengirim nama dan nomor paspor kami. JJ menawarkan diskon 10% jika kami booking tiket PP sekaligus untuk periode 15 Juni hingga 30 Agustus 2016. Karena itinerary kami masih labil, so saya pending dulu tawaran itu. Mereka bilang tawaran itu bisa diambil ketika kami datang ke pool mereka  menjelang keberangkatan, sekaligus sambil melunasi pembayaran tiketnya. Huaah.. ngga nyangka urusan booking membooking tiket ini ternyata sangat mudah.

JJ mengingatkan agar kami tiba paling lambat pukul 19.30 di pool mereka yang beralamat di A5/6 Mawlamyine Street, Aungmingalar Highway Bus Station. Teleponnya +95 1 637377, +95 9 73123571~4. Mereka juga memberikan perkiraan waktu tempuh dari Pansodan hingga Aung Migalar, yakni 1.5 jam.

Selain melayani rute Yangon-Bagan PP, mereka juga membuka rute Yangon-Mindalay PP, Yangon-Inle/Taunggyi/Hopone PP, Yangon-Naypitaw PP, dan Yangon-Mandalay PP. Untuk Bagan mereka hanya menyediakan bus first class, sedangkan untuk rute yang lain ada pula bus business class.

Rute dan Jadwal Bus JJ Express

Satu minggu sebelumnya

Hmm, pusing juga ya mencari hostel murah di Bagan. Pilihannya pun hanya tersedia di booking.com. Harga termurah sekitar 20 USD, emang sih itu untuk twin room. Salah satu hotel yang saya incar adalah Aung Mingalar Hotel, yang lokasinya di Nyaung Oo, dekat dengan Shwezigon Pagoda. Saya sih ngarep banget bisa lihat suasana sunset di pagoda ini. Tapi.. nanti ajalah bookingnya, wong itinerary aja masih ngambang.

Hotel-hotel yang lokasinya di Old Bagan memasang tarif lebih cetar lagi. Wah.. kagak sanggup lah saya.

Dua malam sebelumnya

Saya masih ngarep bisa dapet hotel dengan rate rendah di sekitar Old Bagan. Tapi nggak berhasil. Akhirnya saya booking juga si Aung Mingalar Hotel itu. Ratenya 24.10 USD per malam. Jaraknya dari Old Bagan sekitar 5 km. Saya tanya bokap, sanggup ngga naik sepeda sejauh itu? Bokap dengan pedenya jawab, “Sanggup laaah.”

Menjelang tidur saya mengubek-ubek rak bukunya Backpacker Myanmar dan bahagia banget ketika menemukan buku kecil berwarna biru tentang Bagan. Saking senangnya saya sampai lupa judul buku itu. Buku itu memberikan sedikit cerita tentang sejarah Bagan, tipe-tipe candinya, serta candi-candi yang “must see” di Nyaung Oo, Old Bagan, Myinkaba, Minnanthu, dan Pwasaw. Karena udah ngantuk saya akhirnya cuma bikin list doang plus sedikit note tentang apa yang istimewa dari candi-candi itu. Listnya lalu saya kompilasikan dengan yang tertera di lonely planet. Wah.. jadinya panjang banget. Ini list candi atau daftar dosa sih? Bisa gak ya dapetin semua itu dalam waktu dua hari? Ah, udahlah tulis aja dulu semuanya.

Difoto aja deh… Udah ngantuk…

Kembali ke taxi yang membawa kami ke Aung Mingalar

Setelah berkali-kali tanya sana tanya sini, bahkan kami sempat diturunkan di pool yang salah, akhirnya driver taxi berhasil menemukan poolnya JJ Express. Oh ya, terminal Aung Mingalar ini memang aneh untuk ukuran orang Indonesia (atau saya doang yang katro ya?). Bayangan saya tentang terminal adalah terminal-terminal di Jakarta dan Bogor, dimana area tunggu bus dalam kota dipisahkan dengan bus luar kota. Lalu biasanya ada semacam gerbang yang bertuliskan rute bus. Untuk terminal besar biasanya ada banyak gerbang berderet, lalu bus-bus akan berhenti untuk menaikkan penumpang disitu. Intinya keberangkatan akan terpusat di suatu area dalam terminal. Gitu gak sih? Untuk pool bus-bus antar propinsi biasanya hanya satu petak kecil saja di area terminal atau di luar area terminal, dan hanya berfungsi untuk jual tiket. Bahkan ada pool bus yang letaknya di pinggir jalan raya kan? Lalu bus akan berhenti di situ untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.

Nah, terminal Aung Mingalar ini luas banget. Semua pool bus luar kota ada di seantero terminal ini. Ada beberapa jalan dan gang yang isinya pool-pool bus, contohnya si JJ ini, letaknya di Mawlaymine st. Seluruh penumpang naik bus dari masing-masing pool ini, bukan di suatu area terminal. So, kalau mau ganti bus, urusannya ngga kaya di terminal sini yang tinggal lompat doang, tapi kita harus tahu lokasi di jalan manakah pool bus yang kita akan naiki. Asli lah beneran bingung. Sopir taxi yang asli Yangon aja bingung, gimana kite?

Kami diterima dengan ramah oleh petugas JJ Express yang sangat gesit dan cekatan. Karena kami sudah memutuskan untuk hanya menginap semalam saja di Bagan, maka kami langsung pesan tiket pulang ke Yangon. Lumayan kan dapat diskon 10%. Hehehe… Si petugas menyampaikan bahwa bus dari Bagan baru akan berangkat pk. 21.00, bukan pk. 20.00 seperti yang tertera di jadwal. Saya tanya kira-kira jam berapa bus akan tiba di Yangon, lalu dia jawab “6 pm”. Eh.. lama bingits bu… Saya tanya ulang, ini bus malam kan? Memang perjalanan berapa jam? Kok bisa berangkat jam 9 malam sampai sini jam 6 sore? Ah.. ternyata si mbak terbalik antara AM dan PM. Beuuh.. padahal saya udah kaget setengah mati. Gimana ngga kaget, rencananya setelah pulang dari Bagan kami akan langsung lanjut naik bus menuju Kyaiktiyo. Lah kalau nyampenya sore berarti kami ngga akan bisa ngejar bus Kyaiktiyo lah, dan terpaksa nginep di Yangon.

Si Mbak menanyakan hotel kami di Bagan. Katanya pas pulang nanti kami akan dijemput jam 19.30 di hotel. Duh.. nikmat banget ya pelayanannya. Tapi untuk keberangkatan dari terminal Bagan ke hotel silakan berusaha sendiri yaa.. Setelah menscan paspor kami, si Mbak menginstruksikan supaya tas kami ditaro di samping meja resepsionis. “Jangan lupa ya, busnya nomor 15 berangkat jam 8.”, ia mengingatkan.  Kami pun keluar untuk cari makan. Aha, ada warung nasi di sebelah pool. Waktu masih menunjukkan pukul 7 malam, masih ada satu jam, pasti keburu lah untuk makan dulu.

Tapi… entah begimane ceritanye. Pesanan nasi goreng kami lama banget keluarnya. Berkali-kali kami melirik ke sebelah. Bus sudah datang, tas-tas sudah mulai dimasukkan ke bagasi. Nasi goreng kami belum juga datang.

Hujan mulai turun. Deras sekali. Payung sih ada, tapi males kan bawa-bawa payung lepek naik bus malam. Akhirnya nasgor datang, kami langsung ngebut menghabiskan nasi goreng sepiring mentung. Setibanya di pool, petugas bus sudah mengabsen penumpang bus no. 15. Dia menyuruh kami segera naik. Hampir saja ransel-ransel kami tertinggal di pool. Ini gara-gara kami berasumsi dodol. Kami pikir bagasi kami akan dinaikkan oleh petugas bus ke dalam bagasi. Padahal kami harus menaikkannya sendiri. Untung saja petugasnya menanyakan bagasi kami, coba kalau dia kagak nanya, bablas dah tuh ransel ketinggalan.

Nasgor yang bikin kami tegang bukan kepalang

Sambil panik, saya segera mengambil dua ransel babon kami dan cepat-cepat memasukkan ke bagasi. Tapi si petugas (yanggantengitudanbikinsayasalting) menahan saya. Lho? Piye toh? Ah.. ternyata sistem keamanan mereka udah oke banget deh. Sebelum tas dimasukkan ke bagasi mereka akan mengunci tas kita, lalu kuncinya (yang diberikan kode nomor tempat duduk) akan diberikan ke kita. Manteb yee…
Dalam sisa waktu yang sudah tipis itu, kami menyempatkan diri untuk pipis dan sikat gigi barbar. Pokoknya niatnya cuma satu : tidur nyenyak di atas bus. Hehehehe..

Eh.. busnya lumayan pewe lho.. Seatnya 2-1 dan bisa dikebelakangin walau bukan sleeping bus. Sebelum bus berangkat, petugas tadi membagikan air minum 600 ml, kotak snack yang berisi dua jenis kue, dan segelas coca cola. Wow.. kok enak sih? Hihihi.. Jam 8 teng bus pun melaju meninggalkan Aung Mingalar.

Penampakan isi bus

Di masing-masing kursi sudah tersedia selimut, dan di depannya ada tv kecil, tapi untuk mendengar suaranya kita harus pakai headset sendiri. Iyalah.. kalau tv itu dikasih speaker aktif semua, ini bus udah bakalan lebih heboh dari pasar dong.. Karena saya cuma bawa satu headset, jadilah cuma bokap yang bisa menikmati suaranya. Bokap nonton Rambo dan saya hanya ikut nebeng nonton aja.
Akhirnya sih saya menyerah kalah dan memutuskan untuk tidur. Rasanya baru aja terlelap ketika kami dibangunkan oleh petugas (yangmasihgantengwalauudahmalem). Bus masuk rest area dan kami diberi waktu 20 menit untuk ke toilet atau makan di resto. Dari hasil pengecekan google maps, lokasi kami saat itu adalah di Yangon Mandalay Highway Rest Area yang judulnya “FEEL EXPRESS”.  Kami sudah menempuh 203 km dalam waktu sekitar 3 jam.

Saya sempat mampir ke toilet meski awalnya udah takut menyaksikan WC horror kayak rest area disini. Ah.. ternyata WCnya lumayan bersih kok, walau ada aroma-aroma yang lumayan menusuk. Untung aja hidung saya lagi gak sensi karena baru bangun tidur. Anyway, walaupun hanya 20 menit, izinkan saya berbangga karena pernah menginjak Mandalay. Hahahahaa..

Disinilah baru terasa pentingnya menghafal nomor bus. Ada banyak bus yang singgah disini dalam waktu bersamaan. Dalam suasana gelap dan ngantuk pasti kita cenderung ngga inget dimana bus kita berhenti. Apalagi kalau ada bus dari PO yang sama yang parkir bersamaan dan berdekatan. Bisa salah naik bus tuh..

Bus pun melaju kembali. Masih ada 402 km lagi yang masih harus ditempuh. Bokap kembali nonton, awalnya nonton kartun Bernard The Bear, tapi terus ganti ke film Indiana Jones. Saya lagi-lagi ikutan nebeng nonton beberapa menit, lalu bablas tidur lagi. Entah berapa jam kemudian bus berhenti lagi, dan yang mau ke toilet dipersilakan. Kata bokap sih, toilet ini kecil doang dan lokasinya persis di pinggir jalan tol. Saya udah nggak sadar darat dan laut. Ngantuknya udah ga ketolong.

Rasanya baru saja terlelap lagi ketika petugas tadi (yang masihgantengwalautampangnyangantuk) membangunkan kami. Ah.. Sudah sampai Bagan rupanya. Jam menunjukkan pukul 5 lewat sekian belas menit. Saya menyerahkan kunci ke petugas bus yang kali ini sudah nongkrong di dalam bagasi (iya.. di dalam bagasi…), lalu dia membuka kunci-kunci tas kami. Tas sudah selesai. Urusan berikutnya adalah nego dengan para calo taxi yang lebih agresif daripada driver taxi di bandara. Sampe keluar taring deh, padahal nyawa masih belum kumpul semua.

Menurut papan yang tertera di terminal, tarif taxi hanya 5000 MMK, tapi si calo keukeuh buka harga 8000 MMK. Katanya hotel kami jauh dari terminal. Setelah nego pakai taring dan ekor, akhirnya cuma bisa turun jadi 7000 MMK doang. Udah gitu dia nawarin apa kami mau lihat sunrise atau ngga. Kalau mau lihat sunrise harus tambah lagi. Untung bokap sadar pagi itu mendung tebal, jadi ngga akan ada yang namanya sunrise. Langsung kami tolak dia mentah-mentah.

Pas kami naik ke taxi dan bertemu dengan driver sebenarnya, si driver juga bilang pagi ini ngga ada sunset. Noh kan.. Huh.. nyaris aja ketipu lagi. Di tengah jalan taxi kami berhenti, inilah yang disebut sebagai pos imigrasi. Disini kami wajib membayar 25.000 MMK sebagai tiket terusannya Bagan yang berlaku untuk lima hari.

Kami tiba di hotel sekitar jam 6 pagi dan disambut oleh pegawai hotel yang sama bingungnya dengan kami.. hehehe.. bagian ini plus perjalanan selama di Bagan kita skip dulu yah. Kita langsung aja ke perjalanan pulang.

Sesuai petunjuk dari si Mbak petugas JJ Express, kami menunggu dijemput di Aung Mingalar Hotel sejak jam menunjukkan pukul 19.15. Kami sudah selesai mandi dan sudah membungkus makan malam (yang akhirnya ludes blas sebelum kami dijemput). Tapi hingga pukul 19.30 belum nampak juga tim yang menjemput kami. Jam terus berputar dan hampir menunjukkan pukul 8 teng. Kali ini resepsionis hotel mulai ikutan galau. Dia bertanya kami naik bus jam berapa. Menurut dia untuk bus jam 9 malam, biasanya akan dijemput jam 20.20. Oo.. baiklah kalau begitu. 

Tim penjemput akhirnya datang pukul 20.15, tepat ketika bokap ada di toilet. Haduuuh…. Jadilah saya panik sendiri minta petugas JJ untuk nunggu sebentar. Si petugas mulai gak sabar dan saya makin panik. Untunglah bokap (setelah digedor dan diteriakin) segera keluar. Si petugas bilang masih banyak yang harus dijemput. Yup.. kami termasuk batch pertama yang dijemput oleh bus. 

Enaknya dijemput pertama itu, kami bisa menikmati suasana Bagan di waktu malam. Apalagi pas jemput penumpang di kawasan Old Bagan. Wuih… beneran bikin spechless dan berkaca-kaca. Sayang ngga bisa motret karena busnya ngebut. Bayangkan aja jemput 30 penumpang hingga pelosok Bagan hanya dalam waktu 45 menit. 

Tepat pukul 21.00 kami tiba di Bagan Shwe Pyi Highway Terminal. Setelah mengurus tiket, bagasi, dan mampir toilet, kami siap-siap tidur nyenyak di atas bus. Kebo mode ON.. Grrrookk… zzzzz… Apalagi botol minum dan snack sudah dibagikan. Coca cola sudah diseruput hingga tandas, mau apalagi selain hibernasi kan?

Pukul 21.24 bus pun bertolak dari Bagan. Nggak seperti petugas pada saat berangkat, petugas bus kali ini senang banget ngasih pengumuman pake mike. Bilingual sih, tapi kami tetep aja ngga ngerti dia ngomong apa. Mau berangkat halo halo, pas sampe di rest area juga halo halo.. Rasanya annoying deh.. Mendingan petugas kemarin yang membangunkan kami satu persatu ngga pake halo halo. 

Setelah dua kali berhenti untuk toilet things, bus pun melanjutkan perjalanan. Singkat cerita, matahari telah bersinar cerah saat saya melek. Yah… udah sampe Yangon dong.. Padahal masih pengen tidur.. Jam menunjukkan hampir pukul setengah tujuh.

Nah.. ternyata bus ngga balik ke pool, tapi masuk ke terminal kedatangan. Nah terminal ini nih yang mirip terminal di Indonesia. Masalahnya kami ga bisa langsung nyambung bus Kyaiktiyo dari sini, tapi tetap aja harus ke poolnya dulu yang ada di Thanintharyi St..  Lagi-lagi kami dikerubuti calo taxi dan bus. Padahal saya udah kebelet banget pengen ke toilet. Akhirnya keluar lagi deh tanduk judes. Bodo ah..  pokoknya saya mau bertapa dulu di toilet, silakan tunggu kalau punya kesabaran ekstra.

Ada satu calo yang masih gigih dan setia menunggu saya selesai bertapa. Setelah negosiasi ngga nyambung untuk beberapa saat, yang bikin saya esmosi jiwa karena lapar, akhirnya kami berhasil mencapai frekuensi yang sama. Oke, 2000 MMK sampai ke pool Win Express. Win Express ini adalah PO bus yang akan membawa kami menuju Kyaiktiyo. Si calo itu mengantar kami naik taxi hingga bertemu kenek bus Win. Oh.. ternyata dia dapet jatah juga dari WIN.. Pantes aja gigih banget.

Alamatnya WIN Express

WIN Express memberikan pengalaman perjalanan yang berbeda dan tak kalah serunya. Ceritanya nanti dilanjut disini ya..

  


One thought on “Catatan Perjalanan Yangon-Bagan-Yangon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s